;
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Saat-saat Indah Bersama Anggie

Minggu, 20 Januari 2013


Nama saya Don, kini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Cerita ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah menyelesaikan Ujian Akhir Semester, saya pulang ke Jakarta dengan KA Parahyangan. Perjalanan berlangsung lancar, dan sesampainya di Stasiun Gambir, saya langsung berjalan menuju halte bus di seberang stasiun untuk menunggu bus Steady Safe ke arah rumah saya. Di halte bus, saya melihat seorang cewek SMA yang seksi, putih mulus dan cantik sekali serta mempunyai payudara yang bisa membuat setiap laki-laki menelan ludah. Pokoknya boleh dibilang, cewek seperti dia di kampus saya tidak bakal ketemu deh. Maklum deh, di kampus saya mayoritas mahasiswanya cowok, apalagi di jurusan saya. Tanpa berpikir panjang, saya pun berkenalan dengan cewek itu. Namanya Anggie, dan karena bus jurusan ke rumah saya sudah datang, saya pun langsung memberi alamat kos saya di Bandung beserta nomer teleponnya.

Keesokan harinya saya bersama ibu dan adik saya berlibur ke Singapore selama 4 hari. Kami menginap di Orchard Parade Hotel. Di Singapore, karena berbeda dalam hal selera berbelanja, saya berjalan sendiri, sedangkan ibu dan adik saya berjalan berdua. Liburan itu hanya saya isi dengan berjalan keliling Singapore sendirian mulai dari Orchard sampai Bukit Batok, semua daerah saya datangi. Setelah 4 hari kami balik ke Jakarta, dan keesokan harinya saya langsung ke Bandung untuk persiapan berangkat Kerja Praktek ke luar pulau.

Pada saat saya tiba di kos saya di Bandung, saya mendapat surat kiriman dari Anggie, yang intinya menanyakan kapan saya main ke Jakarta lagi. Keesokan harinya saya langsung balik ke Jakarta lagi, meskipun ibu saya sampai bingung kenapa nih anak bolak-balik Jakarta-Bandung. Malamnya saya menelepon Anggie dan kami janjian ketemu di depan sekolahnya di kawasan Gambir.

Keesokan harinya kami pun bertemu sesuai dengan janji kami. Langsung saja kami meluncur ke Blok M Plaza. Dalam perjalanan itu, Anggie berulang kali meletakkan tangannya di paha kiri saya. Saya pun langsung terangsang, meskipun saat itu saya berpura-pura cuek saja. Karena saat itu saya memakai jeans, ereksi tersebut membuat saya agak kesakitan. "Ntar lagi dong, Nggie..., sakit banget nih". Anggie pun menghentikan rangsangannya sambil tersenyum menertawakan sakit yang saya rasakan. Sampai di Blok M kami pun berjalan keliling plaza sambil bergandengan tangan. Setelah sekitar 2 jam, kami kembali ke mobil.

Sesampainya di mobil, saya menyuruh Anggie agar dia duduk di kursi belakang saja dengan alasan untuk bercerita dulu. Sambil bercerita tiba-tiba Anggie meminta saya memangkunya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, langsung saja tangan saya membelai rambutnya, meremas payudaranya, namun pada saat tangan saya meremas kemaluannya, tiba-tiba Anggie berbalik dengan agresifnya dan langsung saja tangan kanannya masuk ke dalam CD saya. Kontan saja saya tak berdaya dibuatnya.
"Don, asyik nggak Don..?", bisik Anggie sambil mencium bibir saya.
"Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..", balas saya sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.

Lalu kedua tangannya membuka retsleting jeans-ku serta CD-ku sehingga saya tinggal mengenakan T-Shirt saja. Merasa terpojok, langsung saja saat itu juga saya "menggeledah" seragam SMA Anggie, mulai dari pakaian dan BH-nya, namun saya masih ragu-ragu untuk membuka roknya. Tangan kami saling berebutan meremas-remas "jantung pertahanan" lawan sedangkan lidah kami saling berciuman dan menjilat-jilat lidah lawan. Tanpa terasa batang kemaluan saya mulai mengembang tegak penuh rangsangan. Don.., jangan kasar dong..!", kata Anggie kepadaku.

Pada saat tanganku masuk ke CD-nya, terasa mulai banyak cairan yang baunya baru pertama kali saya rasakan. "Ehggg.., ehhggg.., Don.., saya ingin jilat anu kamu Don.., cepet Don..!". Tanpa berpikir panjang langsung saya arahkan batang kemaluan saya ke mulut Anggie dan dia pun langsung menikmatinya meskipun agak kewalahan juga.
"Nggie siap-siap Nggie.., gue udah mau keluar nih.."
"Ntar Don.., jangan dulu..", kata Anggie sambil menutup matanya.
Tapi saya sudah tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Langsung saja saya menggenjot batang kemaluan saya dengan kencang sehingga mobil tempat kami "praktikum" bergoyang lumayan hebat. Untung saja orang dalam mobil di samping sedang asyik berbelanja.

Pada saat itu tangan Anggie langsung memeluk pantat saya, dan jari-jarinya sekali-kali meremas biji peler saya. Saya pun terus menambah genjotan saya sampai optimum sehingga Anggie terpaksa setengah menggigit senjata saya agar tidak lepas. "Mmhhh.., mmhhh.., mhuuhhh..", seakan-akan Anggie menelan ludahnya sehinga saya merasa semakin bergairah. Dan tak lama kemudian, "Crot.., ccrrottt.., crottt.." Sperma saya keluar dan langsung ditelan Anggie sambil menjilat-jilat batang kemaluan saya.

Kami pun terkulai lemas untuk beberapa saat, karena melihat satpam Blok M Plaza berjalan ke arah kami, maka kami segera memakai kembali pakaian kami masing-masing, meskipun dalam hati kecil saya merasa belum puas karena belum sempat mengulum payudara dan liang kenikmatan Anggie. Namun Anggie merasa puas sekali dengan permainan yang baru kami lakukan. Kami pun meninggalkan Blok M Plaza untuk mengantar Anggie ke arah rumahnya di kawasan Jakarta Timur.

Dalam perjalanan ke rumah Anggie, saya melihat ada satu kompleks perumahan yang lumayan sepi. Langsung saja saya membelokkan mobil saya ke arah kompleks itu, Anggie pun kebingungan. Kami berhenti di bawah sebuar pohon yang rindang di daerah yang sepi dari kompleks itu.
"Nggie.., gue masih ingin Nggie..", bisik saya ke telinga Anggie.
Langsung saja saja cium bibir dan pipinya, hingga pipinya kemerah-merahan akibat saya cupang. Kemudian ciumanku turun ke leher dan akhirnya sampai juga di payudaranya.

"Toket loe oke punya Nggie..", ujarku.
Anggie yang sedang mendesah berusaha tertawa ringan mendengar pujianku.
"Rudal kamu juga lumayan kok Don..!", balas Anggie.
Saat itu kedua tangan Anggie hanya bisa memeluk punggung saya karena tidak berdaya menahan ciuman dan bahkan sesekali gigitan saya.
"Nggie.., loe nungging deh Nggie..", ajak saya.
Anggie pun menurut saja. Dari belakang saya arahkan batang kemaluan saya ke liang kenikmatannya sedangkan tangan saya meremas kedua payudaranya dan kaki saya menjepit kakinya. Tampak Anggie kegelian merasakan bulu-bulu kaki saya yang menjepit kakinya yang mulus itu. Tangan Anggie pun tampak tidak mau kalah, dia arahkan kedua tangannya ke punggung saya sehingga kami berdua menyatu erat sekali.

"Oke Nggie.., udah siap say..?", tanyaku mengingatkan Anggie yang masih mendesah.
"Mulai aja Don.., sapa takut..", jawab Anggie penuh percaya diri.
Mulailah saya lakukan gesekan-gesekan ringan yang membuat Anggie sesekali mendesah keras. Mobil pun kembali mulai bergoyang hebat.
"Tahan yah Nggie.., pasti enak kok..", rayu saya padanya.
"Iya Don.., saya tahan kok Don..", sahutnya.
Tanpa terasa keringat di punggung saya terasa begitu panas sehingga mengganggu "praktikum" kami.

Agar bisa sambil berciuman, saya membalikkan kepala Anggie ke belakang sehingga kami tetap bisa sambil berciuman dengan penuh nafsu birahi. Saya sadar bahwa gaya ini merupakan gaya egois saya karena semua onderdil saya dapat menikmati onderdil Anggie, sedangkan Anggie hanya bisa berciuman, itu pun kepalanya berbalik arah. Sesekali agar Anggie tidak mendesah begitu keras, saya cubit pahanya sehingga dia tersenyum ringan.
"Ayo Nggie.., lawan saya Nggie", tantang saya sombong pada Anggie.
Anggie pun seakan-akan tak mau kalah, payudaranya mulai mengeras dan liang kenikmatannya mulai mengeluarkan cairan, namun ciumannya seakan-akan mulai mengalahkan ciuman saya. Saya pun mulai kewalahan sekalipun posisi badan saya lebih menguntungkan.

"Oke Nggie.., mulai lagi yaa sayang..", bisik saya.
"Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..", teriak Anggie seolah-olah ingin lebih merasakan kenikmatan.
Kami pun bercinta dengan gaya kucing di dalam mobil. Genjotan yang saya lakukan semakin bertambah keras dan kencang sehingga Anggie seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. "Ahhh.., ahhh.., ahhh.., auuhhh..", terdengar sayup-sayup genjotan saya pada liang kenikmatan Anggie. Dan saya pun mulai merasakan bahwa permainan sudah mau berakhir.
"Don.., enak Don.., tambah lagi Don.., lagi sayaang.., lagiii..!", teriak Anggie lumayan keras. Dan akhirnya, " Crot.., croott.., crooot.., crooottt", keluarlah cairan yang begitu banyak sehingga permainan berakhir sambil kami tetap terus berciuman. Kami pun tertidur lagi, dan karena sudah lumayan malam saya mengantar Anggie pulang ke rumahnya.

Sampai di rumah Anggie kira-kira jam 11 malam. Saya tidak tahu apa yang dikatakan Anggie kalau orang tuanya menanyakan dari mana saja. Pakaian seragam Anggie begitu kusut bahkan ada beberapa tetes sperma saya yang mengenai rok SMA-nya. Saya pun pulang ke rumah dan tiba di rumah sekitar jam 11.45. Untung semuanya sudah tidur tinggal pembantu yang membukakan pintu. Di dalam kamar tidur saya merenung, menangis tapi puas betul, pokoknya semua perasaan bercampur baur.

Keesokan harinya saya hanya menelepon Anggie, menanyakan kabarnya. Saya berpamitan lewat telepon karena besok harus balik ke Bandung dan selanjutnya berangkat Kerja Praktek. Anggie menanyakan jam keberangkatan saya.

Keesokan harinya tepat saat berada di lantai atas stasium Gambir saya kaget setengah mati, ternyata ada cewek cantik berseragam SMA menunggu di pinggir kereta Parahyangan. Anggieee..!
Kami pun berciuman di depan umum, kontan semua orang heran melihat gelagat kami, kami lupa kalau ini sudah bukan di dalam mobil lagi.

Anggie pun mengantarkan saya meletakkan tas saya di dalam kereta. Dan kami hendak kembali ke luar kereta untuk sekedar ngobrol-ngobrol. Saat melewati toilet KA Kelas Eksekutif karena melihat toilet kosong, otak saya langsung "berpikir efisien" lagi. Segera tangan saya menyambar tangan putih Anggie sehingga kami berdua masuk ke toilet yang sempit itu.

"Nggie.., loe masih mau gue cium nggak Nggie", tanya saya.
"Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu", jawabnya.
Kami pun berciuman di toilet itu lama sekali dengan tangan saling memeluk mengingat keterbatasan waktu untuk bermain lebih lama lagi.

Tiba-tiba ada yang mengetuk keras-keras pintu toilet sehingga kami berdua sangat panik.
"Don.., entar aja Don.., rapiin baju dulu!", kata Anggie.
Kami pun saling merapikan baju kami, dengan deg-degan kami keluar dari toilet. Langsung saja si pengetuk pintu berteriak, "Busyet dah nih orang.., ke WC barengan..!". Kami pun panik sambil pura-pura tidak mendengar padahal banyak sekali orang yang melihat kejadian itu.

Kereta pun berangkat ke Bandung. Kami hanya bisa saling memandang saat kereta mulai bergerak seakan-akan masih belum puas atas hasil kerja keras kami. Sesampainya di Bandung saya masih sering melamun di kamar kos bahkan di kampus, seandainya saat ini Anggie menari bugil di depan saya. Kami pun hanya saling telepon, terlebih lagi pada saat saya kerja praktek di luar pulau.

Sekembalinya kerja praktek, saya pernah hendak membeli koran di dekat tempat parkir motor di kampus. Tanpa sengaja ada anak remaja cewek yang membeli sebuah majalah remaja. Saya mencuri-curi melihat isi majalah tersebut saat cewek itu sedang membaca majalah tersebut. Ya Tuhan.., ternyata Anggie menjadi profil di halaman muka majalah itu. Malamnya saya interlokal ke Jakarta menanyakan hal tersebut. Ternyata hal tersebut sudah berlangsung lama, Anggie memang seorang model di majalah tersebut bahkan pernah membintangi iklan bedak di televisi (sekarang tidak lagi). Saya saat itu merasa bingung sendiri, mengapa baru tahu sekarang, maklumlah meskipun di kos-kosan saya ada televisi namun kalau ada iklan saya tidak terlalu memperhatikannya.

Sekarang ini sudah setahun kejadian itu berlangsung. Kalau saya sedang di Jakarta, seringkali saya menelepon Anggie dan menjemputnya, namun kami tidak melakukan seperti yang sudah-sudah. Kami "hanya" beradu ciuman di tempat parkir Mall (paling sering Pondok Indah Mall). Yang kalah dalam adu ciuman harus mentraktir di sebuah restoran Itali di PIM. Skor sampai dengan saat saya mengetik tulisan ini masih 3-2 untuk keunggulan Anggie. Doakan agar saya dapat menyamakan kedudukan.


TAMAT
Oleh: paragon@astaga.com


NAMA ANDA - 01.20

Email Affair


Seperti yang para pembaca telah ketahui lewat kisah nyata saya bercinta dengan anjing dan pengalaman saya sewaktu naik bis di Italy, sekarang saya akan menceritakan apa yang terjadi setelah saya mengirim kisah-kisah saya itu lewat 17Tahun.com.

Tak lama setelah saya mengirim kisah nyata saya itu, saya banyak menerima kiriman e-mail dari para pembaca yang menyukai kisah saya dan banyak dari mereka yang ingin bercinta dengan saya sehingga terus terang saya sering bermasturbasi sambil membaca e-mail mereka satu persatu dan tentunya saya membuka e-mail saya ketika Erick tidak ada di rumah.

Diantara e-mail yang saya terima, saya mengenal satu cowok Indonesia yang kebetulan membaca kisah saya dan dia juga berada di Roma, Italy. Nama cowok itu adalah Herman Irwanto. Karena dia berada di Roma, maka pada suatu kesempatan ketika Erick berada di luar rumah, saya mengajak Herman untuk datang main-main ke rumah saya. Herman Irwanto adalah seorang pemuda yang cukup tampan, tingginya sekitar 180 cm dan memiliki perawakan yang sedikit mirip dengan bule. Menurut pengakuannya, dia masih keturunan orang Italy makanya perawakannya mirip seperti bule. Sewaktu dia datang ke rumah saya, dia melihat si Polly yang berada di dalam kandang dan dia langsung tersenyum kepada saya karena dia mengetahui apa yang saya lakukan bersama Polly sebelum dia mengenal saya.

Saya sebenarnya mengenal dia hanya karena keisengan saya menjawab e-mail Herman yang berada di mailbox saya. Keisengan dan kata-kata "ngeres" saya kepada Herman membuat dia semakin ingin bertemu dengan saya dan akhirnya karena saya membutuhkan kehangatan sewaktu kekasih saya tidak ada, saya memberikan alamat kepada Herman yang kebetulan berada di Italy. Sehingga 1 hari setelah perkenalan saya dengan Herman lewat Hotmail, saya kemudian mengajaknya datang ke rumah saya disaat Erick tidak ada di rumah.

Kemudian saya mengajaknya masuk ke rumah saya yang lumayan besar. Herman duduk di ruang tengah sementara saya menyiapkan air sirup untuknya. Ketika saya sedang menyiapkan sirup untuknya, tiba-tiba saya merasakan ada pelukan di belakang saya dan saya baru menyadari bahwa Herman sudah ada di belakang saya dan dia menciumi leher saya yang jenjang. Ciumannya yang lembut membuat nafsu erotis saya bangkit kembali dan dengan gerakan refleks saya langsung berbalik ke arahnya dan langsung mencium bibirnya. Saya langsung memainkan lidah saya di dalam mulutnya sementara tangan Herman sedang mengusap-usap paha saya dan dilanjutkan bermain di balik rok saya. Dengan tenangnya, Herman melepaskan celana dalam saya dan menggendong saya ke dalam kamar saya. Saya masih terus mencium bibir Herman.

Sewaktu di ranjang, saya hanya diam saja sewaktu Herman menelanjangi saya. Sewaktu saya sudah tanpa busana, Herman membuka pakaiannya sehingga saya bisa melihat sosok laki-laki macho di depan saya. Saya sempat menelan ludah melihat batang kemaluannya yang berukuran 23 cm yang lebih besar beberapa cm dari batang kemaluan Erick dan tentunya lebih besar dari Penis Polly.

Dengan tangkasnya, Herman langsung mendekati liang kenikmatan saya dan dengan tangkasnya dia langsung menjilati liang kenikmatan saya. Klitoris dan bibir kemaluan saya disapu bersih oleh lidahnya dan hal ini membuat saya menjadi gemetaran karena menahan kenikmatan yang tiada tara ini. Saya kemudian mendorong kepala Herman supaya lebih semangat memainkan lidahnya di kelamin saya dan selain itu, saya sudah hampir mendekati klimaks yang begitu saya impikan selama ini. Jilatan-jilatannya yang ahli akhirnya membuat saya menyerah, kemudian secara tiba-tiba saya jepit kepala Herman sehingga dia susah bernafas. Saya merasakan sesuatu yang maha dasyat yang keluar dari liang kenikmatan saya. Cairan saya banyak sekali dan langsung disapu bersih oleh Herman dengan lidahnya sehingga nafsu seks saya menjadi bangkit kembali karena ulah Herman ini.

Kemudian Herman menghentikan permainan oralnya dan dia mulai mengacungkan batang kemaluannya yang semakin besar sehingga membuat saya menelan ludah berkali-kali karena saya yakin sebentar lagi saya akan menikmati kenikmatan yang tiada tara dari batang kemaluannya yang maha besar itu. Sambil berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang kenikmatan saya, dia menjilati payudara saya yang semakin mengeras karena nafsu saya tersebut. Payudara saya ini habis dilumat oleh mulut dan permainan lidahnya, sementara batang kemaluannya berhasil menyeruak masuk ke dalam liang kenikmatan saya sehingga saya menjadi blingsatan sewaktu batang kemaluannya menguasai liang kenikmatan saya. Herman terus-menerus menekan tubuh saya dengan batang kemaluannya di dalam liang kenikmatan saya sementara tangannya sudah aktif dan mengelus-elus payudara saya yang mulai mengeras.

Kemudian dengan tenaganya yang luar biasa, dia menggendong saya secara mendadak sehingga secara refleks, saya juga menyilangkan kaki saya yang cukup panjang ke belakang punggungnya. Sambil terus mengocok batang kemaluannya di dalam liang kenikmatan saya, dia menggendong dan membawa saya ke ujung dinding kamar saya. Saya bersandar pada dinding sementara tubuh saya masih berada dalam gendongannya. "Ohhh.. nikmattt.. sekali", para pembaca, Herman benar-benar membuat saya semakin menyukai permainan seks ini.

Sambil terus menggenjot saya, dia berkata kepada saya "Florence sayang, mana yang lebih enak bercinta dengan Herman atau dengan Polly?" dan saya menjawab sambil mendesah, "Arrrgghhh... sama Hermannn.. ehmmm.." dan sehabis saya mengucapkan kata-kata itu, mulut saya habis dilumat oleh mulutnya dengan kasar, kemudian Herman menurunkan saya dan menyuruh saya untuk telungkup di ranjang. Setelah saya membelakanginya, Herman dengan cepatnya memasukkan batang kemaluannya yang sudah berkilat karena bercampur cairan kewanitaan saya ke dalam anus saya. Tentunya saya merasa kesakitan karena terus terang saya belum pernah melakukan anal seks. Tetapi ketika batang kemaluan Herman menusuk-nusuk lubang dubur saya, saya merasakan sesuatu sensasi yang sungguh susah dilukiskan oleh kata-kata.

Herman sepertinya tidak perduli dengan apa yang dia lakukan karena dia terus-menerus menggenjot tubuh saya dengan batang kemaluannya yang besar itu. Herman menggenjot tubuh saya sambil tangannya meremas payudara saya sehingga saya semakin berteriak tidak karuan.

Tidak lama kemudian, Herman mengeluarkan batang kemaluannya kembali dan dia langsung tiduran di ranjang. Saya mengerti apa maksudnya, saya langsung bangkit dan kemudian duduk di atas tubuhnya. Saya mengarahkan rudalnya untuk masuk ke dalam liang kenikmatan saya. "Blesss", masuklah batang kemaluannya yang besar dan saya mulai menggoyang-goyangkan tubuh saya ke atas dan ke bawah sambil saya meliuk-liuk membentuk suatu sillhoute. Sambil terus menggenjot tubuh Herman, saya memencet payudara saya. Hingga tidak berapa lama, saya merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam liang kenikmatan saya dan saya yakin bahwa saya akan mencapai masa orgasme sehingga saya berteriak kepada Herman dan saya mengaku kepadanya bahwa saya akan keluar.

Herman semakin mempercepat gerakannya sambil tangannya memeluk saya dengan kencang. Desakan batang kemaluan Herman yang panjang di dalam liang kenikmatan saya akhirnya membuat saya mengeluarkan suatu cairan keindahan dan saya bergetar hebat untuk beberapa menit dan sewaktu saya sedang menikmati tiap menit kenikmatan ini, saya kembali sadar bahwa Herman tidak boleh menembakkan spermanya di dalam liang kenikmatan saya karena saya takut hamil. Akan tetapi karena saya begitu nikmatnya sehingga saya lupa untuk memperingatkan Herman dan akhirnya Herman menembakkan cairan kentalnya lewat rudal privatnya ke dalam liang kenikmatan saya sehingga saya kembali merasakan sensasi yang luar biasa ketika spermanya membasahi liang kenikmatan saya. Herman kembali mencium saya sambil berkata, "Lain kali jika mau bercinta, jangan sama Polly, kamu bisa telpon saya", dan setelah itu saya istirahat dalam pelukannya dan saya mencium keningnya karena saya suka atas permainannya.

Inilah kisah nyata saya sewaktu Erick tidak ada di rumah dan setelah saya mengirim kisah saya bersama Polly. Kiriman e-mail dari para peminat seks akhirnya berhasil membuat saya mencapai masa klimaksnya dan saya semakin ingin menemui para fans-fans saya yang telah mengirimkan E-mailnya kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada para fans saya, 17Tahun.com yang telah memuat kisah saya serta kepada Herman Irwanto yang telah memuaskan saya.


TAMAT
Oleh: florence_kim@hotmail.com


NAMA ANDA - 01.20

Karena Cinta, Bukan Nafsu Semata


Aku seorang musisi amatir, dan berdomisili di Yogyakarta. Pacarku, Rani tinggal di Jakarta, dan kami sudah 3 tahun berhubungan antara serius dan tidak. Maksudnya kami serius pacaran, tapi kami sudah berkomitmen untuk sementara tidak terlalu terikat, karena kami yakin keterikatan akan menyebabkan kami tidak bisa menikmati hidup muda kami. Karena tempat tinggal kami berjauhan, jadi hanya sesekali saja aku bertemu muka dengan Rani. Kalau pas liburan, Rani kadang menjengukku ke Yogya, dan sebaliknya. Nah, saat-saat seperti itulah, cerita ini terjadi.

Saat itu aku sedang mengutak-atik not di piano elektrik temanku yang ditaruh di studio latihan di rumahku. Tiba-tiba suara piano itu jadi keras sekali, membuatku kaget setengah mati. Aku sempat merinding, habis kan setahuku di rumah nggak ada orang. Jadi siapa dong yang membesarkan volume piano di ruang mixer? Dengan segan aku mengintip ke ruang mixer. Ruangan itu gelap sekali, cuma kelihatan lampu-lampu mixer dan sound processor saja. Pelan-pelan kuperiksa mixer-nya, ternyata memang volumenya besar sekali. Saat itu aku bingung tentang siapa yang membesarkan kalau bukan hantu, tiba-tiba ada sesuatu yang melompati punggungku dan langsung saja membekap mulut dan mataku. Refleks saja aku menyikut penyerang itu, kena perutnya. Dia jatuh, dan langsung kupiting tangannya sambil aku menyalakan lampu. Ya ampun, ternyata Rani yang mengisengi aku. Dia memakai jaket hitam, dan jeans ketat hitam juga. Matanya basah dan mukanya mengernyit kesakitan. Langsung kubangunkan dia sambil menggotong dia ke ruangan studio yang berkarpet tebal. Kubaringkan di karpet sambil mengusap keringatnya yang keluar sambil menahan rasa mualnya kena sikutku tadi.

"Aduh Rani, ngapain sih kamu ngagetin aku kayak gitu?" Sambil menahan tangisnya, "Kamu ini bukannya nolongin malah nyalahin aku. Makanya liat-liat dulu, baru gebuk. Untung nggak kena ulu hati. Kalau kena, pasti deh kamu seneng kalau aku mati, kehabisan napas. Biar kamu bisa cari yang lain kan." Busyet nih anak cantik, lagi kesakitan sempat juga bercanda. Jelas saja dong aku tersenyum. "Aduh maafin aku ya sayang. Kamu juga sih, datang nggak ngasih kabar dulu. Kapan sampai di Yogya? Kok bisa masuk ke dalam? Kan pagarnya aku kunci", kataku. "Aku mau ngasih kejutan sama kamu. Aku sampe di Yogya tadi pagi jam 06.00. Terus naik taksi ke sini. Liat rumah kamu sepi, daripada ngebel malah nggak surprise lagi mendingan aku lompat pagar aja", katanya.

Dasar Rani ini memang orangnya cuek banget. Kadang-kadang kalau isengnya kumat, tomboy-nya mengalahkan laki-laki. Padahal aslinya feminin banget. Cantik, tinggi, lincah dan anggun juga bisa (tergantung saatnya). Kulitnya putih, dan badan yang tinggi untuk ukuran cewek, membuat dia bisa tampil cantik dengan gaya dan mode apapun. "Maafin aku ya sayang. Kejutanmu berhasil, sayangnya terlalu berhasil. Maafin aku ya", kataku sambil mengelus rambut hitamnya yang panjangnya sepunggung, dan dengan lembut aku mencium keningnya.

Setelah itu kami bercerita banyak mengenai kabar masing-masing. Rani baru saja diterima di SMU 3, dan dia senang di sana. Aku juga cerita lagu-lagu yang baru band kami ciptakan dan latih selama ini sambil menyetelkan contoh lagu itu di CD player. Beberapa lagu lewat, dia manggut-manggut sambil bilang, "Gab, lagunya bagus-bagus. Asyik juga buat goyang, nge-groove banget", sambil meneruskan mendengar lagu berikutnya. Aku keluar studio dulu, membuatkan es jeruk untuk kekasihku tercinta biar mualnya agak mendingan. Waktu aku balik Rani memandangku sayu sambil bilang, "Gaby sayang, puterin lagi lagu yang nomor lima dong. Lagunya romantis banget. Aku jadi terharu dengerinnya." Ya sudah, aku putarkan lagi ke track 5, lagunya memang lembut banget, romantis deh pokoknya. Rani berdiri sambil memegang tanganku, "Dance with me, honey!", pintanya. Kupegang tangannya, lalu kami berdansa mengikuti alunan musik yang aku ciptakan. Sambil memeluknya, aku melihat matanya berlinang air mata.

"Kenapa Sayang?", tanyaku.
"Enggak.., Cuma aku merasa betapa bahagianya apabila seseorang dicintai seperti lirik lagu itu."
"Do you wanna know something, honey?", tanyaku lagi.
"What is it, dear?"
"This song is written by me, to express how deep is my love... just for you, honey!", kataku.
"Oooh, Gaby.., What a wonderful gift from God you are for me", sambil dia berbicara begitu, air matanya tambah deras dan pelukannya semakin erat serta dansanya tambah lembut. Mataku jadi basah juga. Aku sangat mencintai Rani. Kalau mungkin, biarlah seluruh hidupku aku jalani bersama dia.

Rani minta lagu tersebut diulang terus, biar dansa kami tidak putus-putus dan liriknya bisa makin diresapi. Pelan-pelan sambil terlarut dalam indahnya lagu dan lembutnya dansa kami, Rani mengangkat kepalanya dari dadaku dan mengecup lembut bibirku. Kecupannya lembut sekali. Mungkin kurang menyenangkan bagi yang cuma ingin seks saja. Tapi bagi yang saling mencinta, kecupan seperti itu jauh lebih kena di hati daripada apa yang terjadi sesudahnya.

Lampu studio yang cukup redup, alunan musik merdu yang keluar dari sound system yang keren dan kuat powernya (kebetulan tidak tembus keluar sehingga tidak mengganggu tetangga, karena studio musiknya kedap suara). Kami saling mengecup dengan lembut dalam waktu lama.
Sambil tetap berputar mengikuti irama lagu, Rani berkata, "Gaby my love, bercintalah denganku sayang. Di sini dan lakukan sekarang!"
Aku tersenyum dingin sambil berkata, "Rani, ma'af aku tidak bisa melakukannya".
Rani kaget, "Kenapa sayang?"
"Aku tidak ingin bercinta denganmu, Aku hanya ingin mencintaimu. Bukan untuk berhubungan badan, tapi hanya mencintaimu sayang".

Dia tersenyum, sambil melanjutkan kecupannya, namun kali ini tangannya mulai meraba-raba punggungku, dan bibirnya tidak menutup lagi, melainkan membuka untuk memberi jalan lidahnya menusuk bibirku. Aku pun bereaksi seperti layaknya seorang lelaki yang normal. Kuelus lembut punggungnya, kasar sekali. Jelas saja, wong masih pakai jaket jeans. Pelan-pelan kubuka jaket hitamnya, dan memandang kaos ketatnya yang berwarna merah tanpa lengan, menonjolkan keindahan tubuh dan dadanya yang berukuran 34B. Tidak terlalu besar, cukup mungil tapi yang penting bagiku kencangnya bukan besarnya. Daripada seperti Pamella Anderson yang besar tapi tidak kencang.

Kujelajahi terus sekujur badan bagian atasnya. Kunikmati setiap jengkal dari tubuh indahnya. Mulai dari punggungnya, perlahan-lahan merayap ke pinggangnya, perutnya, dan dada indahnya. Di balik kaos merah ketatnya aku bisa melihat dan merasakan puting yang semakin mengeras dan menjulur keluar dari tempatnya, mencetak sempurna pada pembungkusnya. Kuputarkan jemariku di sekitar putingnya yang keras luar biasa, sambil berbisik lembut ke telinga Rani.
"Coba rasakan, Rani. Rasakan sentuhanku ini!"
"Mmmhhh.. mmhhh", cuma itu bunyi yang keluar dari mulutnya, karena terlalu penuh imajinasinya oleh keindahan cinta kami berdua. Walaupun begitu, dia memang bukan tipe cewek banyak bicara sedikit bertindak. Buktinya omongannya sedikit, tapi tanpa sadar tangannya meraba halus celana jeans-ku, melonjakkan batang kemaluanku dari kungkungan celana dalamku. Dia terus saja mengelus barang kesayangannya ini dengan semakin keras, seakan dia tahu persis bahwa celana jeans yang tebal itu menghalangi batang kemaluanku untuk merasakan kenikmatan belaian jemarinya.

"Oh Sayang, ijinkan aku menikmati burungmu. Akan kubuktikan bahwa segalanya hanya untuk kamu, Gaby."
"Rasakan semuanya, Sayang. Lakukan apa yang kamu mau. Segala diriku adalah milikmu Rani."
"Demikian pula aku Sayang. Lakukan pada diriku apapun yang kamu inginkan. Rani sayang kamu, Gaby."

Setelah mendapat ijin darinya, langsung saja (tapi dengan tetap lembut) kubuka kaos ketat merahnya. Wah.. pantas saja putingnya menonjol sekali, dia tidak memakai bra.
"Ran, kamu kok nggak pakai bra sih? Panas ya?"
"Sengaja kubuka waktu kamu buatin es jeruk untukku. Tuh, branya aku lempar di belakang drum. Kalau kamu lebih suka branya, ambil aja. Tapi kalau lebih suka isinya tetaplah di sini sambil ekspresikan cintamu untukku."
Wah, masa sih aku mentingin branya, kalau bisa malahan jangan pernah dia pakai bra lagi. Lagi pula payudara sekencang itu, untuk apa pakai bra lagi sih? Rani pun tidak mau kalah. Dia membuka celana jeans-ku dengan agak terburu-buru. Sialnya ujung batang kemaluanku yang memang sudah keluar dari celana dalamnya terjepit retsleting.

"Aduh Rani, hati-hati dong Sayang. Sakit kan."
"Ya ampun, Gab.. burungmu sih yang nakal. Belum dibuka udah keluar duluan. Salah kamu sendiri.. eh enggak deh, salah kamu sih (katanya sambil menunjuk batang kemaluanku)."
"Ran, nanti kalau dimarahin dia ngambek lho."
"He.. he.. he.. nggak deh. Bercanda kok ya sayang (sambil mengelus dan mengocok lembut batang kemaluanku)."
"Ssshhh... aduh Rani. Nikmat sekali Sayang. Teruskan teruskan..."

Setelah sekian menit Rani mengocok lembut batang kemaluanku, batang kemaluanku kini tegang sempurna. Setelah puas dikerjai Rani, aku mengangkat dia ke atas piano. Kusuruh dia duduk di situ, setelah selesai kupeloroti celana jeans-nya yang juga ketat. Setelah penghalangnya tersingkirkan, barulah aku bisa sepuasnya menghirup harum tubuh kekasihku tercinta itu. Mulai dari dada, jilatanku berangsur-angsur menurun sampai ke daerah perutnya yang putih bersih.

Setelah itu, dengan tidak terburu-buru biar dia penasaran, aku menjilati bagian belakang lututnya, percayalah teman, ada sensasi tersendiri untuk wanita saat kita menjilati bagian ini. Dari situ jilatan naik ke paha depan, belakang, dan terakhir paha bagian dalam. Di situ jilatanku tidak cuma merambat lurus tapi berputar-putar. Mendekati liang kenikmatannya, menjauh lagi, mendekati lagi, menjauh lagi, mendekati lagi, menjauh lagi. Teman-teman, tidak akan ada cewek yang tidak penasaran saat diperlakukan selembut itu. Sama seperti Rani, dia sampai menangis karena sudah tidak dapat menahan nafsunya, sehingga dia nekad menarik rambutku ke arah liang kenikmatannya, saking semangatnya sampai daguku terbentur piano yang ditidurinya. Lidahku menjelajah bibir luar liang kenikmatannya dengan tetap lembut dan mesra, sebelum akhirnya kupuaskan dahagaku dan dahaganya dengan menyeruput (bukan menyedot lho. Seperti kita kalau mau minum teh yang masih panas, diseruput). Katanya setelah selesai, seruputan itu terasa nikmat sekali, seperti memakai vibrator tapi lebih nikmat lagi karena yang menggetarkan mulut cowoknya sendiri dan bukan mesin.

"Aduh... duhhh... Gab, kamu apain sih klitorisku? Aduh Gab, lagi dong... sshhh nikmat banget tuh. Sssh Gab... Gab... Gab... aahhh". Akhirnya Rani orgasme juga. Dia memang tidak pernah berkata terus terang kalau mau orgasme. Dia lebih suka mengekspresikannya lewat sikap dan keributan seperti tadi itu. Melihat wajah Rani yang bersimbah keringat, matanya yang tertutup, dan keningnya yang berkerut menahan rasa nikmat yang masih mendera otot-otot liang kenikmatannya, hatiku bahagia karena aku bisa menyenangkan dan memuaskan gairah seks kekasihku tercinta itu, walaupun aku belum sempat mendaratkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya. Memang hingga kini aku belum pernah memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya karena aku sangat mencintainya, dan bagiku bercinta yang sesungguhnya (bersetubuh) saat pernikahan jauh lebih berarti daripada bercinta saat ini yang hanya berdasarkan nafsu belaka.


TAMAT

NAMA ANDA - 01.20

Bercinta dengan Anak Boss


Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya, baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya sambil belajar.

Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.
"Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud gue.."
"Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?"
"Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?"
Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku.

Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim dan seringkali sensual.
"Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.
"Ehm.. kok mau tau?", tanyanya lagi.
"Iya", kataku.
"Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis", jawabnya sambil tersipu malu.
Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani terus terang begitu.

Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.
"Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang", katanya sambil matanya menatap nakal.
"Kamu seneng seks?", tanya saya.
"Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki", katanya.
"Kenapa begitu?", tanya saya lagi.
"Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kawin. Padahal aku sudah kepengen banget."
"Kepengen apa?", tanyanku.
"Kawin", katanya sambil tertawa.

Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya mencoba menggodanya, "Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh bra kamu". Ia tersipu dan menjawab, "Suka enggak?". Saya tersenyum saja. Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya tersenyum, "Saya suka yang tadi."

Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.
"Kayaknya cowokku itu selingkuh."
"Kenapa?", tanyaku.
"Habis udah hampir sebulan enggak ketemu", katanya.
"Terus enggak.. itu?", tanyaku.
"Apa?"
"Itu.. seks", kataku.
"Yah enggak lah", katanya.
"Kamu pernah onani enggak?", tanyaku.
Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.
"Ehm... kamu juga suka onani?"
"Suka", jawabku.
"Kamu?", tanyaku.
"Sekali-sekali, kalo lagi horny", jawabnya jujur namun sedikit malu.

Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.
"Dewi, kamu mau gituan enggak."
"Kapan?"
"Sekarang."
Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan just do it nih.

Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.
"Nic, kamu beneran nih", tanyanya.
"Kamu mau enggak?"
"Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku."
"Terakhir main kapan?"
"Udah sebulan."
"Trus enggak horny?"
"Ya onani.. lah", jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah, mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But... nafsuin sih.

"Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme"
"Belum lama ini."
"Gimana?"
"Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu."
"Berapakali seminggu kamu onani?", tanyaku mendesaknya.
"Udah ah... yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat. Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red)."
"Kamu enggak ngajak Andree."
"Udah."
"Dan..?"
"Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali. Biasanya dia enggak pernah nolak."
Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.

"Nic, enggak kebayang main sama orang lain."
"Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau enggak."
"Caranya?"
"Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan bersalah, maka udah jangan bikin lagi", kataku.
"Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal."
"Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia kamu aman sama saya", kataku setengah membujuk.
"Tapi saya enggak pintar lho, mainnya", katanya. Berarti sudah OK buat ngeseks nih anak.

Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.
"Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?"
"Yah sering, kalo ketemu yang cocok."
"Ajarin saya yah!"

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, "Shh.. geli Nic." Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.
"Besar juga...", katanya. Matanya setengah terpejam. "Ayo, Nic aku horny nih." Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya, branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, "Ahh.. ahh.. ahh, terus Nic.. aduh geli... ahh.. ah."

Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, "Uh.. Nic... uh." Aku sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang rata, dan pusarnya kuciumi. Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting susuku. "Enak.. enak Dewi". Rangsangannya semakin meningkat.

"Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih", ia menggelinjang dan membuka rok panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih). Kusentuh perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang kepalanya. Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan memelintir puting susunya.

Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan tersenyum, "Nic.. kamu merangsang saya."
"Enak.."
"Hmm...", matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur berdampingan.
"Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak", ceracaunya.
"Gile, Nic, gue udah kepengin nih."
"Biar gini aja", kataku.

Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.
"Uh... uh... Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?"
Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir klimaks dibuatnya.
"Duduk di wajahku!", kataku.
"Enggak mau ah."
"Ayo!"

Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya, "Aughhh..." setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, "Aahhh... ahhh", matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. "Aku.. keluar", sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

"Aduh... Nic.. enak banget. Lemes deh", ia terkulai menindihku.
"Enak?", tanyaku.
"Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi."

Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu. Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.
"Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.
"Dua, sama kamu."
"Kalo onani, sejak kapan?"
"Sejak di SMA."
Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan di liang kenikmatannya.
"Nic, Dewi mau lagi nih." Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan "Uhh... Nic.. Dewi keluar lagi..." Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.

Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan "Ahhh..." klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat air maniku. Crazy juga nih anak.

Setelah aku berbaring dan berkata, "Dewi, kamu bercinta dengan baik sekali."
"Kamu juga", mulutnya tersenyum.
Kemudian ia berkata lagi, "Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic."
Aku tersenyum dan menjawab, "Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah sekarang."
Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat, "Enak.."
"Nah kalau begitu kamu emang nakal", kataku menggodanya.
"Ihh... kok gitu.." Aku merangkulnya dan kita tertidur.

Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian. Kemudian kembali ke kantor. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel. Aku sih santai saja, yang penting rahasia kami berdua tetap terjamin.


TAMAT

NAMA ANDA - 01.19

Sabtu, 19 Januari 2013

Mp3 Fans

Sabtu, 19 Januari 2013


Kisah nyata ini terjadi secara kebetulan beberapa minggu yang lalu. Saya memang sudah lama memiliki software yang bernama NAPSTER di mana dengan sofware itu saya bisa men-download berbagai macam lagu yang saya sukai dalam bentuk MP3. Suatu hari ketika saya sedang melakukan downnload sebuah lagu, ada sebuah "nick" yang tiba-tiba muncul dan merekam lagu yang kumiliki. Sambil menunggu proses download, saya iseng-iseng mengajak pemilik nick itu ngobrol. Di dalam perkenalan kami, sebut saja namanya Jennifer. Saya sempat tidak percaya ketika dia memperkenalkan namanya karena saya mengetahui bahwa pemilik nama itu adalah seorang foto model terkenal di Singapore. Jennifer adalah seorang gadis cantik yang berambut panjang. Telah banyak sinetron mandarin yang dimainkan oleh cewek yang baru saja saya kenal ini dan ternyata sekarang saya mengenalnya secara kebetulan lewat program NAPSTER. Saya sempat tidak percaya karena kami sama-sama penggemar MP3 dan kami sama-sama sedang kesepian di Singapore. Saya sempat tidak percaya karena dia belum pernah pacaran padahal saya sudah sering "tidur" dengan perempuan.

Saya akhirnya mengajak dia untuk bertemu di sebuah hotel yang tidak begitu terkenal untuk menghindari wartawan dan public attention tentunya disebabkan karena dia adalah artis Singapura yang ternama. Setelah saya booking kamar di sebuah hotel di daerah Geylang, saya menunggu kedatangan Jennifer. Saya menunggu dia selama 1 jam dan dia belum juga datang. Saya sempat mengira dia tidak menepati janji dan ketika saya hendak meninggalkan kamar hotel, tiba-tiba terdengar ketukan di kamar yang saya booking. Saya sempat kaget dan buru-buru membukakan pintu. Di depan pintu, saya melihat sosok Jennifer, seorang foto model yang cantik sekali dan saya sempat terbengong menyaksikan kecantikan Jennifer hingga membuat saya lupa tidak mempersilakan Jennifer masuk ke kamar.

Saya sempat tidak percaya dengan kecantikan Jennifer dan Jennifer berkata kepada saya memecahkan kesunyian di hotel itu, "Can I come in or you just let me staying outside", dan saya kemudian buru-buru mempersilakan dia masuk. Setelah masuk, Jennifer langsung duduk di ranjang dan saya langsung duduk di sisi Jennifer. Kita berdiam untuk beberapa menit dan Jennifer tiba-tiba memeluk saya yang sedang berdiam. Saya sempat kaget dan masih tidak berbuat apa-apa ketika Jennifer memeluk saya dan mulai mencium bibir saya dengan mesra. Selama berciuman, dia membuka busananya dengan penuh nafsu dan setelah dia telanjang, dia gantian membuka busana saya. Saya hanya menurut saja dan masih bingung karena dia yang saya kenal sebagai artis yang selalu memerankan karakter seorang gadis baik-baik atau gadis pemalu di setiap sinetron TV yang dia perankan, ternyata adalah seorang gadis binal yang haus akan seks.

Ciuman dan permainan lidah dia membuat nafsu saya terpacu dan saya mulai melakukan tindakan kepada dirinya. Saya langsung menyuruh dia berbaring dan saya langsung melepaskan celana panjang dan celana dalam saya. Saya kemudian dengan penuh perasaan membuka celana panjang dan celana dalamnya dan kemudian saya langsung memainkan lidah saya di sekitar vagina artis sinetron yang terbaring pasrah di depanku. Permainan lidah saya di sekitar vagina dan klitoris Jennifer membuat artis muda dan cantik ini mendesis dan berdesah sambil mencoba menjilati putingnya sendiri sementara tangannya memijit-mijit payudaranya. Ia berteriak dan mendesis dan saya sempat berpikir akankah orang lain mendengar apa yang sedang kita lakukan karena teriakan artis ini.

Jilatan dan permainan saya yang berulang-ulang membuat Jennifer akhirnya mencapai orgasme. Disaat Jennifer mencapai orgasme inilah yang membuat saya sangat menyukainya karena disaat Jennifer akan mencapai orgasme, dia melengkungkan tubuhnya dan berteriak sambil menyebut namaku secara panjang. Dia melenguh keras sewaktu dia mengeluarkan cairan kewanitaannya yang tentunya kujilat terus-menerus sampai habis.

Tiba-tiba Jennifer menarik saya dan mencium bibir saya. Kami sempat bermain lidah untuk beberapa saat dan kemudian Jennifer meminta saya untuk memasukkan penis saya yang sudah menegang ke dalam liang vaginanya. "Blesss", tanpa aba-aba saya langsung memasukkan penis saya ke dalam liang vagina artis Sinetron Singapore ini dan ketika penis saya menyodok vaginanya, dia terus-menerus mendesah dan memeluk saya dengan erat.

Saya memeluk artis sinetron yang berambut panjang ini dan terus menyodok penisku di dalam liang kenikmatannya. Saya lama-lama bosan dengan cara ini dan kemudian menyuruh Jennifer untuk berbalik arah dan kemudian saya memegang tangan kiri Jennifer dan mengarahkan penis saya yang sudah berdiri ke arah anus Jennifer. Masuknya penisku ke dalam anusnya membuat Jennifer teriak kesakitan tetapi itu tidak berlangsung lama karena desakan penis saya di dalam anusnya membuat teriakan dia menjadi desahan yang berkepanjangan dan dia meminta saya melepaskan tangan kirinya. Setelah saya lepaskan tangan kirinya, dia menggunakan tangan kirinya untuk mengusap usap "telur" saya. Hal ini membuat saya semakin menyukai permainan ini.

Saya kemudian melepaskan penis saya dan mengarahkan penis saya ke dalam mulut Jennifer dan dengan cepat, Jennifer mengulum penis saya dengan penuh keahlian yang membuat saya merasakan nikmat yang luar biasa dan ingin segera meledakkan cairan sperma saya. Jennifer kemudian melepaskan kuluman penis saya dan menyuruh saya untuk menembakkan spermaku ke dalam vaginanya. Dengan cepat, saya menyodokkan penis ke dalam vagina artis Singapore ini dan tak lama kemudian saya merasakan rasa puas setelah saya menyemprotkan sperma saya berkali-kali ke dalam vagina Jennifer. Disaat saya menyemprotkan sperma, Jennifer juga memeluk saya dan mendesah panjang karena saya tahu bahwa dia juga telah puas dan telah mencapai klimaksnya. Kami sama-sama roboh dan kami tidur bersama-sama sampai esok paginya.

Jam 6 pagi kami bangun secara bersamaan dan ketika bangun, saya langsung mencium bibir artis Singapore ini dan kami melakukan persetubuhan sampai waktu menunjukkan waktu jam 12 siang, karena saya harus check out dari kamar hotel ini. Kami berpisah setelah saya check out. Inilah kejadian nyata saya yang saya sendiri juga tidak percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Semuanya adalah karena program untuk mencari MP3 dan saya sempat kaget karena saya telah bercinta selama semalam dengan sesama pecinta MP3 dan yang lebih asyiknya adalah dia adalah artis sinetron dari Singapore.


TAMAT

NAMA ANDA - 01.04

Gelinjang Teman Sekantor


Sebut saja namaku By. Aku bekerja di sebuah perusahaan di kawasan segitiga emas di Jakarta. Sebagai seorang supervisor, aku sering melakukan perjalanan ke luar kota untuk mengunjungi klien maupun mengontrol penjualan. Nah, suatu hari aku kebetulan mendapat ijin untuk masuk siang karena pada malam sebelumnya aku bertugas di luar kota.

Sekitar jam 10.00, pintu kamar kosku diketuk oleh Bi Minah (penjaga kos). "Mas, ada tamu", panggil Bi Minah dari balik pintu. Dengan malas-malasan aku beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu. Eh.., di belakang Bi Minah berdiri Ati, teman sekantorku. Memang, dia berugas di bagian pemasaran sehingga bisa dengan leluasa keluar kantor.

Setelah Bi Minah pergi, aku menyilakannya masuk.
"Ada apa nih?", tanyaku sambil mengucek-ucek mata. Maklum, kemarin malam aku sampai di Jakarta sekitar pukul 02.00 dinihari.
"Nggak, mau main aja", jawabnya sambil tersenyum.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang suasana kantor, aku minta ijin untuk mandi.

Sewaktu di kamar mandi, aku terus berpikir ada apa kok tiba-tiba dia datang ke kosku. Selama ini aku hanya mengenalnya sepintas dan itu pun hanya basa-basi. Bukannya sombong, tapi dia bukan anak buahku langsung. Jadi, memang jarang bertemu. Tapi, jujur saja, Ati tergolong cantik. Dengan kulitnya yang putih, gigi yang teratur rapi, plus rambut hitamnya yang sebahu, siapa pun akan mengakui kecantikannya. Belum lagi dada dan pantatnya yang memang aduhai.

Usai mandi, aku bergegas kembali ke kamar. Ternyata, dia sudah duduk di tempat tidurku sambil membaca majalah. Pikiran kotorku segera bekerja, "Pasti ada maunya nih". Dengan alasan akan mengambil baju yang tergantung di balik pintu, aku menutup pintu dan menguncinya. Sedetik kemudian, aku menemaninya duduk di ranjang.

Sambil ngobrol, dengan perlahan wajahku kudekatkan ke wajahnya. Dia hanya diam saja dan tidak mencoba menghindar. Langsung saja kulumat bibirnya dan ternyata responnya sangat mengejutkan. Ati membalas ciumanku dengan bernafsu dan bibirnya makin terbuka saat lidahku bermain di mulutnya. Cukup lama juga kami berpagutan, dan jelas burungku sudah berontak hendak keluar dari sarangnya. Saat kami berciuman, dia membisikkan bahwa dia sayang padaku.

Sambil lidahku menuruni lehernya yang jenjang dan wangi, tanganku segera meraba dadanya yang kenyal. Dia menggelinjang saat tanganku meremas buah dadanya yang berada di balik blouse putihnya. Dengan lembut kulepaskan satu persatu kancing bajunya dan menyembullah buah dada yang terbungkus bra putih. Dengan ukuran 36B, buah dada itu nampak hendak mau tumpah dari cungkup branya. Segera saja kubenamkan wajahku ke dadanya. Ati makin mendesah dan tangannya meremas-remas rambutku. Kujilati dadanya dan dengan gentle aku menyusuri gunung kembarnya. Dengan mulutku, kubuka cup branya dan tangan kiriku membuka kait bra di punggungnya. Rupanya, kelembutanku sangat menyenangkan dia. Ati tertawa kecil sambil mengelus rambutku.

Terlihatlah buah dada Atik yang menantang dengan puting berwarna coklat pucat. Putingnya tidak seberapa besar, tapi lingkaran putingnya benar-benar membuatku bernafsu. Lebar dan benar-benar bulat sempurna. Segera kukulum putingnya dan sesekali menggigitnya dengan mesra. Ati makin liar dan tubuhnya terdorong ke belakang sampai rebah di ranjang. Ini memudahkan pengembaraanku. Dengan posisi berbaring, aku lebih leluasa mengulum kedua buah dadanya. Dengan kedua tanganku, kutangkupkan kedua bukit indah itu dan lidahku menjilatinya bergantian. Kombinasi permainan lidah dan remasan tanganku rupanya membuatnya makin bergairah. "Terus, Mas.., terus.., aduh enaknya..", desisnya. Buah dada yang tadinya lembut itu makin menegang putingnya dan dengan rakusnya kulahap. Tangannya makin membenamkan wajahku ke buah dadanya.

Tangan Ati lalu menyusuri perutku dan jarinya masuk ke dalam celana dalamku. Kemaluanku pun dipijat-pijatnya. Walaupun aku sudah tegang, tapi penisku baru 70% ereksi. Bukannya sombong, tapi aku tergolong lambat panas. Aku segera melepas celana dalamku dan dengan leluasa tangannya mengocok penisku. Rasanya selangit deh, antara geli dan enak. Walaupun tidak tergolong besar (panjang 15 cm, diamater 4 cm) , tapi stamina penisku cukup prima.

Aku tidak mau kalah dan mulutku pun mulai menuju perutnya. Lidahku berhenti sejenak di pusarnya dan kumasuki lubang pusarnya dengan lidah. Pinggul Ati langsung terangkat dan desahannya makin kencang. Lalu tangan kananku mencari risleting roknya dan menurunkannya. Rok mini hijaunya kupelorotkan dan kuciumi paha putihnya yang merangsang. Mulai dari balik dengkul, sampai ujung paha kejelajahi dengan lembut. Ati terlihat menggigit bibirnya sendiri sambil matanya merem melek keenakan.

Ketika kuciumi pangkal pahanya, terlihat beberapa bulu halus menyembul keluar dari celana dalam satin hitamnya. Perlahan, jariku menyibak pinggir celana dalamnya dan kujilati clitorisnya. Rupanya, sensasi dengan cara kukulum clitorisnya ketika masih memakai celana dalam sangat disukainya. Desis Ati bercampur nafas yang semakin memburu makin membuatku gila. Dengan bernafsu kujilati seluruh vaginanya yang berwarna merah muda. Lidahku turun naik menyusuri vagina wanginya dan dengan gerakan liar kumainkan lidahku di lubang kemaluannya.

Setelah sekitar 5 menit, vagina indah itu sudah basah oleh lendir dan dengan bernafsu semakin kujilati. Lalu, tiba-tiba Ati menarik lenganku ke atas. "Ayo dong Mas, Ati udah nggak tahan. Masukin dong Mas..", pintanya dengan mata memelas. Ia pun segera merenggangkan kedua pahanya dan terlihat vaginanya yang sangat menggiurkan.

Aku segera mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Sambil memeluk tubuhnya dengan erat, perlahan kudorong penisku memasuki vaginanya. Mulanya agak seret, tapi Ati malah mendorong pantatku. Akhirnya dengan sebuah hentakan lembut seluruh penisku berhasil masuk. Bulu vagina Ati yang lebat terasa menggesek bagian atas penisku dan membuatku makin terangsang. Begitu berada di dalam liang vaginanya, penisku langsung mengembang sempurna dan menjadi keras sekali. "Aduh, Mas.., enak banget punyamu. Makin besar di dalam...", desahnya.

Langsung kulumat bibirnya dan serentak pinggulku mendorong penisku untuk maju mundur. Alamak enaknya!. Bagian dalam vaginanya mencengkeram erat penisku yang tak henti-hentinya kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. "Benar-benar nikmat nih cewek", batinku. Ati pun mengimbangi gerakanku dengan memutar-mutar pinggulnya.

"Slap.., slap..", suara penisku yang sedang giat-giatnya memasuki vaginanya terdengar dengan merdunya. "Terus Mass.., terus.., ah.., enak..", jeritnya kecil. Aku semakin terangsang dan mempercepat gerakan penisku. Kupandangi wajah cantik Ati yang kini penuh dengan keringat dan mulutnya yang setengah terbuka. "Kubikin kamu bahagia Ati", bisikku. Dia hanya tersenyum dan makin mempercepat gerakan pinggulnya. Sempat kulirik penisku yang sedang beraksi memasuki liang kenikmatan Ati. Aku pun makin terangsang.

Payudara Ati bergerak naik turun seirama nafsu yang makin memuncak. Tidak berapa lama kemudian, kedua kakinya dilingkarkan di pinggangku dan menjepit erat. Wajahnya sudah merah padam dan matanya sedikit terpejam. Lagi-lagi bibirnya digigit sendiri dan tangannya mendorong pantatku untuk masuk lebih dalam. Makin kubenamkan penisku dalam-dalam. Tanganku meremas-remas payudaranya. Beberapa detik kemudian pantatnya diangkat dan jepitan kakinya makin erat sampai aku susah bernafas. "Aaahh..", dia berteriak dan tubuhnya menegang. Rupanya dia sedang mengalami orgasme. Penisku terasa basah oleh cairan vaginanya. Tapi, tatap saja tidak kulepas penisku dari jepitan vaginanya.

"Kamu hebat Mas", ujarnya di sela-sela desah nafasnya. Kucium bibirnya dan segera kuangkat kedua pahanya tinggi-tinggi sampai ke dadanya. Dengan bernafsu kugenjot lagi vaginanya. "Aih.., istirahat dulu dong Mas..", pekiknya pelan sambil tersenyum. Segera kusumpal bibirnya dengan mulutku dan makin kupercepat gerakan penisku memasuki liang vaginanya. Gelinjangnya semakin liar. Sekitar 5 menit kemudian, dia mengerang lagi. Aku pun sudah tidak tahan. "Di dalam saja Mas", bisiknya mesra. Kupercepat gerakan penisku di dalam vaginanya dan.., "Crot.., crot..", kubanjiri vaginanya dengan sperma kentalku. Kami berpelukan erat sambil melakukan french kissing.

Ati meletakkan kepalanya ke dadaku sambil mengelus-elus penisku. "Hebat ya punyamu Mas, aku udah puas banget", ujarnya dengan senyum manis. Karena dielus-elus, penisku pun bangun lagi. Ati ternyata paham dan langsung mengulum penisku di mulutnya. Hebat deh, nggak kena gigi!. Tangan kanannya mengocok penisku, sementara mulutnya dengan rakus menjilati kepala penisku. Wow, nikmat sekali rasanya, serasa aku terbang di langit ketujuh.

Tak sabar, aku segera duduk dan dia segera mengangkang. Kami pun bercinta lagi dengan bersemangat. Dengan bergelora, dia memompa penisku naik turun. Di depan mataku, payudara indahnya bergerak naik turun dan segera saja kulahap keduanya. Dia makin gila, dan kedua tangannya diangkat di kepala. "Bless.., bless.., bles..", penisku semakin cepat dipompanya. "Barengan yuk", pintanya. Akhirnya, sambil memeluk tubuhku erat-erat, dia menjambak rambutku dengan mata terpejam erat. Kali ini aku tidak mau menahan-nahannya lagi, dan segera saja kusemburkan spermaku sekali lagi. Tubuh Ati melengkung ke belakang manahan kenikmatan yang tiada tara. Beberapa detik kami serasa di awang-awang. Peluh membasahi tubuh kami berdua. Sejak saat itu, kami selalu mengulangi persetubuhan yang indah itu, baik di tempat kosku, di rumah Ati ataupun di hotel yang kami sewa.


TAMAT
Oleh: flongky@hotmail.com


NAMA ANDA - 01.04

Daun Berembun


Kejadian ini merupakan suatu sejarah kehidupan biruku beberapa tahun yang lalu, tepatnya 27 Maret 1993, hampir setahun setelah lulus SMA di Magelang dan sedang menunggu panggilan bekerja dari sebuah perusahaan penerbangan di Jakarta.

Pagi itu, aku bangun dengan penuh semangat, ada janji jalan-jalan bersama mantan adik kelasku di SMA **** (edited). Hari itu hari libur sekolah. Namanya Enno **** (edited), dia seorang penyiar remaja yang cukup dikenal di kota kecil itu, pada masa itu. (kalau ada yang kenal, tolong salamin ya?)

Dengan Astrea 800 warna merah kesayangan, kujemput dia sekitar pukul sembilan pagi. Saat kebetulan sampai di sana Enno memang baru menungguku. Sementara menunggu Enno mandi, aku ngobrol dengan mamanya. O iya, si Enno tinggal berdua dengan mamaknya (dia panggil ibunya 'emak')

Tak lama kemudian Enno selesai mandi, emaknya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua, setelah Enno berganti baju, adegan French kiss mengalun begitu saja. Singkat cerita, kayaknya kok tidak nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat untuk jalan-jalan saja.

Tepat pukul sepuluh, setelah sedikit berbasa-basi dengan mamanya, kita pergi menuju ke pinggiran kota. Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi, kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang. Dan di sana kissing kita teruskan lagi, maklum waktu itu status kita belun resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank "Ameican style" gitu... Kita belum terpikir untuk melakukan hubungan badan yang terlalu jauh waktu itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah yang tahu dari mana sang awal itu berasal.

Tiba-tiba langit menjadi gelap (Padahal pagi tadi cerahnya bukan main). "Nduk.., (begitu panggilan sayangku padanya) kayaknya mau ujan nih..".
Gendhuk diam saja, Untuk beberapa saat dia memandangi mukaku yang hancur seperti si Komar 4 sekawan itu. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku, satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Gendhuk tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Meskipun tiada kata cinta yang terucap, aku hanya mengerti, apa arti senyumannya itu.

Tanpa banyak tanya, aku starter lagi motorku yang sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah ingin berburu dengan hujan yang sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa payudaranya yang mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

Setelah beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan. Kujalankan lagi motor pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun. Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sudah deras hujannya. Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Gendhuk memegar stang kiri.

Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Cahange, kusuruh tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri, tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu kuremas-remas setelah kudapatkan.

Motor kami masih berjalan pelan menyusuri jalan Borobudur - Magelang. Kendaraan lain hanya terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami untuk berduaan saja.

Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam, sementara Enno mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, Enno tak melarangnya. Aku buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dalam celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya. Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun sensasi yang kami rasakan lumayanlah. Bulu-bulunya terasa halus di ujung jemariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh kewanitaannya secara acak demikian juga klitorisnya. Sedikit desahan tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di belakangnya, sementara itu si ucok sudah tidak peduli terhadap cuaca yang lumayan dingin karena gerimis.

Lalu bagai tak sadar, tangan Enno merayap ke belakang, mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku, kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yang kami rasakan pastilah bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku...

Tak berapa lama kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, kepalang tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Setelah ber-petting di motor, kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang - Muntilan adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yang cukup melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

Kupacu sepeda motorku sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri mendaki menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun dia tidak akan menolak. Benih cinta itu kami rasakan sedang berkembang saat itu. O Iya, sebelumnya kami sudah bertukar tempat duduk lagi sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sudah tak mau lepas dari kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dalam. Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tapi kami sudah tak peduli. Enno masih melayang dengan kedua tangan di dalam celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

Sementara aku masih berjuang untuk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah Kedung Kayang, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran. Kedung Kayang terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang yang dalam dengan panorama yang luar biasa indahnya. Teman-teman, sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel misalnya..) naluri membawa tanganku untuk menuju ka sana.

Sementara hujan akan segera mengucur...
Sampai di Kedung Kayang suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor, sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dengan apa yang baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

Gerimis mulai lenyap berganti hujan, kami telah cukup selamat berteduh, meski baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama... Kami tidak tahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan. Kuusap pipinya dengan beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di dalam dada, entah di luar sana geledek yang lewat.

Seiring dengan beriramanya hujan yang makin menderas, secara refleks kepala kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra. Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama. Kurasakan tangannya mulai naik merangkul leherku, semakin lama makin erat pegangannya. Kuturunkan bibir dowerku ke arah leher jenjangnya, kuciumi dengan nafsu yang sedikit kupendam sehingga tak meluap begitu saja.

Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali, tangannya yang mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun dengan derasnya bagai kesetanan.

Enno sempat kaget saat kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat kusambar lagi lehernya dengan nafsu yang tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya, aku cupang pangkal lehernya.

Irama hujan seolah menabuhi apa yang kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angker keindahannya. Lalu dengan kasar kunaikkan t-shirtnya sampai ke lehernya, kupegang pantatnya dengan tangan kiriku kuremas-remas dengan gemas, dan tangan kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yang kuangkat tadi. Kutemukan dua gundukan indah yang lebih ranum dari Merapi yang usianya sudah seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku.

Desahan-desahannya sudah tak kuhiraukan lagi (kelak aku meyadari bahwa cinta dan nafsu ternyata bagaikan Qobil dan Habil anak Adam dan Hawa). Kudorong tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menyangga beban berat tubuhnya yang disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah selangkangannya, kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susunya, kusedot-sedot dengan kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan kenapa baru sekarang aku dikenalkan dengan kenikmatan seperti ini. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang. Aku masih tak perduli, sex is sex...

Kini badannya lemas tidak.., kakupun tidak, hanya kepasrahan saja yang kudapati di raut mukanya yang tak lagi manis itu dan tak lagi cantik itu karena mataku juga sudah khilaf.

Setelah beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dengan satu tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya. Kubuka celananya, masih dengan nafas yang memburu, kulorotkan celananya sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai tanpa perasaan lagi kumainkan dengan ganas vaginanya, kusentil-sentil sekitar clitorisnya, dia melenguh di dunia tanpa akal. Kumasukkan jari tengahku ke arah lubang vaginanya, kumasukkan dengan ganas, kuputar-putar jari tengahku di dalam vaginanya yang sedamg ranum-ranumnya. Sambil kusedot dengan kuat susu kirinya, aku mainkan tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya memanggil-manggil namaku dengan penuh kenikmatan.

Akhirnya setelah orgasme yang kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan sebatas dengkul, kuturunkan juga celana dalamku, dengan posisi agak jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dengan galak kunaikkan sedikit kakinya lalu dengan penuh nafsu kuarahkan moncong "hidung" pinokioku ke arah lubang sorganya. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangan kenikmatannya.

Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sudah tak ingin membuang waktu lagi. Dengan isyaratnya, kuhujamkan penisku dengan agak kasar, kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dengan mulutku, tapi kini kami tak perduli. Dengan saling bantu, akhirnya sedikit-demi sedikit penisku berhasil ditelan dengan mesra oleh vaginanya. Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dalam dada saat kurasakan vaginanya bagaikan mulut bayi yang menghisap kempongnya dengan gemas.

Agak lama juga kami saling menggocok, menggoyang dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua telah sampai di ambang batas, dengan di awali suara gelegar geledek di atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban nafsu kami.

Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan, kedua alat reproduksi kami masih berpelukan juga. Lalu hujan berhenti berganti dengan gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami menikmati sisa-sisa orgasme kami.

Beberapa saat kemudian serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tidak datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka. Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.

"Ndhuk..", aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagian bawah kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah.... Ya, sore itu kami melepaskan keperawanan kami berdua. Lalu dia tersenyum. Kami berpandangan, lalu berpelukan.

Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kami pulang dengan wajah sangat bahagia.


TAMAT
Oleh: psycopanjoel@hotmail.com


NAMA ANDA - 01.04

Pulau Berminyak


Siang itu kelelahan benar-benar menyapaku. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. Sementara Captain Frank (instruktur terbangku yang funky dan hobby tidur saat pesawat telah level di puncak ketinggian) masih terdengar dengkurnya yang nyaring. Sari, pramugari angkatan 24 meleburkan lamunanku.

"Teh, kopi apa susu Mas?".
"Heh bukan gitu nanyanya", kataku.
"Trus?".
"Teh ama kopinya bener..."
"Susunya?"
"Heh.., heh..", sahutku nakal.
"Dasar !", katanya sambil senyum manis.
"Oke, kopi instant tanpa gula", akhirnya aku menjawabnya.
"Captain?".
"Ssst, beliau baru ibadah !", kataku.
Sari mengangguk geli sambil ngeloyor membuat kopi.

Begitulah, sedikit bahasa kami saat di udara sana. Dan setelah menyelesaikan dua landing terakhir hari ini, sampai juga kita di Tarakan. Sebuah pantai penghasil minyak yang cukup mungil namun tampak jelas di ujung kanan atas pulau Kalimantan. Capt. Frank tampak lebih segar setelah istirahat di cockpit siang tadi. Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya. Sedangkan Sari dan Noni tampak kelelahan duduk di belakang mobil yang mengantarkan kami ke hotel tempat kami biasa beristirahat.

Sebenarnya Sari dan Noni cukup cantik untuk menjadi teman apa dan ke mana saja. Sari bermuka antara Padang dan Menado, matanya sipit, rambutnya ikal seksi, tubuhnya khas pramugari dengan kaki dan punggung indah ditambah kebiasaannya fitness dua hari seminggu sehingga mukanya tampak selalu memerah segar. Sedangkan Noni bertubuh sintal dan wajah manis khas Semarang. Keduanya tampak indah selama perjalanan kerja lima hari ini. Namun keduanya tak begitu menarik kelelakianku untuk menjelajah cukup jauh. Bagiku Pramugari is just pramugari. Terlalu riskan untuk didekati, apalagi pramugari baru seperti mereka.

Kebanyakan mereka bersih. Namun karena informasi yang dijejalkan oleh para senior mereka sangat padat, akhirnya banyak juga yang bertumbangan karena tergoda ingin mencoba lebih "menyelami" pekerjaan mereka sebagai pramugari. Telah beberapa orang sebelum angkatan mereka masuk telah kutelusuri pola kehidupannya. Rata-rata mereka tercebur ke dunia pengajian (pengasah bijian -> sorry bahasa 'penerbangan') diawali dengan latihan pacaran dengan beberapa Co-pilot, Captain, pramugara, atau penumpang yang kebetulan satu hotel. Mereka melepas keperawanan mereka hanya untuk melapangkan dunia seks mereka yang seluas rute yang mereka jelajahi. Sorry buat yang merasa jadi pramugari baik-baik. But it's true. Skandal pilot-pramugari memang benar ada. Makanya para pilot senior mukanya selalu cerah kalau ada penerimaan pramugari baru apalagi kalau sudah mulai boleh terbang, wah bakalan pada rebutan deh jadwal terbangnya. Bagi yang hobby hunting, just try it !.

Buatku yang hidup di lapangan yang sama, bertualang dengan pramugari hanya akan mengurangi naluri jelajahku. Nah kisahku kali ini bukan pengalaman me"reyen" para pramugari itu, karena peristiwa di Tarakan ini cukup unik, makanya sekarang terpampang di sini.

Setelah sampai di hotel, kami berempat check in. Petugas hotelnya kebetulan 2 orang wanita. Karena sudah beberapa kali menginap di hotel yang sama, keakraban pun telah ada antara kami dengan para petugas hotel (beberapa office boy malah sudah hapal dengan pilot-pilot yang selalu menanyakan foto 'artis' baru di hotel itu)

Sementara ketiga 'rekan' kerjaku sudah menuju kamar masing-masing, aku kembali ke mobil sebentar mengambil tasku yang tertinggal. Dan kalau mau percaya, hal itu kulakukan karena aku sering melihat melalui ujung mataku, seorang dari kedua petugas check in itu selalu berusaha mencuri perhatianku. Dari arah pintu masuk aku berjalan perlahan dengan pandangan mata hampir tak berkedip ke arah receptionist itu. Dan dugaanku memang tak meleset. Dasar memang kisah nyata ini harus terjadi. Dia memberi kode pada teman satunya untuk sedikit 'menyingkir' dari kami.

Sampai di mejanya, dengan senyum yang tak pernah kubuat-buat kami akhirnya saling berkenalan. Wajahnya memang manis, Noni masih kalah karena yang ini lebih dewasa face-nya. Tubuhnya biasa, tingginya biasa, hanya saat kami bertemu pandang ada sedikit aliran darah yang 'salah' masuk urat rasanya.

"Ini kuncinya Mas"
"Lho kok Mas?"
"Ini sekalian ID-nya Mas, saya juga orang jawa kok.."
"Jawa?"
"Iya saya dari Solo, Mas pasti orang jawa, omongnya kan medok", katanya.
"Heh.., he.., iya ya.., eh ada juga putri solo di sini..", kataku datar.
"Kamar 201 Mas", katanya sambil menyorongkan kunci kamar.
"Makasih, sibuk ya?"
"Belum"
"Banyak tamu?"
"Biasa Mas"
"Nanti ngobrol yuk"
"Ini juga ngobrol", katanya
"Temen kamu mana ?"
"Ke pantry", mukanya memerah.
"Ooo..."
"Ya udah, nanti aku yang telpon kamu.., Oke?"
"Iya Ias"
"Namamu siapa ?", tanyaku sambil melirik kartu nama di dada kirinya.
"Ana.., kalo Mas?"
"Nanti di telepon aja, dinding-dinding sini bertelinga", kataku sok gentle.

Kuterima kunci kamar yang ia sorongkan, tak luput aku pegang tanganya yang menjulurkan kunci. Matanya melirik tajam penuh arti, meskipun bukan pandangan nakal. OK enough, ini yang aku cari.
"Jam enam aja Mas telponnya", bisiknya cepat. Aku mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamar. Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul setengah lima. "Ah untung masih sempat istirahat", pikirku.

Aku buka dasi, ID, wing, bolpoint lalu kuletakkan di atas meja dengan rapi beserta topi petnya. Kulepas sepatu, kumasukkan seluruh pakaiannku termasuk dalaman dan kaus kaki ke dalam tas plastik tempat cucian, lalu kutaruh di luar pintu kamar agar besok pagi siap untuk another flight. Kunyalakan air di bath up. setelah air hangat penuh aku berendam selama seperempat jam untuk 'merebus' otot-otot sekaligus mengendorkannya.

Jam enam kurang satu menit, masih dengan tubuh basah aku keluar dari kamar mandi karena telepon berbunyi. Rupanya dari para pramugari.
"Mas mau makan di mana ?", kudengan suara Sari yang sekamar dengan Noni.
"Aduh, kayaknya captain ke rokum mertokatnya tuh.."
"Berarti ?"
"Yah, kalian pesen aja dari kamar, kan kita baru hari pertama di sini..."
"Iya Mas mana cape lagi", katanya.
"Ya udah, istirahat aja dulu, besok baru kita jalan-jalan cari ma'em di luar?"
"Mas gak pa-pa?"
"Udah santai aja kalo ama ogut, aku gak sama koq ama co-pil laen yang harus makan barenglah, inilah.., itulah.., capek !"
"Iya deh Mas makasih ya.."
"Yup!"

Kututup telepon.., eeehh bunyi lagi.. Kuangkat, terdengar suara si Ana di ujung sana.
"Mas sorry aku yang nelpon, abis ruang operator baru sepi nih.."
"Eh, aku dong yang sorry.., terlambat tiga menit nelpon kamu..."
"Ya Mas aku tahu, kan di ruang operator, emang baru ngobrol penting ya tadi sama pramugari di kamar 204?"
"Ah enggak, mereka cuman mau nanya mau makan di mana kok..."
"Ooo", sahutnya
"Eh Mbak Ana pulang jam berapa?"
"Lho kok pake Mbak?"
"Abis umurku baru dua dua dan mbak kayaknya udah lama kerja di sini..", jelasku.
"Panggil aja Ana jangan pake Mbak, o iya coba tebak umurku berapa.."
"Engng.., dua lima", kataku.
"Salah"
"Dua lapan !"
"Lho koq tahu ?"
"Kan nebak..."
"Iya dua lapan tua ya?"
"Enggak juga, malah aku kira dua lima tadi", aku yakin hatinya agak meremang di ujung sana.

"Mau makan di mana?"
"Mau nemenin?", tanyaku
"Mmm.., besok kali ya.."
"Sekarang aja deh..."
"Eh, kalo sekarang ngobrol dulu", katanya ngajarin, (kan lebih tua).
"Uh kelamaan ngobrol kapan akrabnya!"
"Kan nggak enak ngobrol di telepon..."
"Ke sini dong"
"Eh, ke kamar?"
"Iya"
"Waduh..."
"Kenapa.., takut?"
"Enggak.., gak enak aja kalo ketemu temen di lantai dua"
Aku diam sebentar, aku yakin Ana baru berpikir keras. Dalam hati aku bertanya, kok tumben ngobrolnya lancar gini.
"Ya udah, kamu buka sedikit deh kamarnya, aku naik ke lantai dua, kalo sepi aku langsung masuk kamar deh...", katanya tak kuduga.
"Iya deh, aku tunggu..", kataku.

Kututup telepon dan buru-buru kupakai kaos dan celana pendekku. Belum tiga menit pintu terbuka dengan cepat, Ana masuk lalu menutup pintu dengan cepat pula. Aku hanya melongo melihat kenekatannya. Ana tersenyum, jelas terlihat nafasnya yang ngos-ngosan karena deg-degan, matanya tak lepas memandangku. Kuhampiri, kupeluk dia agar agak cepat ketegangannya menurun.
"Hampir..", katanya.
Aku hanya tersenyum.
"Baru sekali ini aku masuk ke kamar tamu hotel, habis.."
"Kenapa ?"
"Nov, namamu Nova kan? kamu mirip sama almarhum mantanku yang di Solo.."

Aku bengong... Ternyata, caraku berjalan, berbicara dan bercanda sangat mirip dengan pacarnya yang telah tiada yang menyebabkan dia depresi lalu dibawa ke Tarakan oleh ayahnya dan dikawinkan dengan orang Tarakan. Ana bercerita panjang lebar kepadaku di tempat tidur sambil kupeluk.

Setelah selesai dan capek bercerita, kucium bibirnya.
"suamimu?", tanyaku.
"Di rumah, aku gak pernah cerita sama dia"
"Kamu lima tahun lebih muda menurut mataku.."
Ana menggelayut manja, tak tampak lagi kepiluan di matanya, mungkin dia sudah tidak peduli, baginya aku adalah pacarnya yang masih hidup. Kerinduannya bergejolak berpadu dengan sugesti dan fantasinya yang terpendam.

Kubelai kepalanya sambil kucium bibirnya.
"Ih, mesra juga", katanya.
Busyet kataku dalam hati, sengaja kuhanyutkan diriku ke dalam imaginasinya. Aneh, seperti disirep, kucium pipinya, mulutnya..., berhenti lama di situ... mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Sungguh, pengalaman kali ini seperti dongeng. Kuturunkan lidahku ke arah lehernya.., menggelinjang.., matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri.

Dengan gigi, kubuka satu persatu kancing bajunya dari atas, aku sendiri heran, biasanya tak sesabar ini. Setelah terbuka bajunya, tampaklah sepasang dada yang indah. Kupandangi..., sengaja tak kucium, aku tahu Ana menunggunya. Tanpa Ana sadari, dari pinggang, tanganku langsung masuk ke spannya.

"Hekhh..", Ana melotot saat terasa kedua tanganku langsung meremas kedua pantatnya.
"Heh.., heh.., jangan sembarangan ya Mbak..", kataku dalam hati.
Buah dadanya masih menantang tepat di depan kedua mataku.
"Nov..."
Matanya terbuka menantangku melakukan yang lebih. Tangan kiriku masih menopang pantatnya, tangan kananku dengan cepat dan sedikit kasar merangsek ke vaginanya. Sekarang matanya malah melotot, sekali-sekali kelopaknya bergetar menatap mataku. Kusambut tatapannya dengan dingin.

"Mmmffh.., mmhhh...", tampak Ana menahan sensasinya. Matanya semakin memberi tenaga pada sang penis di belahan pahaku. Sekarang giliran jari tengah kiriku menyodok lubang duburnya. Tampaknya Ana tidak menyangka itu akan kulakukan, "Slettt..", dua ruas jari tengah sukses menyetubuhi pantatnya yang kuning mulus itu. "Hmm.., eeehh..", nafasnya mulai memburu. Kulanjutkan jari tengah kananku dan.., "slet..!", langsung tiga ruas masuk ke sana, jempolku menekan clitorisnya.

"Haah.., Nov.., hmmm..". Ular dipelukanku yang tadi diam dengan tabah kini berkelenjotan dengan panik tapi yang meyebabkanku makin sayang padanya adalah matanya. Seolah-olah Ana ingin menyaksikan dunia nakal di balik mataku. Tangannya menggapai-gapai meskipun ada tubuhku di depannya. Ana masih belum menyerah, dia masih terbang dengan kerinduannya, jauuuh.., tinggi.., tak tahu sampai di mana. Selagi Ana meliuk-liukkan tubuhnya dengan ganas, kulepas dengan tiba-tiba kedua jariku dari kedua lobangnya. Kubanting tubuhnya ke ranjang, kuarahkan penisku ke wajahnya dan di sambut kuluman mesra pada penisku, kuikuti french kiss pada vaginanya.

"Mmmhh.., ssshh.., mmmhh.., ahkkk..", dan sepanjang waktu 20 menit berikutnya kita berkutat dalam posisi terbalik dengan posisi 69. Clitorisnya semerah daging babi yang baru direbus, vaginanya banjir bandang, baunya wangi seperti arak cina bercampur wijen.

"Akh.., ahhhkk.., iikhh.., Nov.., Nov.., ahhh..", erangan Ana diikuti gerakan mengejan eksotis di pinggulnya. Striptease di Fort-street selandia sana masih kalah jauh dengan yang satu ini. Desah dan erangan Ana tiba-tiba berhenti. "Sreppp.., srreepp..", mulutnya berhenti di penisku, rupanya Ana tak terima berkali-kali orgy sendirian, dia betot penisku dan dimasukkan penuh ke dalam mulutnya sementara salah satu jarinya entah yang mana mulai membalas dendam perlakuanku pada awal permainan tadi. Ya, jarinya ia masukkan ke duburku bersamaan dengan energy memuncaknya Ana menyedot dan mengocok jarinya yang tenggelam dengan tak teratur.

Pembaca, bukan main yang kami alami saat itu. Dalam satu kesempatan yang tak terhitung lagi, meledaklah kedua puncak birahi kita secara bersamaan, berisiknya sudah tak terkira lalu hening. Kubalik posisi hingga kini Ana berada di atasku. Sambil megap-megap Ana memasukkan penisku ke liang vaginanya. Tak tahu bagaimana caranya penis yang mulai lemas itu akhirnya terpendam di dalam vagina Ana yang berkedut-kedut, sementara antara sadar dan enggan berdiri, sang penis secara perlahan mulai sadar kembali hingga tak sempat lemas lunglai. Rupanya Ana secara naluri tahu cara membooster penis agar cepat ereksi.

Sekian puluh detik berlalu, penisku siap bertempur di liang vaginanya. Ana pasti sudah tahu itu tapi mbak yang satu ini rupanya memiliki "sesuatu" meski telah kuyup badan kami berdua, meskipun napas tinggal satu-satu nampaknya pertarungan sesungguhnya segera berlangsung.

Selanjutnya aku sendiri bingung menceritakannya seingatku, badannya memelukku dengan erat, tangannya memegang kedua pantatku. Kedua tanganku disuruhnya memeluk erat punggungnya lalu ia menyuruhku memejamkan mata dan kepalanya turun menempel di leher kiriku, mukanya tenggelam di bantal. Kuturuti semua pesannya, "Nurut aku ya Nov, kamu diem aja, kalo gak bisa nahan ikutin naluri aja, jangan mikirin apa-apa, jangan pake teori... sekarang diem dan nikmatin aja...". Begitulah kira-kira instruksi singkat yang kudengar samar-samar di telingaku.

Tiba-tiba, "Sutt.., srrruuutt..", tak tahu apa yang dilakukan dengan pinggulnya, yang jelas gerakannya membuat tulang-tulangku serasa lolos sampai sunsumnya. Aku melotot tak mampu berteriak, dadaku sesak dan tenagaku hanya terkumpul di tiga titik, dua telapak tangan dan penis. Sepertinya penisku hampir meledak.

Gilaaa, kuremas apa yang bisa kuremas, sementara aku tak bisa melihat muka Ana, dadanya masih menindih dadaku, tangannya masih di pantatku tapi pantatnya seperti ombak melebur-lebur dahsyat. Entah berapa menit Ana memacuku seperti itu, mataku berkunang-kunang.

Tiba-tiba badannya tersentak ke belakang, posisi Ana sekarang terduduk, sekilas aku sempat melihat Ana mengatur nafasnya, "Hhhh.., sshhh.., mmmhhp..", rupanya mukanya ia tempelkan di kasur agar tak bernafas dan nampaknya serangan kedua telah siap ia lakukan. Aku kini lebih siap, kutarik nafas dalam-dalam lalu "Sssyyyuuutt..", seperti ada angin di dalam tubuhku ke arah penisku yang terasa kempot-kempot.

Gila !, apalagi nih.., dan aku tak mampu bernapas, dadaku sesak, kandung kemihku serasa dibetot-betot.., dan di puncak kenikmatan ini air maniku terasa bagaikan air bah dari dam yang jebol. Ana menggigit kencang bantal di mukanya, kukunya mencengkram kencang pantatku, vaginanya bagaikan vacuum cleaner super. "Crottt.., crooott.., crott". Kami tak mampu berteriak, kami ledakkan sensasinya di dalam dada. Gila, baru sekali ini aku merasakan hal yang luar biasa seperti ini. Dan hebatnya lagi, Ana langsung bangkit dari dadaku.

"nova.., sudah malam.., aku pulang dulu.."
Aku cuma melongo tapi tak mampu untuk bangkit apalagi mencegahnya, mataku berkunang-kunang saat Ana selesai berpakaian, dan akupun tertidur karena kecapaian.

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Ana meninggalkan pesan, "Nova sayang, kamu baik sama Ana, besok ngobrol lagi". Di balik kertas itu dia meninggalkan nomor telepon rumahnya.

Dan lima hari tugas di Tarakan hampir setiap malam hal yang sama terjadi, namun kami melakukannya di lain hotel di kamar nomor 13. Sekarang kadang aku merindukan ketabahannya itu, bukan main.., bahkan hal itu tak terulang lagi padahal aku sangat merindukan belaian serta pelayanan dari Ana.


TAMAT
Oleh: psycopanjoel@hotmail.com


NAMA ANDA - 01.04