Seandainya boleh kutawar Akan kubeli dunia Kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya Di mana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku*) Gunung-gunung perkasa menjaga lelapku Laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku
Seandainya boleh kutawar Akan ku ubah dunia Kualirkan krueng Aceh mengitarinya Kuhadirkan lelaki-lelaki penabuh rapa’i*) Mengoyak sepi Kubiarkan anak-anak berkaki telanjang Berkejaran waktu Dan perempuan-perempuan berkerudung sarung Yang tak hentinya bersujud dan mengagungkan Allah
Seandainya boleh kutawar Akan kupentaskan beribu hikayat Antara keperkasaan malahayati*), tjoet nyak dien, teuku umar dan berjuta tubuh yang berbaring menjaga tanah ini (duniapun terpana) tapi sebelum sempat kutawar Tuhan telah menawar hidupku “cukup sampai di sini!” duniapun terbahak, semakin erat menghimpitku
Agustus, 1988
*) rapa’I adalah music perkusi tradisional Aceh *) seorang wanita yang memimpin armada laut kerajaan Aceh tempo dulu, berlevel laksamana