;
Tampilkan postingan dengan label Achmad Obe Marzuki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Achmad Obe Marzuki. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

Puisi Aku Rindu | Achmad Obe Marzuki

Senin, 24 Desember 2012

source : ahsd.org

Aku Rindu
Achmad Obe Marzuki

Ma, aku menulis sajak ini
Lantaran hati penuh rindu
Di hadapan cermin retak
Aku berkaca, rasa rindu tidak berdaya
Asing dan sepi bersatu dalam badai
Menjadi mimpi buruk

Ma, sungguh mengerti kesakitan ini
Dalam sepi dan lapar
Aku menolak pikiran jahat

Ada tanganku meraba – raba kalbu,
Ada bayangmu muncul dalam kalbu
Aku disergap rasa takut
Tenggorokanku terasa panas
Tapi tubuh begitu dingin

Lantaran hati penuh rindu
Rasa rindu mengetuk pintu batinku

Bali 2012

NAMA ANDA - 10.02

Sabtu, 22 Desember 2012

Biografi Achmad Obe Marzuki

Sabtu, 22 Desember 2012

Biografi Achmad Obe Marzuki

ACHMAD OBE MARZUKI Adalah penulis, pelukis, penata panggung yang lahir di Jakarta 30 Juli 1975. Memperdalam dunia tulisnya melalui kursus kewartawanan di Planet Senen Jakarta Pusat pada tahun 1995. Tergabung dalam Wadah Teater Jakarta dan Lembaga Dongeng Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan (1995-1996). Membacakan puisi-puisinya dalam mimbar bebas panggung reformasi TIM 1998. Bergabung dengan Teater AGA (Anak Gudang Air) dan mendirikan Komunitas API (Anak Pasar Induk) pada tahun 2000. Mendirikan Pelangi Art Bengkel Handicraft 2001 dan sempat bekerja sebagai waiter. Pernah mengikuti pendidikan Banquet Service yang diadakan oleh Institut Tiara Mandiri Jak-Sel tahun 2002. Bersama Sanggar Poerbatjaraka dalam pementasan Layon (2008) dan Hong (2008) dalam Temu Teater Mahasiswa Nusantara Vi di Surabaya.

Email: am_obe@yahoo.com.

Puisi-puisinya yang masuk dalam Keranda Emas, Antologi 21 Penulis Bali yaitu:
Bulan Itu Begitu Jauh
Kamar 32
Di Tepi Senja Laut Biru
Sketsa Kota
Selamat Jalan


NAMA ANDA - 23.29

Selasa, 18 Desember 2012

Puisi Lagu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis )

Selasa, 18 Desember 2012

Lagu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis )
Oleh : Achmad Obe Marzuki

Di bawah pimpinan para koruptor
Di tanah negeri berlambang burung perkutut
Rakyat minta kesejahteraan merata
Menunggu sepanjang sejarah
Sepanjang tahun penuh janji
Meletus bom bom waktu, boom !

Lagu kebangsaan nina – nina bobo, paling tepat !
Mari kita nyanyikan
: Nina – bobo, o nina – bo – bo
“ fantastis, sungguh menghanyutkan “
Ada kesaksian di tembak mati di tengah masa di anggap pahlawan kesiangan
Dan anak – anak berdiri disetiap perempatan sambil bertepuk tangan lalu mengetuk
Kaca jendela mobil tuan
Para pelacur kehilangan penghasilan
Ekonomi anjlok, manipulasi dollar lebih naik
Ibu – ibu antri sembako
Para tengkulak sibuk menyimpan harta karun
Dan petani termangu menatap asing jaman

O, nani
Aku disini tak mampu lagi membaca
Lantaran tv selalu pertontonkan perdebatan basi
Malam hanya membawa kabar mencekam
Dari berbagai penjuru
Peluru meletus seperti siluman, tar tar tar !

Dalam gedung ambruk tubuh – tubuh telanjang
Tanpa kepala hangus terbakar
Tanpa identitas, tanpa pertanggung jawaban
Tubuh – tubuh masuk ruang otopsi
Jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran
Kaki – kaki berlari saling berkejaran menembus gang – gang sempit
Bersembunyi di balik sudut – sudut kota

Saat bendera setengah tiang berkibar – kibar siang bolong
Berita Koran pagi sudah bercak darah
Jika aparat dan politikus berpuisi
Tentu tidak jatuh korban

Sejenak berani cooling down
Ketika bentrokan jadi rawan
Rakyat turun mengheningkan cipta
Di tengah – tengah masa
Puisilah menjelma saksi
Menjadi kesadaran dirinya

1998/2012


NAMA ANDA - 05.49

Puisi Kehidupan Sosial "Di Pasar" | Achmad Obe Marzuki

 Di Pasar
Achmad Obe Marzuki

Sambil menunggu pagi segelas kopi pinggir pasar
dalam tulisan yang tak pernah jadi
pikiran jauh di bawah ilusi
bagai menelan kata - kata

Tertuju lalu seorang ibu separuh baya
menunggu dagangan sayur bersandar di bawah neon dalam kantuk
sungguh harga letih dan harga diri sama beratnya dipikul
Sebab hidup bukan permainan dadu

sedang waktu bukan tempat kompromi
: ironis, seorang ibu separuh baya pedagang sayur itu ditagih rentenir
lantaran hutang – hutang berbunga semakin bengkak
mimpi pun buyar rasa asin keringat

sambil menghitung hasil jualan yang belum seberapa
lewati pergolakan hidup jantung pasar mengadu nasib
jiwa menjelma baja menghadapi ekonomi
Belum lagi pungutan tak tertera memenuhi hitungan buku nota
: katanya , yang terpenting asal ada lebihnya sedikit
bisa menutup kebutuhan keluarga
dan spp anak – anak tidak menunggak, sudah cukup

terlepas dari harapan makmur tergantung nasib
karena suami hanya kuli bangunan yang tak jelas pendapatan
Sambil mengejab mata angin membawa aroma pasar melekat di badan
baunya sudah familiar di hidung

lalu dingin mengantar pulang bergegas pagi
sebelum keamanan pasar menyuruh pergi
suara toa mengumumkan agar dagangan segera dibereskan
Impian hanya lewat pelaksanaan berjiwa keras
bagi kaum kecil yang resah tertindas mengejar mimpi
dan para konglomerat nyenyak tidur dalam ruang pendingin

2012

NAMA ANDA - 05.45