;
Tampilkan postingan dengan label Waria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waria. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Bercinta dengan Waria

Sabtu, 12 Januari 2013


Kejadian ini sudah 3 tahun yang lalu tapi masih sering teringat di benakku. Suatu malam, jam 3 pagi, aku berkeliling di Taman Lawang, saat menikung dari lampu merah kulihat, makhluk indah ini. Tinggi semampai dengan rok mini hitam yang ketat dan memakai atasan kaos putih yang tipis sekali dan ketat. Lekuk-lekuk tubuhnya jelas menerawang dari balik pakaiannya. Aku hentikan mobil lebih kurang 4 meter dari tempat dia berdiri. Dia datang ke depan grand civic-ku, berdiri di depan 1 m dari kap mobil, berkacak pinggang. Terlihat jelas payudaranya dari balik kaos yang super tipis, tidak terlalu besar, namun indah. Tampaknya tanpa bra, dia kemudian memutar ke arah pintu kiri, kubuka pintu lalu dia naik. Namanya Rina. Dia tanya mau ke mana, aku bilang hanya ingin mutar-mutar di dekat sini sambil berkenalan dengan dia. Aku merencanakan keliling sampai ujung Kuningan dan kembali ke Taman Lawang. Dia mengajak ke rumahnya atau ke hotel, aku bilang lain kali saat ini aku hanya kepingin kenalan saja, karena aku sedang tidak "in the mood" untuk "gituan".

Dia bilang, "Yang benar? kamu hanya ingin kenalan." Sambil berkata begitu dia membuka 2 kancing bajuku yang teratas, jemarinya menyelusup ke dalam meraba dadaku, mempermainkan puting di dadaku dengan jarinya. Baru satu kali aku merasakan permainan seperti ini, jemarinya sangat terampil memuntir sampai aku terangsang. Dia melakukan ini mulai dari ujung utara jalan Kuningan sampai balik ke ujung selatannya jalan Kuningan. Sambil mempermainkan puting di dadaku, dia merayu untuk kencan. Mengeluarkan kata-kata, janji tentang nikmatnya kencan dengan dia, dia bilang kita lihat sampai di ujung jalan nanti apakah benar aku tidak berminat untuk mencicipi tubuhnya malam ini. Aku terangsang hebat, kuusahakan nyetir dengan konsentrasi tapi jemarinya tetap menari dan bisikan serta ajakannya membakar tubuhku.

Akhirnya kami kembali ke Taman Lawang dan memarkir mobil di belakang di tempat gelap. Jepitan yang diselingi puntiran dan tarikan-tarikan di puting dadaku makin menggila setelah mobil berhenti. Dia mulai meraba selangkanganku, akhirnya aku buka ritsluiting jeansku. Rani minta aku melepas jeansku semuanya. Jadilah aku masih memakai baju namun telanjang bulat di bagian bawah. Dia meremas kemaluanku yang sudah mengeras sejak tadi sambil jemarinya tetap memberikan rasangan dahsyat ke putingku. Kadang tarikannya terasa agak sakit namun nikmat.

Aku tidak tahan, kuraih dia lalu menciumnya. Kurasakan lidahnya bermain dengan lidahku. Aku pun meraba payudaranya dan selangkangannya. Kami saling pagut dan saling raba dengan nafsu yang memuncak, dia kemudian mengeluarkan penisnya dari balik rok mininya.
Aku bilang, "Stop! Kita cari tempat lain untuk menuntaskan ini."
Dia bilang, "Jangan. Goyang Rani di sini saja Bang. Rani kepingin banget."
Dia tarik bahuku agar pindah ke atas tubuhnya di jok depan kiri yang sudah rebah. Aku terangsang sekali. Takut kepergok orang karena ini public place. Tapi dia rebah dengan penis yang tegak ke atas, dia kocok-kocok sambil bilang, "Ewek Rani Bang... Bang.. Ewek Rani Bang.." Takut kepergok, tapi nafsu kebinatanganku memuncak. Kubuka kondom dan kupasang, langsung menindih tubuh Rani. Penisku memasuki tubuhnya dan kami lupa pada dunia sekitar, aku merajamkan penisku dengan ganas. Dia mengelepar di bawah tindihanku, saling kulum saling gigit, akhirnya kita keluar barengan. Aku keluar, air maninya membasahi perut kami berdua. Pengalaman tergila yang pernah kulakukan.

Waktu selesai sudah jam 4.30. Kuantar dia ke rumahnya di Manggarai dan tidak dapat menolak rayuan dia untuk singgah ke tempat kostnya. Mulanya aku khawatir takut mobilku dikerjain orang, tapi ada keamanan dibayar Rp.10000, mobil boleh parkir di suatu tanah kosong dan di jaga. Tiba di kostnya, wah surprise juga kostnya bagus, seperti paviliun, ada kamar mandi di dalam dan dapur kecil. Kami mandi dan makan Indomie masakan Rina. Lalu ngeseks lagi untuk kedua kalinya. Akupun bolos kerja hari itu.

Awalnya aku berencana tidur setelah makan dan mandi. Saat aku terkantuk-kantuk dia bilang mau dipijitin nggak biar tidurnya nikmat. Aku bilang ya. Dia kemudian mengambil minyak dari lemari, nggak tahu namanya apa tapi baunya harum. Aku disuruh bangun dulu dan dia membentangkan plastik seperti untuk jok mobil yang cukup lebar untuk menutupi ranjang king size-nya, supaya sprei jangan kotor kena minyak katanya. Aku telungkup, dia menuangkan minyak ke telapak tangannya kemudian disapukan ke bahu, dia memijat dari bahu ke punggung. Pijatannya nikmat aku semakin mengantuk kemudian aku disuruh balik telentang, seluruh tubuhku disapu oleh minyak yang harum itu. Bagian-bagian intim tidak luput dari sapuan minyak di jemarinya, kadang geli.

Aku disuruh telungkup lagi dan dia sekarang menuangkan minyak langsung ke punggungku dan memijat punggung, lengan kiri dan kanan tengkuk. Kemudian dia menuangkan minyak di antara kedua bongkahan pantatku, geli rasanya merasakan minyak itu mengalir. Saat antara sadar dan tidak aku tiba-tiba merasakan pijatannya turun ke bokong menyentuh pinggiran anusku, kemudian dia melebarkan pahaku. Aku mulai terangsang, penisku meronta akibat tertindih karena aku telungkup. Nikmatnya saat kedua tangannya meremas bongkahan pantatku dengan sekali-kali jarinya memutar di sekitar lubang anusku.

Saat rangsangan mulai naik mengaliri darahku, aku merasakan satu tangannya lepas tidak ikut meremas bongkahan pantatku. Kenikmatan yang mulai bangkit terasa berkurang. Aku menoleh ke belakang untuk memprotes, ya ampun apa yang kulihat Rani setengah berjongkok dia memijatku dengan 1 tangan sementara tangannya yang lain meremas dan mengocok penisnya yang tampaknya kepalanya bengkak berkilat urat-urat di batang penisnya. Terbayang, aku kepingin memakan penisnya hidup-hidup. Tubuhnya juga sudah mengkilat oleh minyak.
Rani bilang, "Kamu doyan ya? sama waria yang burungnya gede, kamu doyan burungku." Vulgar sekali omongannya bikin aku makin merangsang. Lalu kami tuntaskan permainan seks dengan Rani untuk yang kesekian kalinya.


TAMAT
Oleh: ppsadm@hotmail.com


NAMA ANDA - 10.41

Jumat, 11 Januari 2013

Pengalaman Menjadi Wanita

Jumat, 11 Januari 2013


Cerita Ini terjadi ketika saya baru memasuki awal kuliah saya di sebuah Perguruan Tinggi di Bandung. Nama saya adalah Ronny. Sebenarnya saya berasal dari Jakarta, karena anjuran orang tua, saya disarankan untuk kuliah di Bandung saja. Demi keamanan dan kelancaran kuliah saya, di Bandung saya tinggal di sebuah kost yang tak jauh dari kampus. Di tempat kost tersebut ditinggali oleh cewek dan juga cowok tapi kamarnya berbeda blok jalan (dibatasi oleh sebuah gang yang lumayan lebar).

Waktu saya masuk kuliah di semester satu (saya berumur 18 tahun), saya masih agak canggung karena belum punya kenalan banyak, hingga suatu sore di saat saya selesai kuliah saya berpapasan dengan seorang cewek yang nampaknya lebih tua dari saya, mungkin dia angkatan 97. Dia tampaknya lebih tinggi dari saya, rambutnya sebahu, mukanya cute dan juga putih. Saya memandanginya culup lama, begitu juga dia, tapi kemudian dia beranjak pergi, tanpa berkata apa-apa.

Kemudian saya pulang ke kostku, dan di sana saya beristirahat sejenak. Sore itu saya agak bosan diam di kamar. Kemudian saya pergi ke warnet di dekat tempat kostku, di sana saya mulai mengecek email apa saja yang saya terima seminggu terakhir ini dan saya mulai masuk ke search engine dan mengetikkan kata shemale, bagi yang tidak tahu apa arti shemale itu, shamele sebanarnya berasal dari she + male (atau dalam bahasa Indonesianya lebih diartikan sebagai WaRia). Saya sendiri tidak tahu mengapa, tapi saya selalu tertarik mengenai topik-topik transexual, male to female (cowok yang berubah menjadi cewek), waktu di Jakarta dahulu saya sempat membeli sebuah majalah XXX mengenai transexual, yang berisi gambar-gambar para "cewek" telanjang, "cewek" di sini bukan asli cewek, melainkan cowok yang sudah dirubah menjadi cewek (bisanya menggunakan hormon), atau ada pula yang disebut dickgirl (gadis yang memiliki penis), dan gambar-gambar tersebut biasanya menemaniku setiap hari di dalam WC untuk berfantasi & onani. Tubuh ku sendiri pun tidak seperti kebanyakan cowok, otot tangan dan kakiku kecil, dan juga penisku pun kecil (kalau ereksi hanya 7 cm) dan kalau tidak hanya 2,5 cm, dan bentuk tubuhku pun kecil seperti cewek, sehingga saya merasa tertarik dengan topik mengenai transgender / transexual.

Saat itu ketika saya sedang asyik melihat para "cewek" tesebut di layar PC, tiba-tiba saya terkejut setengah mati, ada seorang cewek yang menyandarkan dagunya di bahu kiri ku, tak sempat saya berkata-kata, dia menoleh dan berkata, "Hi, kamu senang yang kayak gituan yach?", wajahku langsung pucat begitu ditanya, tak kusangka ada orang lain yang mengetahui hobiku yang "aneh" ini, ketika kulihat wajahnya, ternyata cewek yang tadi sore berpapasan denganku. Kemudian dia tersenyum dan berkata, "Lho, ditanya kok diam, kaget yach", sambungnya lagi.
"Oh iya nama saya Lucy, kamu siapa?".
Dengan agak gugup saya menjawab, "Eh, iya nama saya Ronny".
Kemudian dia berkata",Mau nggak kamu nungguin aku sampe aku selesai di warnet ini?, terus nanti pulangnya bareng sama aku?".
Secara spontan saya menjawab, "Oke, Lucy".
Kemudian dia membalas berkata, "Kamu puas-puasin aja dech liat para "cewek" itu!".

Kepalaku sudah tak bisa berpikir lagi, "Apa yang terjadi, belum pernah saya ketemu cewek seperti ini...". Sambil deg-degan saya teruskan browsing gambar-gambar "cewek", tak terasa hingga satu jam berlalu, Lucy yang duduk di sebelahku, memegang tanganku dan berkata, "ayo, kita pulang sekarang...", aku pun berdiri mengikuti Lucy ke kasir, dan membayarnya.

Keluar dari warnet itu ia langsung berkata, "Kita main di kamar kostku, mau nggak?".
Tanpa pikir panjang lagi saya jawab, "Oke, dech".
Lalu saya mengikutinya, yang ternyata tempat kostnya di seberang blok dari tempat kostku. Kemudian saya masuk ke kamarnya, dia pun masuk dan mengunci pintu. Dia langsung membuka kaus ketatnya, dan menyodorkan buah dadanya yang lumayan besar ke depan mukaku, dibalik BH-nya yang berwarna putih, terlihat sangat indah.
Lantas dia berkata, "Kamu mau pake juga, yach?".
Mendengar itu saya terkejut, "Dari mana dia bisa tahu kalau saya adalah seorang crossdresser", pikirku. Belum sempat saya menjawab, ia sudah melepas BH-nya, dan memakaikannya di dadaku, saat itu penisku sudah ereksi dan ujungnya sudah mulai basah.

Kemudian dia memberi isyarat agar saya berbaring di kasurnya, saya menurut saja. Kemudian dengan perlahan dia mulai membuka celanaku dan melepasnya, kemudian CD-ku pun mulai dilepaskanya, kini saya telanjang dan memakai sebuah bra. Tak kusangka, dari balik tangannya dia mengeluarkan stocking berwarna hitam dan mulai memakaikannya di kakiku, "Ah, sungguh nikmat rasanya, pada saat stocking itu terpasang di kakiku", ternyata impianku selama ini menjadi kenyatan, bertemu seorang cewek yang mengerti hobiku.

Kemudian dia mulai memegang penisku yang sudah ereksi sejak tadi, sambil meremas dan mengoyangkannya dia berkata, "Punyamu lucu juga yach, kecil imut", sambil terus mengocoknya. Saya sudah tidak tahan, "Apa yang harus kulakukan", pikirku sambil meikmati saat indah itu. Tiba-tiba ada sebuah benda yang menusuk lubang anal-ku. Oh, ternyata sebuah dildo, mulanya terasa sakit, tapi kemudian begitu ia menariknya dan mendorongya ke dalam, mulai terasa nikmat.

Kemudian saat Lucy sudah mengocok penisku kurang lebih 10 menit terasa ada aliran dari dalam yang mau memancar keluar, "Crott", air maniku langsung mencuat keluar membasahi perut dan juga buah dadanya, nafasku sudah terengah-engah. "Ah, tak pernah kusangka, aku dipermainkan oleh seorang cewek di ranjang".
Tapi tiba-tiba dia berkata, "Ron, sekarang giliran kamu!", aku terkejut mendengarnya.
"Ayo..., aku kan belum nyobain punya kamu", tanpa pikir panjang aku langsung memasukan penisku yang hanya 7 cm itu ke dalam lubang vaginanya dan kupercepat gerakkanku.
Sambil terengah-engah Lucy pun berkata, "Lumayan, sebagai cowok loe juga asik". Sedangakan dildo itu masih berada di dalam lubang anusku dan masih bergetar. Aku pun sama-sama terengah-engah. Sampai kami berdua lelah dan mengakhiri aksi tersebut dan langsung tertidur lelap.

Esok harinya ketika aku bangun, kulihat Lucy sudah berdiri di depan kaca riasnya dan begitu menyadari aku bangun ia langsung berkata, "Hallo Ron, gimana kamu, udah kuat lagi?".
Aku pun beranjak dari tempat tidurnya, seraya mencari pakaianku, tapi tak kudapati. Lucy pun berkata, "Eh, pakaian loe udah gue masukin ke tempat cuci di kost ini".
Mendengar itu aku terkejut dan berkata, "Lho, Luc masak gue harus keluar dari sini telanjang?".
Lalu di berkata, "Tenang aja pakaianku masih ada banyak kok..!", sambil melirik ke arah lemari pakaiannya. Di situ aku baru sadar bahwa aku mau tidak mau harus menuruti kemauannya Lucy. Aku teringat dengan topik "forced feminization" yang aku sering baca di internet, tapi itu juga termasuk ke dalam fantasiku, diperlakukan sebagai cewek. Aku pikir ini kesempatanku mewujudkan fantasiku, tapi tiba-tiba aku baru sadar, aku masih harus kuliah, dan bagaimana bila aku menjadi "cewek", apakah teman-temanku masih mengenaliku? Tapi aku terpaksa, lalu aku mandi dan begitu selasai, Lucy sudah siap untuk merubahku. Langsung saja dalam waktu 20 menit aku sudah menjadi "cewek".

Pagi itu aku memakai jeans warna putih yang lumayan ketat dan sebuah kaus ketat warna pink serta sebuah wig oval. Kemudian dengan beberapa polesan tipis, dia make-up mukaku dan alhasil aku bukan Ronny lagi. Lalu aku mulai memakai sepatu sandal milik Lucy yang berhak setinggi 6 cm (impian terpendam, dari dulu saya ingin sekali memakainya). Setelah selasai aku berdiri, ternyata "keanehanku" terjadi lagi yaitu setiap kali aku menjadi feminim, penisku tidak mau tinggal diam, ia selalu saja ereksi sehingga di balik jeans tersebut menyembul "sesuatu". Melihat itu Lucy mengerti.
"Oh kamu nggak bisa sabar yach", katanya sembari memberiku sewadah pil.
Aku terkejut dan berkata, "Apa ini?".
"Ah pokonya minum aja, dan tahu beres dech, pokoknya loe minum tiap hari, oke!", katanya sembari membereskan tasnya.
Aku menurut saja dan hari itu aku kuliah bersama dengan dia sebagai Venny. Di kelas aku selalu berada di dekatnya sehingga bila ada yang bertanya padaku, Lucy langsung berkata bahwa aku adalah sepupunya.

Tak terasa kini sudah satu setengah tahun aku menjalin hubungan "aneh" dengan Lucy dan kadang-kadang aku kencan dengan dia sebagai Lucy dengan Venny. Kini aku tahu bahwa pil yang kuminum ternyata pil estrogen yang membuatku menjadi tidak cepat ereksi dan lebih feminim. Kini aku bahagia dengan Lucy sebagai seorang male yang -->sexless, tapi aku bersyukur bisa bertemu dengan Lucy.



TAMAT
Oleh: venny_lim@yahoo.com

NAMA ANDA - 08.33

Jumat, 21 Desember 2012

Sang Tukang Pijat

Jumat, 21 Desember 2012


Kisah ini saya ceritakan sebagai pengalaman nyata yang pernah saya alami ketika saya tinggal di Banyuwangi beberapa bulan yang lalu. Ketika itu saya sempat berkenalan dengan seorang tukang pijat yang hidup seorang diri tanpa keluarga di rumah kontrakannya. Kalau anda berminat mengetahui kisah selanjutnya silahkan membaca cerita berikut ini.

Di sekitar tempat tinggal saya ada seorang tukang pijat yang sangat banyak sekali pelanggannya. Setiap hari rumahnya tidak pernah sepi dari pengunjung. Saya sendiri baru tahu dari tetangga yang lain, bahwa ia juga pandai mengobati berbagai macam penyakit dan pandai meramal nasib orang. "Oh pantas pelanggannya banyak..." ujar saya. Mendengar bahwa bapak tukang pijat ini juga punya kepandaian meramal nasib orang, saya jadi punya keinginan juga datang ke rumahnya. "Siapa tahu ramalannya benar..." pikir saya.

Ketika kesempatan nama saya dipanggil oleh asistennya untuk masuk ke kamar kerjanya, tidak terpikir sebelumnya oleh saya bahwa bapak tukang pijat itu orangnya sangat ramah. Melihat tubuhnya yang hitam kekar, berkumis lebat dan berkepala agak botak serta sorot matanya yang tajam, saya mengira bahwa ia orang yang pendiam dan mungkin angkuh.
"Maaf... nama Mbak siapa ya?" ia bertanya pada saya.
"Linda nama saya Pak... kalau nama Bapak siapa?" tanya saya kembali.
"Hasan..." jawabnya singkat.
Kemudian setelah sedikit berbasa-basi dan menanyakan maksud kedatangan saya, Pak Hasan menyatakan bahwa ia sangat senang mendapatkan tetangga baru seperti saya. Kebetulan memang saya baru beberapa hari ini mendapatkan rumah kontrakan di daerah tersebut. "Mbak Linda punya usaha salon ya..." katanya sambil matanya tertuju ke belahan payudara saya yang agak membusung. Dan memang saya akui bahwa saya termasuk waria yang paling suka berpakaian sexy dan lebih senang kalau ada yang memperhatikan. "Betul Pak... memangnya kenapa Pak?" kata saya sambil membetulkan kancing paling atas dari baju saya yang sebelumnya terbuka.
"Mau saya ramal apanya nih...?" katanya menggoda sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
"Ya apa saja Pak... usaha bisnisnya, atau masa depannya atau jodohnya gitu lho Pak Hasan..."
"Ya... ya.. saya tahu itu... tapi Mbak Linda harus tahu juga kalau mau diramal harus ada syaratnya..." ujarnya lebih nakal karena matanya sudah berani dikerdipkan ke wajah saya dan tangannya yang besar serta berbulu lebat mulai berani menyenggol payudara saya.
"Ah.. jangan begitu ah Pak... Bapak minta bayaran berapa saja pasti akan saya kasih, yang penting ramalannya memang benar Pak..." jawab saya.
"Tapi betul nih... Mbak Linda nggak bakalan marah kalau syaratnya saya ungkapkan...?" katanya meyakinkan.
"Benar Pak, berani sumpah... saya nggak akan marah kok... lha wong saya yang butuh kok..." jawab saya tidak kalah meyakinkan.

Kemudian secara terus terang dia mengatakan kepada saya bahwa dirinya sangat suka terhadap waria. Apalagi waria yang cantik dan montok seperti saya. Dengan pakaian yang sangat mini dan bagian atas pundak yang terbuka sehingga lebih menonjolkan kedua payudara saya itu, ditambah dengan dandanan saya yang sangat sensual membuat Pak Hasan sangat ingin mencicipi kemolekan tubuh saya katanya. Waktu tanpa sadar saya menyibakkan rambut yang tergerai sampai di pundak dengan kedua tangan saya, ia melihat kedua belah ketiak saya.
"Wah bulu ketek Mbak Linda lebat juga ya... jadi pingin jilat nih.." katanya tambah nafsu.
"Ah... Pak Hasan bisa saja," ujar saya salah tingkah.

Dan yang membuat saya jadi tambah deg-degan adalah ucapannya yang menyatakan bahwa ia paling suka menyetubuhi waria dengan terlebih dahulu mempermainkan sekujur tubuh si waria itu di atas tempat tidur. Sedangkan si waria harus tidur terlentang di atas tempat tidur dalam keadaan terikat kedua tangannya. Walaupun belum pernah mengalami dan merasakan berhubungan seks seperti itu, saya jadi "horny" juga waktu Pak Hasan tanpa malu-malu memelorotkan celana panjang dan celana dalamnya untuk memperlihatkan kemaluannya yang hitam panjang dan berurat. "Nih kalau Mbak Linda mau.. nanti saya kasih emut kontol saya yang besar ini..." Dan akhirnya karena tidak tahan melihat kemaluan yang perkasa seperti itu, saya pun tidak dapat menolak dorongan nafsu yang sudah berkecamuk di dalam diri saya untuk dapat merasakan nikmatnya disetubuhi oleh orang segagah Pak Hasan.

Acara "ritual" yang Pak Hasan rencanakan pun dimulai dengan mempersilakan saya berbaring di atas tempat tidur satu-satunya di kamar itu yang biasa dipakai oleh Pak Hasan memijat pasien-pasiennya. Kemudian kedua tangan saya diborgol ke atas dengan borgol seperti milik polisi yang sepertinya memang sudah dipunyai Pak Hasan sebelumnya. Waktu itu jam dinding menunjukkan pukul 21:30. "Wah kebetulan Mbak Linda adalah tamu saya yang terakhir, jadi kita bisa main sampai pagi..." ujarnya senang. Ketika semuanya sudah beres, yang dilakukan pertama kali terhadap diri saya adalah mencium bibir saya yang sedikit tebal. Pak Hasan melakukannya dengan penuh gairah dan nafsu yang membara. Dia gigit lidah saya dan saya pun membalasnya dengan antusias. Dicium dalam keadaan terikat adalah pengalaman pertama tapi anehnya saya merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika diperlakukan seperti itu. "Ah... ah... Pak Hasan... enak Pak... enak Pak," kata saya ketika dengan sedikit kasar dia mulai membuka BH yang saya kenakan dan ia dengan lebih semangat mulai mencium dan mengisap serta menggigit nakal kedua payudara saya secara bergantian. "Wah tetek Mbak Linda besar juga ya... Mbak saya perkosa ya Mbak..." katanya mulai ngelantur.

Sambil terus meremas-remas payudara saya, Pak Hasan pun tak lupa menciumi ketiak saya yang memang berbulu lebat. "Wuih baunya merangsang banget deh ini ketek..." katanya sambil terus menciumi ketiak saya. Setelah puas meniciumi ketiak, perhatian Pak Hasan beralih kembali ke kedua payudara saya dan mencium serta menggigitnya dengan lebih gemas lagi. Saya cuma bisa menahan nafsu yang luar biasa saat itu apalagi sekarang ini ditambah dengan jari tengah tangan kanan Pak Hasan mulai digesek-gesekkan dan sesekali dimasukkan ke lubang pantat saya. "Ah... ah... ah... jangan Pak... enak sekali... jilat dong Pak pantat saya Pak..." kata saya mulai lupa daratan. Namun sebelum permintaan saya itu dilakukan, dia dengan paksa mulai naik ke atas dada saya dan memasukkan kemaluannya ke mulut saya. "Ayo isep yang enak kontol saya ini... awas kalau nggak enak ya... nanti nggak akan saya lepas ikatan di tanganmu ini... sedot sampai licin ya!" katanya. Ketika saya emut dan sedot kemaluannya dalam-dalam kepala Pak Hasan tertengadah ke langit-langit kamar itu sambil tak henti-hentinya berkata, "Terus... terus... terus sedot... terus sedot Mbak... enaaaak... wah... enak betul sih Mbak mulut kamu..."

Sementara keringat mulai bercucuran di seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian sebelum mencapai puncak orgasmenya, Pak Hasan langsung turun dari atas tubuh saya dan sekarang perhatiannya dialihkan kepada lubang pantat saya. Dibukanya kedua paha saya lebar-lebar sehingga lubang pantat saya terlihat dengan jelas di matanya. "Wah... sepertinya Mbak Linda masih perawan ya... sempit sekali nih silitnya, sebelum saya entot, saya jilat dulu ya silit Mbak... emhh... merangsang sekali sih". Tubuh saya terasa terbang di awan ketika lidah Pak Hasan dengan lincah menyisir seluruh permukaan lubang pantat saya. "Aaahhh.. enak Pak... aaahhh.. masukin dong kontolnya Pak... cepetan dong... udah nggak tahan nih..." ucap saya dengan tidak sabar.

Akhirnya saat-saat yang saya tunggu pun tiba. Pak Hasan dengan sabar membimbing kemaluannya untuk dapat dimasukkan ke lubang pantat saya. "Pelan-pelan ya Pak... biar nggak sakit..." pinta saya. "Tenang aja Mbak, saya sudah pengalaman kok..." jawab Pak Hasan. Setelah dioles-oles dengan cream dan sedikit air ludah Pak Hasan maka lubang pantat saya jadi terasa agak licin. Kemudian "Bles... bleesss... bless..." secara perlahan kemaluan Pak Hasan masuk dengan mantapnya. Ketika sudah sampai di dalam lubang pantat, terasa geli yang luar biasa di sekujur tubuh saya. Apalagi ketika Pak Hasan melakukan kocokan-kocokan yang teratur sembari menciumi payudara dan ketiak saya serta terkadang memasukkan jarinya ke mulut saya yang menimbulkan rasa nikmat yang laur biasa.

"Terus Pak... terus Pak... ahhhh... enakkk... enak sekali Pak... kocok terus... Pak..." kata saya makin lupa diri. "Aduh Mbak... silit kamu sempit sekali sih... kontol saya jadi pingin cepet muntah nih... aduh enaaak ya Mbak..." ujar Pak Hasan tidak kalah gilanya. Akhirnya kurang lebih 15 menit kemudian tiba-tiba tubuh Pak Hasan menegang, keringatnya makin bercucuran dan dari mulutnya keluar kata-kata yang nggak jelas, "Mmmaaahhhf... mmmaahhff... aduh saya nggak kuat nih... mau keluaaar..." dan tak lama kemudian setelah kocokan terakhir yang sangat kuat "Cret... cret... cret... cret..." terasa cairan hangat di lubang pantat saya dan Pak Hasan pun akhirnya merasakan orgasme dan lantas jatuh lunglai di atas tubuh saya sambil berkata, "Enak ya Mbak...!"


TAMAT
Oleh: deli@centrin.net.id


NAMA ANDA - 09.35