;
Tampilkan postingan dengan label Dina Oktaviani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dina Oktaviani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Juli 2010

SABBATH - Puisi Dina Oktaviani

Minggu, 25 Juli 2010

SABBATH
--chongt jz

Dina Oktaviani

kuberikan engkau hati
pada pertemuan yang tak memukau lagi
ruangan yang sama, tubuh kenal lama
ciuman dan percakapan yang tertata sebelumnya

tak ada mimpi di sini
engkau murung, ketika menyadari
cinta tak semeyakinkan waktu muda
dan tahu, tak ada lagi yang menunggunya

kita telah hidup di antara ketinggian kaca
gedung-gedung melumpuhkan angin
mikropon mengubah semuanya tak saling sapa

setiap datang sabbath, kata engkau
“seharusnya kita berdoa”
tetapi kita tak punya gereja
dan telah kehilangan hari libur

atau apa pun untuk diberikan
aku telah belajar memuja engkau
dan engkau membagikan luka cuma-cuma
maka kuberikan engkau hati

sebab milikmu telah engkau berikan
kepada yang lain

NAMA ANDA - 18.44

Puisi Indah | SOLITAIRE - Dina Oktaviani

SOLITAIRE
--alexander supartono

Dina Oktaviani

bertahanlah
aku akan memejamkanmu, kedua mata yang parau
dan mengikatkan seluruh kegelisahan sepatumu
pada kota ini

engkau telah tak mampu mengemas airmata
menjadi cinta atau hujan saja
: sepi telah lama kehilangan pedihnya

bayang teman perempuan, bayang seluruh kawan
senja dan kabut yang hendak kauadukan
kepada jalan-jalan, kepada ruh-ruh kendaraan
kepada kelelahan, yang tak bisa kausimpan
atau sedekahkan

sedang angin bertahan; tak menjadi malam atau siang
memasuki dirimu, dan kerap engkau menyebutnya kata hati
lantas engkau mengikuti, lantas terlantar lagi
lantas mencoba percaya pada kangen dan kenangan

tetapi semuanya cuma perkiraan
yang tak bisa menjelaskan atau memberimu kepastian
: engkau dikhianati atau ditidurkan
engkau yang selesai atau ditangguhkan

tetapi jika engkau bertahan
pejamlah kedua mata yang parau
dan seluruh kegelisahan sepatumu
kelak menjadi lecut paling indah di punggungmu sendiri

NAMA ANDA - 18.42

HUJAN - Puisi Puisi Dina Oktaviani

HUJAN
Dina Oktaviani

malam ini ia datang
dan kau berjanji akan menembusnya
meletakkan jejak-jejak percuma
dan tak pernah berusaha mengenangnya

kami bersama tak saling tahu
ia mengalir dari tempat yang jauh
tak jelas menangis ataukah luruh

kami mencinta tak tahu cara
memelukku ia menyakitiku
menghangatkannya aku membunuhnya

daun-daun telah memilihnya sebagai kekasih
dan anginnya menyisirku jauh-jauh
akhirnya kami berpisah
setelah aku sakit dan ia musnah

kemudian aku bermimpi
melihatnya mengalir di balik jendela
aku tahu ia bukan luruh
meski kami tak lagi saling sentuh

NAMA ANDA - 18.39

PIGURA SEPASANG SAUDARI | lidya safitri

PIGURA SEPASANG SAUDARI
--lidya safitri

Dina Oktaviani

aku tak akan lupa cara meninggalkan waktu remaja
langkah perempuan di atas airmata perempuan
cahaya yang siap diredupkan
sebelum seluruh saudara saling meninggalkan

bunga-bunga tumbuh ketika kita kecil
matahari indah sebelum usia belasan
hujan berkesan, daun-daun jatuh menyentuh
kupu-kupu mati abadi

mimpi datang setiap hari—mungkin selalu sama
berbaring di sebelah kamar ibu+bapak
pintu terkunci, momok tinggi di atas almari
kita ketakutan, abang menjadi pedang

sekarang semua mesti menjadi pedang
kamar ibu tak sama dengan bapak
momok semakin tinggi meski pintu terbuka
ada yang lari mengejar bintang

yang lain menyerah terkurung di atap orang
sisanya tak peduli dan rumah sepi
aku sudah mengubur bonekaku
juga kerang putih di pigura

di jendela, senja merah kuning
angin kering, kangen asing
pantai jauh, langit sepuh

di rumah baru kita menunggu cerita lama
menyuburkan sawang untuk dikenang
sedang di depan tumbuh perang
kurusetra menjelma apa saja

ada yang memilih jadi drupadi
yang lain jadi matapanah, sisanya menolak sejarah
kehilangan setiap arjuna setiap bisma
setiap cinta setiap keluarga setiap silsilah

tapi aku tak akan lupa cara meninggalkan masa remaja
sebelum waktu kecil sempurna

NAMA ANDA - 18.37

Kamis, 22 April 2010

DI BAWAH SEBUAH GANG | Puisi Dina Oktaviani

Kamis, 22 April 2010

DI BAWAH SEBUAH GANG
Dina Oktaviani

ketika berjalan di sebuah gang yang gelap
semua yang pernah terjadi, mereka juga berjalan
bersamaku

kadang-kadang aku teringat dirimu
saat itu selalu aku harus menyeberang sebuah jalan
dan wajahmu berhamburan dalam kecepatan orang-orang

ketika kau berjalan sendirian
pernahkah kau dikagetkan sebuah bangunan
yang sepertinya pemah kita lihat tiba tiba berpindah tempat
aku hadir seperti cita-citaku akan dirimu hadir

aku mengasihimu lewat semua orang yang kukira engkau
dan mereka mengembalikanku ke sebuah gang yang gelap
dengan lembab yang tak sampai-sampai jatuh menjadi basah
hingga aku tak pernah benar-benar memilikimu
dan tak pernah benar-benar kehilanganmu

ketika kawan-kawanku tertawa
di sebuah hujan yang tak henti-henti
kadang-kadang aku menyesalimu
sebagai masa lalu yang digarap terburu-buru

NAMA ANDA - 11.13

Puisi | KENANGAN PADA SEBUAH TAMAN

KENANGAN PADA SEBUAH TAMAN
Dina Oktaviani

aku mengangankan dirimu jatuh
seperti kertak ranting yang kita tunggui
di luar keramahan orang-orang

aku tertidur di sudut lain hidupmu
mendengarkan pikiranmu berdebar
dengan cara yang lain
tumbuh rapuh seperti tisyu yang aus di kota
yang tak pernah kaubayangkan akan kautemui

aku kehilangan jejak menuju pintu
yang selalu kaujanjikan setiap aku hendak pulang

aku, bersama kawanan hari yang sempurna
terjebak kesunyian yang tipis seperti jarak angin
dan bau tubuh

sepatu kami,
beringsut menahan lubang yang bersikeras
membuang catatan kejahatanmu

NAMA ANDA - 11.12

NYANYIAN UNTUK ANJING | Puisi Dina Oktaviani

NYANYIAN UNTUK ANJING
-gunawan maryanto

Dina Oktaviani

aku menyeretnya seperti malam
tak ada yang menyapa kami

di jalanan yang tak berhenti berbisik-bisik ini
anjing bebas jalan kaki
tapi dia terus-terusan melambaikan tangan
kepada kendaraan
dan aku terus menyeretnya dengan marah

malam itu kami kehilangan karcis makan
dan lupa kepada semua kenalan
tak ada yang menyapa kami
dunia cuma segi empat dengan gambar-gambar
tak lengkap di setiap sisinya
tak ada apa-apa kecuali ketinggian dan keramaian

sebenarnya siapa yang menggambar
kampung halaman di tempat yang jauh
menempel karton-karton lennon di pintu masuk
mengirim catatan-catatan salah
atas mimpi-mimpi jelek?

tak ada yang menyapa kami
sepasang anjing gila yang kelewat peduli
kepada nyanyian dan pecahan

NAMA ANDA - 10.57

SAKRAMEN | Puisi Tentang Sakramen

SAKRAMEN
-cebastianus wahyu jatmiko

Dina Oktaviani

tuhan pergi, sayang
ia balikkan punggungnya
dan kita harus bicarakan ini dengan hati

aku kini harus selalu menahan duri
semuanya menawarku sebagai mawar
dan menusukku diam-diam

tusuklah aku baik-baik, sayang
niscaya kujadikan engkau korban yang tenang
pada hari jumat maupun sabbath
pada penebusan atau pengkhianatan

langit tak jauh
seperti matahari setiap saat dapat tersentuh
biarkan kupegang neraka dan kuimpikan eden
biarkan setiap jalan membuka pintunya
biarkan kumasuki semuanya sebelum engkau

jika angin dan dunia tidur runtuh, cintailah aku
dan bayangkan aku lebih tidak berdaya
atas semuanya

aku masih ingin jaga
menata masa kecil dan menghancurkannya
sebelum tiba waktunya, sebelum waktunya tiba
dan engkau merebutku seperti luka

NAMA ANDA - 10.52

PROSA TAHUN BARU | Puisi Karya Dina Oktaviani

PROSA TAHUN BARU
Dina Oktaviani

saya tak akan sempat meniup terompet
atau menyalakan lilin malam ini
tapi tolong percayalah, saya telah membuat
semacam pengakuan dosa lewat semacam surat cinta
yang saya akhiri dengan cap bibir hitam gemetaran

saya menuliskannya di dalam kamar
waktu cuaca menunjuk tubuh saya sebagai lontar
yang menyimpan tinta di dalam dirinya

dan tolong percayalah,
saya sendiri yang menuliskannya
memang kurang hati-hati
sebuah kata risau tereja oleh saya sebagai pisau
dan itu terjadi berulangkali
sebab cinta membuat saya gugup

saya telah mengirimkannya kepadamu
di hampir seluruh tempat
-sebab saya tak tahu di manakah kamu
sekali lagi tolong percayalah
saya terlalu yakin kamu akan membacanya
atau telah membayangkan akan membacanya
sebelum saya menyelesaikannya

kamu tak perlu membalasnya
sebab saya tak melampirkan pertanyaan apa pun
atau meminta penjelasan tentang apa pun

saya akan hancur dalam kangen
yang menyayat ribuan tahun baru ini
yang membuatmu selalu mampu menguraikan saya
bahkan jika saya tak pernah sampai kepadamu

NAMA ANDA - 10.52

Senin, 19 April 2010

Biografi Dina Oktaviani

Senin, 19 April 2010

Biografi Dina Oktaviani

Lahir di tanjungkarang, bandar lampung, 11 Oktober 1985, mulai menulis di teater satu sejak smu. sempat menjadi reporter remaja di skh lampung post dan menjadi pengurus komite sastra dewan kesenian lampung sebelum melanjutkan studi di Jakarta. Kemudian oindah ke Jogjakarta sambil terus mencari alternatif lain dari perkuliahannya yang mampat di jurusan perancis Universitas Negeri Jakarta.

Saat ini menjadi editor blocknot poetry untuk blocknotinstitute, kumpulan cerpennya yang telah terbit, como un sueno (orakel , 2005)


NAMA ANDA - 03.51

SEBUAH NATAL, HUJAN, PENGHANCURAN

SEBUAH NATAL, HUJAN, PENGHANCURAN

--como un sueƱo: yoe layantara



sebuah natal, adakah itu engkau

yang lahir ketika lainnya berakhir

lantas luruh menjadi rahasia


sebuah natal, adakah engkau melihatnya di jendela

ketika malam-malam dan terjaga

yang bertanya dan menjawabmu dengan hujan

hanyalah bulir-bulir dingin

yang menempel di sayap kupu

lumpuh angin yang tak sampai menjelma ketukan

di pintumu


sebuah natal, menyusup ke balik selimut

dan telanjang bersamamu

kau mengecupnya tanpa cemara dan debar dada

tetapi bagaimana ia mengatakan kepadamu

ada yang mencintai kesedihanmu

melebihi tawamu yang berisik


sebuah natal, biarkan ia membunuhmu

dengan sebuah isyarat, sebuah ciuman

yang tak mungkin kaubungkus dengan kado

atau meggantungnya di antara lampu-lampu


sebuah natal, aku, barangkali juga engkau

menjadi kembang api yang habis sebelum tahun baru


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)

Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.30

Puisi CIUMAN JUDAS | Dina Oktaviani

CIUMAN JUDAS
Dina Oktaviani

kau mungkin hafal rasanya dikhianati
tapi tak pernah tahu pedihnya membagi
mengutuk jarak dan tak percaya waktu
ditikam dingin, dibunuh naluri menebar tubuh
aku merindukan dadamu berkeringat
meski hujan tak menepati janji
ingkar seperti hati atau kematian
tapi tentulah kau telah beku
telah yakin oleh kebenaranmu dan cacatku
sedang aku runtuh-luluh
menyangka api cumalah mainan lusuh
kau mungkin tak pernah mencampakkan angin
apalagi berpaling dari matahari
mencium semua jiwa dan rumputan
membiarkan cerminmu dipenuhi judas
aku juga merindukan ketololan sendiri
menyerahkan seluruh tubuh seutuh ruh
sementara samudera butuh tumbal dan sesaji


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.29

EMPAT BAIT PERGI | Biografi Kehilangan

EMPAT BAIT PERGI
Dina Oktaviani

pergilah
banting pintu seperti biasa
dan biarkan rumah tak bergetar sedikit juga

bernyanyilah, atau minum
di ujung gang itu selalu ada gardu
dan tiga arah untuk berseteru
di sakumu telah kusisipkan cinta dengan sengaja
untuk kaumakan atau tukarkan dengan ketololan

sebentar lagi langit melepas baju
dini hari berlalu
dan bekas sepatumu
riap di udara yang wagu

tapi kau masih juga di pekarangan
tak jelas menanam apa
dan tak pernah tahu yang kukerjakan
di dalam


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.27

DONGENG UNTUK BAPA

DONGENG UNTUK BAPA
Dina Oktaviani

anak-anak sudah pergi, pak
capek bermimpi dan berpikir dikhianati
piring kotor, juga genting yang bocor
tak jadi dicuci atau diperbaiki
anak-anak, pak

yang lelaki sudah pandai mencuri
dikepung hujan dan tak lagi kesakitan
yang perempuan pandai memasak luka
di payudara
memaksa air susu keluar
untuk bayi yang tak pernah lahir

di luar sini, pak
ternyata ada dunia
amerika dan angin runtuh
lalu lintas dan riuh kematian

tidak melulu kesunyian, pak
seperti yang kausebut-sebut dalam sajak
yang kausenggamai tanpa ibu dan anak-anak
sekarang, pak
periksalah almari dan laci-laci
ada yang kami tinggalkan
semacam dosa atau kitab suci

barangkali kau masih ingat caranya
menangis
seperti waktu kami dilahirkan
dan tak pernah sempat dibesarkan


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.26

Puisi Memo Sebuah Kelahiran

Memo Sebuah Kelahiran
Dina Oktaviani

suamimu telah mati
dan rindu jadi begitu lucu
kami akan memandikanmu
dan menyisipkan beberapa kuntum
cerita kelahiran diperutmu yang buncit

tapi kau telah tak percaya pada hujan
lalu lintas adalah hiburanmu yang tercecer
tak ada lampu merah atau zebra cross
di mana kau bisa berhenti atau menyeberang
dengan tenang

bertahun-tahun yang membuatmu birahi
cumalah basa-basi dan bayi-bayi
yang tumbuh menjadi uban

tak ada lagi yang bisa kauberkati
selain perasaan dosa yang kian suci
; sebuah kendaraan yang mungkin
mengantar ke jalan lain
tenpat tuhan tak berani menghampiri mati


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.20

Puisi BANGKAI TANJUNGKARANG

BANGKAI TANJUNGKARANG
Dina Oktaviani

semua orang menjelma tanjungkarang
mengirim bunga dan ranjau untuk bertahan
anak-anakku terjebak lapar hujan
mendesak untuk memastikan berakhirnya
tanggal-tanggal dan basah jalan

kadang ada yang menjelma hari kemarin
memberi semacam sakit dan ingatan
dan semua yang pernah hidup di rahimku
membangkai saat naik ke air susu

tak bisa kunyawakan atau muntahkan
tak bisa menjadi impian atau keputusasaan


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.19

LUKISAN SEMPURNA | Dina Oktaviani

LUKISAN SEMPURNA
Dina Oktaviani

kau akan lelap dan abadi
dan meminta jadi sebuah lukisan purba
yang menolak hilang atau dilupakan

seperti juga hujan pada seprei linen
yang membentuk peta kehilangan
kau pun meresap ke sepenuh tubuh
seretak otak

lalu sayat ciummu seolah memastikan
betapa duri tak pernah membunuh mawar
atau lalang di pekarangan

berpura-puralah jadi isa atau monalisa
supaya orang-orang bisa menanamkan kau
dalam cermin atau ingatan
tanpa warna hitam

dan dalam sebuah perjamuan
kami akan menyebut-nyebut kesetiaan
sebagai dosa yang sempurna


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.18

RITUS BERAHI

RITUS BERAHI
Dina Oktaviani

kautundalah bahagia
lalu rebah di bawah bayangan sendiri
masuk ke dalam kelam
meski tahu purnama tak pernah gagal

di sana,
barangkali masih melintang
tangis dan erang
mungkin selenting aba-aba lantang
menyerukan penyatuan lancang
: khianat usang

di sana,
semua tak pernah baik-baik saja
selalu gagap angin, nafsu purba dan derak jantung
: sebuah ritus suci atas tubuh yang hilang arti

kautundalah kenangan
lalu lupakan kematian
aku siap kautumpangi
jika luka kian seset di tubuhmu


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.17

SEBELUM KAU PERGI

SEBELUM KAU PERGI
Dina Oktaviani

lain kali aku pasti mengerti
mengapa tubuh kita ditumbuhi
jamur dan duri

tapi sekarang, sebelum pagi datang
aku ingin berendam di ketiakmu
mengendusmu kembali

aku mesti membawamu kembali
kepada bukit-bukit sakit
dan lembah sekarat
sebelum jurang dan kunang-kunang
menetap dan bahagia di atasnya

lain kali aku pasti mengerti
betapa setia harus saling tikam


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.15

SILSILAH | kita merindukan sesuatu yang telanjang

SILSILAH
Dina Oktaviani

di langit yang pecah karena hujan
malam cuma menyisakan gambar-gambar pudar
tentang masa lalu yang gegar
sedang airmata telah dikemas jadi rahasia
yang merdeka

surat-surat berluruhan
menyusun kalimatnya di sepatumu
lalu geliat waktu dan angin memutih di ketiakku

tapi kepada anak-anak yang selalu gagal kulahirkan
sempatkanlah bercerita
tentang di mana kuburan kita
atau tentang bunga-bunga
yang tak pernah jadi kita sampaikan satu sama lain

kelak kau tahu
betapa kita merindukan sesuatu yang telanjang
: sesuatu yang lampau dan pahit


kumpulan puisi bangkai tanjungkarang ( book : Biografi Kehilangan)
Dina Oktaviani

NAMA ANDA - 00.14