(seperti juga pembicaraan kita tempo hari, Tuhan tidak ada salahnya kalau aku memulai karena toh kau memang lebih suka diam membiarkan aku terus mengobral kata dan mengadilinya diam-diam
terkadang aku jadi ragu apakah diam juga kata apakah diam cukup jadi jawaban ataukah diam adalah diam yang punya satu makna “hukuman buat sang pengadu” entahlah,
diamMu atau riuhku adalah percakapan kita setiap waktu yang tercatat)
Tuhan (kalau masih boleh aku terus menyapaMU seperti itu) kali ini aku tidak punya banyak kisah cukup satu pertanyaan, “mengapa kau biarkan mereka mengotori tanahMu dan nafasku dengan lukisan bertinta merah hitam yang mereka beli dari setan?”
(dan kuharap kali ini kita tidak bicara dalam diamMU sambil menatap mereka melelangnya di kaki lima kepada para kolektor atas namaMu” dan memasang wajah tidak bersalah ketika kau menyapanya karena diam dan kata-kata pun bukan lagi sebuah percakapan buat mereka)