;
Tampilkan postingan dengan label Tema Kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Kematian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Januari 2013

Puisi Kematian "Aku Ikhlas Dalam TanganMu" | Daman Surachman

Sabtu, 26 Januari 2013

teknologi.news.viva.co.id

Kematian
Buat : Iyu
Daman Surachman

Kepada siapa aku mengadu ?
Teramat sendu
Nasib dipermainkan sang waktu


Dan ketika malaikat turun
Dari tangga sang waktu
Jangan menangis terus, Ya.

Jakarta, jan 2013

NAMA ANDA - 19.51

Selasa, 08 Januari 2013

Puisi "Membaca Pusara" | Hidup Adalah Antrian Di Loket Kematian

Selasa, 08 Januari 2013

Membaca Pusara
Agus Dwi Rusmianto

membaca lingkaran
hanya satu putaran
lantas merayap perlahan
dengan kaki-kaki waktu menuju ke hulu
akh!
betapa penjarakkan sempurna antara akuku dan Kauku

kembali pada bumi
yang pegang janji Illahi
setelah kemboja menunduk sunyi
antar raga menyusuri sepi

adalah doa-doa berhambur
meruang pada kubur

“Bukan ini kado ulang tahun yang kuharapkan,” ucapmu

hidup adalah antrian

2012
http://oase.kompas.com/read/2012/09/04/22152173/Puisi-puisi.AD.Rusmianto

NAMA ANDA - 19.38

Sabtu, 29 Desember 2012

Puisi Sketsa Kematian "Kematian Menunggu Di Ujung Jalan"

Sabtu, 29 Desember 2012

SKETSA KEMATIAN
Rudi Setiawan

Wajahnya memandangku menyeramkan
Kucoba untuk menghindar darinya
Namun kakiku semakin melangkah kesana

Sang maut bersembunyi disudut gelap
Menanti jiwaku datang terlelap
Kupaksa mataku untuk terus terjaga
Tetapi rasa kantukku semakin mendera

Kereta ajal melaju pasti
Menunggu rohku terkapar mati
Kuberlari di lorong-lorong harapan
Kepada siapa kuharapakan pertolongan ?

Liang kubur beraroma busuk
Mengundang jasadku terperangkap masuk
Kubersembunyi di dalam benteng yang kokoh
Dan maut menemukanku lalu menyeretku dengan gagah

“ Kullu Nafsin Dzaaiqatul Mauut “

Doha, 19 January 2010
http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan

NAMA ANDA - 10.13

Kamis, 27 Desember 2012

Puisi Bila Kematian Tiba "Kepada Jasadku" | Rudi Setiawan

Kamis, 27 Desember 2012

KEPADA JASADKU
Rudi Setiawan

engkau adalah sahabat sekaligus kekasihku
bersama kita arungi hidup yang fana
berenang dalam comberan waktu
mengais di sampah-sampah kehidupan

Jasadku
kala-ku senang kau pun bahagia
kala-ku sedih kau cucurkan air mata
kala-ku sakit kau pun menjerit
kala-ku resah kau menggigil gelisah

Jasadku
bila kau terluka akupun merana
bila kau terhina marahku melanda
bila kau menderita akupun sengsara
bila kau bahagia senangku tak terkira

Jasadku
suatu saat nanti kita pasti berpisah
akan kutinggalkan kau diranjang kematian
sendirian kau akan dilapukan oleh jaman
sementara aku akan terbang menuju kekekalan
entah kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan.

Doha, 28 January 2010
http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan

NAMA ANDA - 11.17

Kamis, 17 Juni 2010

"MATI" SEBELUM ENGKAU MATI - JALALUDDIN RUMI

Kamis, 17 Juni 2010

‘MATI’ SEBELUM ENGKAU MATI
Jalaluddin Rumi

Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…


Jalaluddin Rumi (1207-1273)


NAMA ANDA - 21.33

Rabu, 19 Mei 2010

SEPERTI KEMATIAN

Rabu, 19 Mei 2010

SEPERTI KEMATIAN
Isbedy Stiawan ZS

aku dapati kematian
tiap gali rahasia perempuan
serupa mendung
di wajahmu
aku hanya rasakan
aroma peluhmu
lalu mata,
bibir yang anggur
sebagai kanal dingin:
sesunyi pelataran ini
buatku mendesah
kugotong berwaktu-waktu
mencapai pendakian
dan membongkarnya
di kanal ini
tapi, sudah berapa jauh
aku ngembara,
berapa lubang kugali
mencari temu rahasia?

engkau, perempuan, rahasia
yang sulit diselami
seperti kematian
yang kurasakan
setiap petang…

2004


NAMA ANDA - 02.32

Senin, 17 Mei 2010

Puisi Doa Jenazah | Beri Jalan Aku Kembali Kepada-Nya

Senin, 17 Mei 2010

DOA JENAZAH
Isbedy Stiawan ZS

aroma dupa dan wangi sayur yang ditawarkan
dari sudut-sudut rumah ini kuharap jangan
dihidangkan di atas piring kerandaku
lalu turunkan muatan! buka palka
dan kuburkan kepasrahanmu. beri jalan aku
kembali kepada-Nya
. tanpa asap dupa
tanpa pesta!

1984/1986

NAMA ANDA - 22.22

TUBUH TANPA RUH | Kumpulan Puisi Kematian

TUBUH TANPA RUH
Isbedi Stiawan ZS

-bagi almarhum D.Z


tubuh itu
tanpa ruh. nyebarkan duka
melayat bunga dari seluruh kampung
(dari sini perjalanan masih panjang
bagi tubuh tanpa ruh
yang ditandu; bergegaslah peluit dibunyikan
biar sampai di stasiun sebelum senja merengkuh)
tubuh itu
tanpa ruh
bekukan hujan di awan
sepanjang hari
sementara dari kamar
netes kenang; siapa bisa
menghapus gambar tangan
di dada?

12/7/1984

NAMA ANDA - 22.15

Minggu, 16 Mei 2010

Kumpulan Puisi Tentang Maut dan Kematian

Minggu, 16 Mei 2010

TENTANG KEMATIAN
Azizah Hefni
(Antologi Puisi untuk Munir)

Tentang sebuah kematian
Tanpa tiang bendera
Atau tanda-tanda
Juga kabar-kabar

Hadir di celah pagi malam
Di sela tarik dan desah
Pada ujung-ujung waktu tanpa detak
Juga pangkal-pangkal sudut ruangan

Bahwa Tuhan memberi kertas
Dengan garis-garis tebal peringatan
Akan wicara kuasa yang takkan bisa tersentuh
Oleh sesuatu yang halus
atau sekecil apapun

Kemudian,
Untuk alam
Juga geliat-geliat nyawa yang dititipkan
Bersediakah bila
Tuhan memintamu untuk pulang?

Malang, 27 Oktober 2005



TENTANG MAUT
Ajip Rosidi


Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati
Menerima atau menolak, tak peduli
Dengan tangan dingin namun pasti
Sang Maut datang dan tiap hidup ia akhiri.

Kuperhatikan perempuan sedang mengandung
Wajahnya riang, mimpinya menimang si jabang
Namun kulihat Sang Maut aman berlindung
Dalam rahim sang ibu ia bersarang.

Kuperhatikan bayi lahir
Dan pertama kali udara dia hirup
Dalam tangisnya kudengar Sang Maut menyindir:
"Jangan nangis, kelak pun hidupmu kututup".

II

Yang kukandung sejak hidup kumulai
Takkan kutolak, meski ia kubenci
Tapi kalau hidupku nak dikunci
Datang Tuhan menawari:
"Sukakah kau hidup semenit lagi?"
Kujawab pasti: "Suka sekali!"

III

Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri
Karena tak berketentuan, bisa nyergap sesuka hati
Membayangi langkah, mengintip menanti saat
Dan bagi kesadaran jadi beban paling berat.
Kupertentangkan ia dengan Hidup yang seolah 'kan dia rebut
Kupilih pihak: Karena pada siksa neraka aku takut;
Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati
Napasnya menghembus dalam tiap hidup yang fana ini.

1960



KEMATIAN
Ajip Rosidi


lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru

tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi

ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran

pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari

ii

muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati

muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka

1954

Link

MAUT
Yun Casalona

Datang maut panggil namaku
Tersentak aku dari lamunan
Ketika bisikan kata teringat akan dosa

Maut datang tanpa member salam
Apakah datang bukan dari pintu
Atau memang itu caramu bertamu

Maut pastikah itu alamat yang tertulis
Di daftarmu
Maut jangan dekati aku,aku malu bertemu
Aku kotor, jauhilah aku

Banda Aceh, 180793

NAMA ANDA - 02.27

Minggu, 25 April 2010

Puisi Tentang Kematian | Azizah Hefni

Minggu, 25 April 2010

TENTANG KEMATIAN
Azizah Hefni

Tentang sebuah kematian
Tanpa tiang bendera
Atau tanda-tanda
Juga kabar-kabar

Hadir di celah pagi malam
Di sela tarik dan desah
Pada ujung-ujung waktu tanpa detak
Juga pangkal-pangkal sudut ruangan

Bahwa Tuhan memberi kertas
Dengan garis-garis tebal peringatan
Akan wicara kuasa yang takkan bisa tersentuh
Oleh sesuatu yang halus
atau sekecil apapun

Kemudian,
Untuk alam
Juga geliat-geliat nyawa yang dititipkan
Bersediakah bila
Tuhan memintamu untuk pulang?

Malang, 27 Oktober 2005

Antologi Puisi Untuk Munir


NAMA ANDA - 21.22

Rabu, 21 April 2010

Puisi Tragedi | Kematian

Rabu, 21 April 2010

Kematian
Ajip Rosidi

i

lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru

tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi

ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran

pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari

ii

muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati

muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka

1954



Share


NAMA ANDA - 08.54