;
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

Antara Teori dan Praktek 01

Sabtu, 19 Januari 2013


Pengantar


Tulisan ini bukanlah cerita tentang hubungan seksual saja, akan tetapi merupakan pengalaman perjalanan seksual penulis sepanjang hidup. Apabila ada peneliti ataupun pembaca yang tertarik dengan pengalaman seksual penulis, atau sekedar ingin memberikan komentar, pertanyaan, maupun berkenalan, penulis mempersilakan Anda untuk menghubungi penulis.
Tulisan ini dimaksud sebagai penambah wawasan. Tulisan ini seluruhnya diceritakan secara jujur, namun nama-nama yang disebutkan bukanlah nama aslinya. Penulis juga mengganti nama penulis kerahasiaan identitas nama-nama yang tertulis tetap terjaga. Semoga tulisan ini berguna

Tentang Masturbasi & Sunat

Masturbasi
Aku sudah sejak kecil bermasturbasi. Aku sudah tidak ingat umur berapa pertama kali aku bermasturbasi. Yang jelas, aku masih belum sekolah TK, aku sudah biasa memainkan alat kelaminku sendiri. Jelas, pada saat itu tidak ada terpikir olehku tentang hubungan seksual dengan lawan jenis. Aku hanya menikmati rasa nikmat yang timbul ketika bermasturbasi.

Sejak kecil, saat bermasturbasi aku menggunakan alat-alat, entah dari mana, aku mengasosiasikan atau membayangkan bahwa aku disunat, dan dengan alat itu disentuhkan ke kulit kemaluan/kulit kulup/kulit yang menutup kepala kemaluan (foreskin). Ada rasa nikmat saat aku menyentuhkan alat-alat, seperti jarum untuk merajut, dll. Kalau tidak terganggu oleh panggilan ibuku, biasanya aku akan asyik sendiri memainkan foreskin-ku, dan mencapai suatu kenikmatan yang nikmatnya tiada tara (orgasme), namun setelah itu pasti diiringi dengan perasaan bersalah.

Seringkali masturbasiku gagal karena Ibuku memanggilku, dan biasanya, apabila Ibuku menemukanku dengan celana yang 'amburadul' (apakah ada di antara Anda yang pernah bisa menggunakan celana dengan rapi tapi cepat pada usia sebelum TK?). Entah mengapa aku selalu tidak ingin permainanku ketahuan oleh Ibuku ataupun orang lain. Aku selalu berusaha mengalihkan perhatian dengan pura-pura bertanya tentang hal lain kepada Ibuku. Dan biasanya dengan senyum Ibuku merapikan celanaku dan menjawab pertanyaanku. Setelah aku besar, aku yakin bahwa Ibuku sebetulnya tahu bahwa aku bermasturbasi, tapi dia dengan bijaksana tidak memarahiku, ataupun menanyaiku tentang apa yang telah kuperbuat.

Kegiatan bermasturbasi ini terus kulakukan setiap ada kesempatan, bahkan sampai saat ini tentunya. Saat ini aku tidak lagi merasa bersalah setelah bermasturbasi. Perasaan bersalah ini hilang setelah aku mulai mengenal apa sebenarnya masturbasi, dan banyak pula orang yang bermasturbasi (hampir 90 persen pria pernah melakukan masturbasi). Di sekolahku selalu diajarkan tentang 'Family Education' sejak SMP dan SMA. Pada pelajaran tersebut kami para siswa diajarkan pendidikan seks. Bukan hubungan seksual, akan tetapi apa yang sebenarnya terjadi pada seorang laki-laki, dan juga apa yang terjadi dengan wanita berkaitan dengan perubahan seksual pada dirinya.

Pada waktu SMP, pendidikan secara terpisah antara pria dan wanita, begitu juga pada saat SMA kelas 2. Akan tetapi ketika SMA kelas 3, Pendidikan seks tidak dipisahkan antara pria dan wanita, dan sudah mulai membicarakan tentang seksualitas, ketertarikan pada lawan jenis dll. Dan sejak saat itulah aku mengetahui bahwa masturbasi adalah wajar dilakukan manusia, baik pria maupun wanita, karena itu adalah cara manusia mengurangi ketegangannya, oleh karena itu masturbasi masih bisa diterima, selama tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. (Aku bersyukur bisa mendapatkan Family Education seperti ini). Selain Famili Education, beberapa seminar tentang ini juga membuatku percaya bahwa masturbasi bukanlah perbuatan yang amoral. Perlahan-lahan perasaan bersalah ketika bermasturbasi itu hilang dan aku jadi melakukannya dengan tenang. Setelah aku dewasa aku baru tahu bahwa ternyata kebiasaan bermasturbasi berhubungan erat dengan kebiasaan berbohong. Dan ajaibnya, kebiasaanku berbohong bersamaan dengan hilangnya perasaan bersalah yang timbul setelah bermasturbasi

Sunat
Kilas balik.., kelas 6 SD, aku baru tahu yang namanya hubungan seksual. Teman-temanku yang sudah duluan memasuki usia remaja banyak yang bercerita tentang payudara wanita, bulu kemaluan yang mulai tumbuh, dan juga menceritakan tentang hubungan seksual. Aku baru tahu bahwa alat kelaminku dapat dimasukkan ke alat kelamin wanita dan menyebabkan nikmat. Saat itu pula aku tahu arti kata 'perkosa' (semula aku mengira perkosa = siksa), 'ngentot' (aku pernah dimarahi guru SD-ku, karena aku memaki teman ku dengan kata 'ngentot' yang aku sendiri tidak tahu artinya), 'ngewe' dll.

Saat usia itu aku sudah menyadari bahwa sunat adalah pemotongan foreskin. Dari sekian banyak temanku yang disunat aku mendapat keterangan bahwa disunat tidak terlalu sakit, sakit sedikit. Biasanya orang tua mereka akan berkata demikian ketika aku datang pada syukuran sunatan temanku. Semakin bertambah umur, semakin banyak daftar nama temanku yang sudah di sunat, termasuk teman-teman paling dekat denganku mulai disunat seiring dengan mulai memasuki usia akil baliq. "Semakin besar akan semakin sakit, lo", begitu banyak komentar seperti itu yang kudengar, apalagi kalau menguping percakapan orang dewasa.

Keinginanku untuk disunat bertambah besar, sudah sangat meluap-luap, bahkan sudah sejak aku kecil. Aku merasa bahwa aku semakin berpacu dengan waktu (karena sudah mulai menginjak SMP pada waktu itu). Aku tidak pernah meminta kepada orang tuaku untuk mengantarkan aku untuk disunat, aku malu (aku tidak terbiasa meminta kepada orang tuaku untuk hal-hal yang kuinginkan, aku seorang yang tertutup dan pemalu). Terlebih lagi, aku dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang menganut faham yang tidak mewajibkan anak laki-laki untuk disunat. Ayahku sebenarnya disunat, dan Ayahku mengatakan bahwa dirinya disunat sejak kecil.

Sampai akhir kelas 1 SMP aku masih belum disunat, bulu-bulu kemaluanku mulai tumbuh. Saat liburan, temanku yang belum disunat hampir semua disunat, jadi tinggal aku. Dan seringkali pada saat sedang sendiri, aku memainkan foreskin, dan membayangkan kalau foreskin itu hilang (foreskin-ku cukup panjang, aku bisa menjilat ujung foreskin-ku sendiri).

Suatu saat aku bermasturbasi dan tidak sengaja foreskin-ku kutarik agak kuat sehingga kepala kemaluan muncul sedikit. Merah sekali, dan ketika kusentuh, aku merasakan seperti aliran listrik yang menyengat pada kepala kemaluanku sedikit sakit, geli, dan nikmat, begitu sensasional. Ketika kucium tanganku, ternyata bagian kepala penisku berbau kurang sedap. Sejak saat itulah aku mulai berusaha membuka kepala penisku dengan menarik foreskin. Tidak mudah, karena ujung foreskin-ku agak sempit, sehingga kepala penis tidak dengan mudah menyembul tanpa menyebabkan rasa sakit. Aku terus berusaha untuk membukanya. (Aku tidak tahu bahwa kepala penis seharusnya bisa tersembul keluar ketika seusiaku, untuk mengakomodir apabila ereksi.) Namun foreskin-ku sangat panjang sehingga aku tidak pernah merasa terganggu pada saat ereksi.

Pada saat ereksi, foreskin-ku dapat meregang dan masih menutupi kepala penis, hanya lubang penis yang sedikit menyembul keluar (mungkin karena sejak kecil aku biasa menarik-narik foreskin-ku sendiri sehingga kulit foreskin-ku menjadi panjang), dan memang apabila dibandingkan dengan teman-temanku, foreskin-ku lebih panjang.

Suatu hari, ketika keinginan tahuku begitu meluap, karena ingin melihat kepala penisku sendiri, aku menarik foreskin-ku dengan agak dipaksa (saat penis sedang tidak terlalu besar), dan aku merasakan sakit yang luar biasa pada foreskin-ku ketika kepala penisku menyembul muncul. Wah, deg-degan rasanya. Sakit namun sangat senang, karena bentuknya persis seperti penis yang sudah disunat. Akhirnya dapat juga penisku berbentuk seperti penis yang sudah disunat. Betapa senangnya aku pada saat itu. Akupun menyentuh kepala penis (yang saat itu tampak seperti dilapisi oleh sesuatu berwarna keputihan (smegma)) dan terasa seperti terkena setrum, sensasional. Namun sayangnya posisi terbuka ini tidak dapat bertahan lama, karena begitu tidak dipegang, maka foreskin akan menutup kembali, dan kepala penisku kembali terselubung oleh foreskin.

Suatu saat, aku tengah membuka kepala penisku, tapi aku menarik agak terlalu keras, sehingga tampak kulit foreskin yang masih menempel pada corona terbuka (corona = area kepala penis yang melebar, yang menghubungkan batang dan kepala penis, bagian ini termasuk bagian kepala penis yang paling peka). Aku merasakan sakit yang luar biasa, dan pada corona tampak kulitnya memerah. Semakin lama, kulit foreskin yang terlepas dari corona semakin melebar, sampai akhirnya lepas dari sekeliling corona. Selama proses ini aku merasa tersiksa, karena mengalami sakit yang luar biasa, tapi anehnya diiringi perasaan yang sensasional, perih namun nikmat.

Terbukanya seluruh kepala penis dan juga terkelupasnya foreskin dari corona membuat keinginanku untuk disunat bertambah besar, namun aku tetap segan untuk mengungkapkan keinginanku untuk disunat kepada orang tuaku. Dan ternyata orang tuaku tidak mau mengajakku untuk disunat karena mereka berpikir bahwa aku takut disunat. Penasaran akan keinginan disunat terus menggebu pada diriku.

Pada liburan kenaikan kelas 1 SMP ke 2 SMP seluruh teman di kompleks rumahku yang seusia sudah disunat. Jadi, tinggal aku saja yang belum disunat. Wah. Pikiran tentang sunat tersebut mulai menghantuiku, "Kalau bertambah besar, maka kemungkinan akan semakin sakit dan sembuhnya semakin lama, ditambah lagi, tentunya aku akan malu jika rambut dikemaluanku semakin panjang (well, saat itu kan aku masih remaja)". Aku harus segera disunat, tapi aku masih takut untuk bicara kepada orang tuaku. Cerita-cerita di film-film tentang self mutilation, seperti Yakuza yang memotong jari sendiri, dan melihat buku-buku yang banyak di rumahku, yang melihatkan anak di daerah-daerah yang disunat tanpa dibius dan dijahit (di Afrika dll), mungkin anda juga ingat di koran pernah dimuat seseorang yang mengoperasi sendiri dan mengangkat sendiri batu ginjalnya, berita-berita ini menjadi ide buat diriku untuk menyunat diriku sendiri. Kalau cepat dan dengan benda yang sangat tajam, pasti tidak begitu sakit, begitu pikirku.

Berpacu dengan liburan kenaikan kelas, aku tekadku sudah bulat, aku akan menyunat diriku sendiri, maka suatu hari aku mempersiapkan segala keperluan seperti kapas, obat merah, perban, cutter, alkohol, lilin dll. Keesokan harinya, ketika seluruh keluarga sedang tidur siang, aku membersihkan seluruh foreskin dan kelaminku bersih-bersih, saat itu juga aku bermasturbasi supaya aku tidak ereksi pada saat pemotongan foreskin, soalnya selain sulit, pasti juga akan terasa sakit jika ereksi sebelum luka sembuh (begitu keterangan yang aku peroleh dari temanku yang sudah disunat). Selesai membersihkan kemaluanku, aku bersiap-siap, kamar aku kunci dan mulailah dengan ritual, aku mengambil cutter dengan isi baru yang belum ada karat, dan untuk mensuci hama kuberi alkohol dan dibakar di lilin. foreskin-ku kusapu dengan alkohol dengan menggunakan kapas yang telah kusiapkan banyak-banyak. Sedikit konflik dalam pikiranku tentang seberapa banyak foreskin yang harus dipotong.

Akhirnya kuputuskan untuk memotong setengah dari panjang foreskin-ku, dengan pertimbangan bahwa jika ternyata disunat itu tidak enak, maka aku masih memiliki foreskin, tapi jika ternyata menyenangkan, aku masih bisa memotongnya suatu saat. Akhirnya dengan panas dingin dan debar jantung yang sangat kuat, aku mengikat foreskin-ku dengan tali kecil (aku berpikir ini akan mengurangi darah yang keluar dan juga mengurangi rasa sakit). Dengan cepat aku memotong foreskin-ku dengan cutter. Sakit yang teramat sangat kurasakan ketika cutter menyobek foreskin-ku, darah mengalir dari luka tersebut, namun tidak seluruh foreskin-ku terpotong. Aku menjadi bertambah bingung, darah mengalir dan belum terpotong semua. Untuk memotong lagi, rasanya aku tidak sanggup lagi karena sakit sekali rasanya. Segera kuteteskan obat luka dengan kapas dan berusaha untuk menutup kembali luka tersebut dan menguatkan ikatan tali kecil di foreskin-ku.

Aku tidak kuat lagi dan bingung sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk membalut foreskin-ku dengan perban dan tidur. Aku berharap bahwa darah akan berhenti mengalir ketika aku bangun tidur. Sore harinya ketika aku bangun tidur aku melihat bahwa darah belum berhenti, aku menjadi sangat panik. Aku harus memberitahu orang tuaku agar dibawa ke dokter dan lukaku harus dijahit. "Oooh my God..." Aku tidak mungkin berterus terang mengatakan bahwa aku telah berusaha menyunat diriku sendiri.

Di tengah galau pikiranku, muncul ide cemerlang, aku memecahkan gelas minum, dan menempelkan darah pada pecahan gelas. Disusunlah cerita bahwa aku mandi, kemudian secara tidak sengaja handuk terkena gelas hingga jatuh, dan pecahan gelas tersebut kembali jatuh ketika aku mengangkatnya dan mengenai kulit foreskin-ku. Hal ini di dukung bahwa aku punya kebiasaan hanya berhanduk saja ke kamar dan baru menggunakan baju di kamar tidurku.

Dengan berdebar-debar aku menyampaikan cerita ini kepada orang tuaku. Orang tuaku panik sejadi-jadinya, mereka takut kalau penisku juga ikut terluka. Mereka memeriksa dengan hati-hati penisku dan segera membawa aku ke rumah sakit. Aku berdebar-debar. Ibuku mengatakan bahwa jangan takut, penisku tidak terkena. Lalu dia berkata bahwa ada kemungkinan bahwa kemungkinan hanya akan dijahit lukanya dan tidak perlu takut, karena tidak sakit karena dibius terlebih dahulu. Aku hanya mengangguk lemas. Dalam pikiranku aku hanya menyesali tindakanku.

Setelah diperiksa oleh dokter UGD, mereka berdiskusi dengan orang tuaku, dan aku mendengar bahwa mereka menyarankan dan meminta persetujuan orang tuaku agar aku disunat saja. Mereka menyebutkan alternatif jika dijahit, dan juga tentunya biaya yang harus dibayar orang tuaku. Tidak lama kemudian Ibuku mengatakan bahwa aku akan disunat! Ibuku menenangkanku, dan mengatakan bahwa aku tidak usah takut disunat, apalagi aku sudah besar katanya. Ahhh, pada akhirnya aku disunat juga! Hatiku berbinar-binar senang karena pada hari itu aku mengalami peristiwa yang kutungu-tunggu sejak aku kecil. Akhirnya dokter UGD menyunatku, dan parahnya, bius lokal yang mereka berikan sudah habis efeknya sebelum proses jahit selesai. Rasa sakit luar biasa aku rasakan pada saat foreskin-ku dijahit oleh dokter.

Luka bekas sunatku baru sembuh kira-kira satu bulan setelah sunat, karena ada sedikit infeksi karena penisku sudah mulai menggantung dan selalu kontak dengan skrotum kontak inilah yang menyebabkan luka tersebut tidak cepat mengering dan terkena kuman. Walaupun aku sudah bisa menggunakan celana ketika 10 hari setelah sunat (dengan luka tetap diperban), namun atas saran dokter, aku tetap menggunakan sarung dan tidak menggunakan celana dalam sampai infeksi sembuh dan kering. Jadi aku hanya mengenakan celana selama sekolah dan pulang sekolah aku kembali menggunakan sarung tanpa celana dalam sepanjang hari. Rasa geli-geli nikmat terasa saat kepala penisku mengenai sarung. Dan celakanya sampai saat ini aku punya kebiasaan untuk tidak mengenakan apa-apa ketika tidur. Bahkan walaupun aku menggunakan celana saat tidur, secara tidak sadar pasti aku akan membuka seluruh celana hingga aku tidak menggunakan apa-apa kecuali pakaian atas (kaos, atau piama).

Kebiasaan ini tidak pernah hilang pada diriku. Oleh karena itu, aku selalu sulit apabila diajak untuk tidur bersama orang lain dalam satu kamar, karena pasti waktu terbangun aku menemukan aku sudah tidak mengenakan celana sama sekali. Aku mencoba dengan menggunakan celana yang sulit dibuka, tapi tetap saja kebiasaan ini tidak bisa hilang. Aku bahkan tidak pernah sadar membuka sendiri celanaku ketika tidur. Anda mungkin tidak percaya, tapi aku tidak berbohong mengenai ini. Sampai saat ini aku selalu tidur tidak mengenakan penutup tubuh bawah. Untunglah isteriku memaklumi keadaanku ini, dan mungkin malah dia senang dengan hal ini.

Jika aku ditanya tentang bagaimana perasaanku setelah aku disunat, dengan tegas aku katakan bahwa aku justru merasa tidak senang dengan kondisi penisku yang sudah disunat. Mengapa? Karena tidak nyaman saat bermasturbasi. Kepala penis langsung bersentuhan dengan tangan dan menyebabkan rasa yang kurang nikmat. Aku menjadi sangat tidak senang dengan kondisi ini, sehingga cara bermasturbasiku kuubah, aku tidak lagi menggosokkan tanganku, tapi aku menggosok-gosokkan kemaluanku ke permukaan yang agak lembut seperti kain yang lembut, selimut dll. Apabila Anda melihat selimutku pada waktu remaja, penuh dengan bekas spermaku. Aku menyesal bahwa aku disunat, dan seperti orang sering bilang, penyesalan datang selalu belakangan. Aku juga menjadi percaya bahwa sunat dapat mengurangi kebiasaan bermasturbasi.



Oleh: tumbuhlagi@yahoo.com


NAMA ANDA - 01.06

Antara Teori dan Praktek 02




Hubungan Seksual Sebelum Menikah & Keperawanan
Secara jujur, aku mengatakan bahwa aku telah melakukan hubungan seksual pertama kali ketika aku sedang duduk di bangku SMA. Hubungan seksual pertama kali itu kulakukan dengan pembantuku. Apabila dalam cerita-cerita biasanya diceritakan pembantu itu bahenol, seksi dll. Secara jujur aku katakan bahwa pembantuku itu jauh sekali dari cantik, bahkan lebih tepat jelek. Jauh sekali dari yang namanya seksi, bahenol dll. Pembantuku ini type kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata). Apa yang menyebabkan aku berhubungan seksual dengannya adalah nafsu yang menggebu-gebu dan juga rasa ingin tahu yang kuat.

Aku sering menonton blue film dengan teman SMA-ku. Biasanya aku penasaran setelah nonton dan selalu timbul rasa ingin mencoba. Aku memang sudah punya pacar, tapi tidak terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan melakukan hubungan seksual dengan pacarku yang alim, bahkan aku hanya beberapa kali saja mencuri-curi untuk mencium pipinya. Dengan pembantuku, aku sering bertanya-tanya tentang rasa berhubungan seksual. Dia seorang janda yang dicerai oleh suaminya. Dia bercerita tentang pengalamannya setelah kupaksa untuk bercerita. Aku juga memancing-mancing dia agar dia ingin melihat kemaluanku. Aku selalu bercerita bahwa aku merasa tidak senang dengan keadaanku yang sudah disunat (pada saat aku disunat, dia sudah menjadi pembantu rumah tangga di rumahku).

Ketika aku sudah memperlihatkan kemaluanku, rupanya dia menjadi lebih terbuka, terkadang dia mengolok-olok bahwa kemaluanku lebih kecil dibandingkan bekas suaminya, kemaluanku kecil, dll. Tapi dia akhirnya menjadi senang memegang-megang kemaluanku jika kuperlihatkan kepadanya. Dia mengatakan bahwa dia senang kalau memegang penis pria yang kembang kempis waktu ereksi, 'lucu' katanya.

Semakin lama semakin sering dia memegangi, mengurut, bahkan mengulum kemaluanku tanpa kuminta. Terkadang malah dia yang memegang-megang kemaluanku apabila ada kesempatan (rumah kosong atau sedang tidur siang). Aku menjadi tambah ingin tahu tentang kelamin wanita. Aku memang sudah biasa melihat di Blue Film, tapi tidak aslinya. Suatu saat aku memintanya untuk menunjukan alat kelaminnya kepadaku. Setelah didesak dan setengah dipaksa, akhirnya dia mengajak masuk ke kamarnya dan dia membuka celananya. Di situlah aku pertama kali melihat kelamin wanita dewasa ketika aku telah masuk usia akil baliq (remaja). Rasa ingin tahuku bertambah besar ingin melihat isi 'dompet wanita' itu. Aku minta dia berbaring dan aku ingin melihatnya. Semula dia menolak karena malu, tapi setelah aku desak dia mau juga.

Perlahan dia mengangkangkan kakinya di atas tempat tidur, dan aku berlutut melihat kemaluannya yang ditutupi bulu-bulu keriting. Aku tidak bernafsu saat itu, akan tetapi aku sangat senang melihat bentuknya dan juga rasa ingin tahuku mengalahkan nafsuku. Perlahan kubuka labia mayora, labia minora, dan aku merasakan bahwa lubang kemaluannya begitu basah. Saat itu aku tahu bahwa dia bernafsu sekali untuk melakukan hubungan seksual karena pada saat itu dia mengatakan, "Ayo.., ayo..", tapi aku sendiri tidak menghiraukan dan masih ingin tahu, perlahan kumasukkan jari tanganku ke dalam lubang vaginanya yang basah, ada perasaan yang sangat nyaman terasa di jariku. Dinding vagina begitu lembut, basah dan licin. Luar biasa, seumur hidupku, aku baru pernah melihat, meraba dan memasukkan bagian tubuhku ke alat kelamin yang bernama vagina! Saat itu aku tidak tahu bahwa clitoris adalah bagian yang paling sensitif, bahkan aku tidak memperhatikan bahwa di alat kelaminnya ada clitoris. Aku hanya berkosentrasi pada lubang kemaluannya saja yang terasa begitu menyenangkan untuk dipegang.

Didorong oleh penasaran, pembantuku nekat memaksaku membuka celana dan memintaku untuk berhubungan seksual dengannya. "Ayo dong masukin..", katanya. Saat dia membuka celanaku, penisku saat itu belum ereksi. Dia menarikku untuk segera memasukkan penisku ke lubang vaginanya yang saat itu memang sudah basah. Memasukkan penisku yang lemas (baru setengah berdiri) ke lubang vaginanya adalah pekerjaan yang sulit. Karena licin, selalu saja kelaminku meleset dan keluar dari lubangnya. Dia penasaran dan akhirnya dia memegang penisku dan memasukkannya ke lubang vaginanya. Belum sempat aku bergoyang lama, baru saja menekan dan mencabut, penisku melesat keluar. Dia frustrasi hingga akhirnya dia memaksa-maksa penisku untuk masuk ke lubang vaginanya. Ketika masuk agak dalam, aku melihat dia menengadahkan kepalanya seperti orang kenikmatan, dan secepat itu pula aku ejakulasi. Tidak ada kesan yang mendalam pada hubungan seksualku yang pertama. Begitu cepat selesai dan aku hampir tidak merasakan apa-apa ketika penisku berada dalam vaginanya. Yang kurasakan adalah sensasi yang luar biasa ketika mendengar deru nafasnya yang terdengar di telingaku.

Dia begitu kesal karena aku menyudahi persetubuhan. "Curang", katanya. Dan sejak itu aku menjadi penasaran dengan yang namanya berhubungan seksual. Aku dan dia bergantian meminta melakukan hubungan seksual, namun selalu aku yang menyudahinya terlebih dahulu dengan ejakulasi terlebih dahulu. Hubungan dengan pembantuku baru dirasa memuaskan dirinya ketika suatu saat, ketika aku sedang tidur siang, dia masuk ke kamarku, mengulum penisku hingga berdiri, dan dia memasukkan penisku ke vaginanya dengan berjongkok di atas tubuhku. Dia yang berada di atas. Aku bisa bertahan agak lama dan baru ejakulasi sesaat atau bersamaan dengannya mencapai orgasme. Hubungan seksual terus berlangsung setiap ada kesempatan dan baru berhenti ketika dia berhenti mengundurkan diri karena dia hamil (Aku tidak tahu apakah itu karena hubungan seks denganku atau dengan pacarnya yang adalah pedagang yang berjualan di dekat rumahku.) Aku menyesali (sekali lagi, penyesalan datangnya selalu belakangan) atas perbuatanku melakukan hubungan seksual. Tapi sungguh, selama aku berhubungan badan dengannya aku tidak pernah merasakan kepuasan yang sesungguhnya, karena aku tidak merasakan apa-apa selain sensasi basah, licin dan lembut pada penisku ketika memasuki lubang vaginanya.

Hubungan seksualku diluar nikah juga pernah kulakukan dengan dua orang pacarku, lama sekali setelah peristiwa itu terjadi. Aku berpacaran dengan 9 orang wanita, dari semuanya, hanya dua pacarku yang pertama saja yang tidak pernah melakukan kontak seksual, dalam arti ciuman berat (French kissing) sampai dengan hubungan seksual. Dan aku pernah berhubungan seksual dengan salah seorang pacarku yang masih perawan. Hal inilah yang ingin kuceritakan, karena berbeda dengan cerita-cerita yang pernah kubaca ataupun buku ilmiah yang kubaca.

Dinda (bukan nama sebenarnya) adalah pacarku yang pertama yang pernah berhubungan seksual denganku. Saat itu aku dan dia adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Aku berpacaran dengannya setelah sekian lama aku tidak berpacaran lagi. Dengan pacarku terdahulu, sebelum dengan Dinda, aku mengalami pengalaman seksualku yang menarik. Walaupun aku tidak pernah berhubungan badan dengannya, dengan dialah aku pertama kali meremas mesra payudara, mengulum puting susu, sambil berciuman mesra. Bahkan dia pacar pertamaku yang pernah mengulum penisku. Aku baru dapat merasakan nikmatnya melakukan kontak seksual dengan orang yang kusayangi. Aku juga menyadari bahwa penisku secara spontan akan berdiri tegak ketika bermesraan dengan pacarku. Sangat jauh sekali perasaan berhubungan seksual dengan pembantu yang tanpa perasaan sayang, cinta dll.

Kembali ke Dinda, aku dan Dinda telah berpacaran sekitar 4 bulan ketika pertama kali aku berhubungan seksual dengan orang yang kusukai. Dinda adalah wanita yang cepat sekali terangsang nafsu seksualnya. Biasanya kalau sudah berdua di tempat kost, dia mulai minta dipeluk, menciumku, dan biasanya kita akhiri dengan petting (dia membuka seluruh pakaian dan hanya menyisakan celana dalam) dan kami melakukan kontak seksual seperti layaknya orang berhubungan seksual. Sampai suatu saat, aku ingin sekali merasakan kembali rasanya penis berada dalam vagina. Saat itu dia masih perawan, karena pengakuannya dia belum pernah melakukan hubungan seksual. Dengan pacarnya terdahulu, dia mengaku hanya pernah mengulum penis pacarnya dan pernah sampai bugil dan menempelkan alat kelamin, tapi dia bersumpah bahwa tidak sampai memasukkan penis pacarnya ke vaginanya. Bahkan dia menambahkan bahwa penis pacarnya sangat kecil, jauh lebih kecil dari penisku (padahal penisku tidak bisa dibilang besar, karena tidak lebih dari 6 - 7 inchi).

Aku tidak begitu ingat persis kejadian detailnya, tapi saat itu kami akan memasuki petting, dan aku meminta agar boleh membuka celana dalamnya. Dia hanya mengatakan 'apa harus?', aku tidak menjawab, aku hanya mengatakan bahwa aku tidak akan memasukkan penisku, hanya memainkannya di luar dan menggesekkannya di bibir vaginanya (sebelumnya aku pernah memasukkan jari tanganku ke dalam lubang vaginanya ketika bermesraan).

Saat sedang menggesek-gesekan penisku, aku merasakan bahwa vaginanya sangat basah dan licin, timbul niatku untuk merasakan hubungan seksual. Saat itu penisku masih belum terlalu besar, dan perlahan aku mulai menyelipkan penisku di lubangnya. Dan kumain-mainkan, dengan bantuan tanganku kumasukkan penisku yang masih belum ereksi ke liang vaginanya. Setelah berada di lubangnya, perlahan aku mulai mencumbunya, aku menjadi sangat terangsang dan aku merasakan penisku mengeras dan merasakan hal yang sama ketika aku berhubungan seksual dengan pembantuku, basah, licin, lembut. Nafas Dinda mulai memburu dan mulai memejamkan mata dan menegadahkan kepalanya. Melihat hal ini aku tambah bernafsu, dan hanya beberapa kali aku menggoyangkan pinggulku, aku cepat-cepat menarik penisku dan ejakulasi di luar vaginanya.

Tidak seperti biasanya Dinda meneteskan air matanya. Ketika aku tanyakan, dia mengatakan bahwa aku sudah memerawaninya, karena dia merasakan bahwa penisku sudah masuk ke vaginanya. Tidak ada darah keluar dari lubang vaginanya maupun di penisku. Tidak ada rasa penisku menembus sesuatu, tidak ada rasa sakit dirasakan oleh Dinda. Dinda sudah mengalami orgasme saat aku mencabut penisku. Tidak ada sensasi bahwa aku menyobek selaput daranya. Aku hanya merasakan basah, licin, lembut dan hangat. Sejak saat itu kami melakukan hubungan seksual jika ada kesempatan, baik di tempat kostku ataupun di tempat kostnya. Aku masih tidak merasakan sensasi yang luar biasa pada penisku saat berhubungan badan dengan Dinda, hampir sama dengan saat aku berhubungan seksual dengan pembantuku, tapi ada rasa nikmat karena bercumbu mesra. Dinda adalah wanita pertama yang pernah kurangsang dengan mulutku (cunnilingus), atau seks oral. Aku pertama kali melakukan seks oral terhadap wanita, dan perbuatan ini sangat menyenangkan bagiku.

Aku dan Dinda akhirnya putus hubungan karena aku merasa ada yang tidak cocok dengan dirinya, selain aku juga kecewa karena ketika hubungan seksual, Dinda seperti boneka dildo, hanya diam, menutup mata dan nafas tersengal. Tidak ada goyangan pinggul ataupun 'perlawanan' lain yang kuharapkan. Bahkan hampir tidak ada erangan atau desahan Dinda pada saat kami berhubungan seksual. Pernah aku meminta dia untuk di atas tapi dia selalu menolak. Kami akhirnya memutuskan hubungan walaupun aku menyesal karena telah 'memerawani' wanita lain dan tidak menikahinya. Oleh karena itu aku memang tidak pernah mensyaratkan keperawanan kepada calon isteriku sejak aku telah melakukan hubungan seksual dengan pembantuku.

Aku tidak pernah mau berhubungan seksual ataupun kontak seksual dengan orang yang tidak kusukai atau kusayangi, selain aku tidak senang, penisku juga sulit untuk ereksi jika hanya berdekatan dengan wanita, bahkan melihat wanita telanjang. Hal ini pernah terjadi pada perempuan nakal yang pernah mengajaku 'check in' di hotel dan mencoba untuk berhubungan seksual dengannya. Dia sudah telanjang, demikian juga aku, tapi kami tidak jadi melakukan hubungan seksual, aku hanya merangsang payudaranya dan memainkan vaginanya dengan tanganku tanpa melakukan cumbuan. Aku hanya mengatakan bahwa aku lelah dan hanya ingin memainkan vaginanya (Padahal dia manis, putih dan body-nya lumayan, lagipula aku tidak perlu membayarnya, hotelpun dibayar urunan).

Hubungan seksual diluar nikah lain kualami dengan pacarku yang lain, Rita. Sebetulnya dia bukan pacarku, tapi pacar temanku. Dia memang akrab denganku karena pacarnya adalah sahabatku di tempat kost. Suatu hari dia bercerita kepadaku bahwa dia baru saja putus dan sedang galau. Rita seorang gadis manis yang sudah bekerja sejak dia lulus D1. Dia gadis yang pandai, manis, putih dan seksi serta imut. Aku sebetulnya sudah tertarik dengan dia sejak dia masih berpacaran dengan temanku, Tommy. Sejak putus dia sering 'curhat' kepadaku dan mulai dekat denganku. Akupun tertarik dengannya, dan aku minta ijin kepada temanku untuk berpacaran dengannya. Saat itu Tommy sudah punya gandengan yang lebih 'seksi' dari Rita, hal itulah yang menyebabkan Tommy memutuskan Rita, setelah Rita memergoki Tommy sedang bermesraan di kamar kostnya.

Akhirnya kamipun berpacaran. Walaupun kami berbeda kota, tapi Rita rajin berkunjung ke tempatku dan menginap di tempat kostku saat akhir pekan (tempat kostku memang agak bebas. That's why I choose this one !). Berdasarkan ceritanya, dia mengatakan bahwa ketika sedang galau, dia pernah mabuk berat dan 'diperawani' oleh teman kerjanya yang juga mabuk berat. Dia tidak menyesalinya saat itu karena dia ingin balas dendam dengan Tommy. Aku masih menjaga perasaannya, jadi aku tidak pernah berhubungan badan dengannya walau kami tidur bersama. Saat itulah aku menceritakan kebiasaanku membuka celana sendiri, dan aku tidak mau ia kaget karena pada saat bangun melihatku tidak mengenakan apa-apa di tubuh bawahku. Dia hanya terbengong-bengong saat aku menceritakan kebiasaanku itu. Beberapa malam kami lewati dengan hanya berpelukan atau sekedar mencium bibir ala kadarnya. Rita seorang wanita yang enak diajak berdiskusi dan mengobrol. Hari-hari kami lewati dengan mengobrol, bercanda, diskusi tentang segala hal termasuk seks.

Setelah sekian lama berhubungan, akhirnya hubungan kami berlanjut dengan melakukan kontak-kontak seksual. Berbeda dengan Dinda, Rita begitu menggelora dan responnya luar biasa ketika petting. Dia selalu menggerak-gerakkan pinggulnya ketika kelamin kami bersentuhan tanpa dibatasi apapun. Namun aku belum mau memasukkan penisku, karena aku tidak ingin dia hamil atau teringat akan trauma yang pernah ia alami. Namun suatu saat, kami begitu bergairah (sayangnya kami tidak tahu apa yang menyebabkan kami berdua begitu bergairah), dia memintaku memasukkan penisku ke vaginanya yang sudah basah sekali. Semula aku menolak, tapi dia terus merengek dan memaksaku untuk memasukkan penisku ke vaginanya, malah dia sendiri membuka kakinya lebar-lebar supaya penisku masuk. Karena tidak tahan dan dia terus memaksa, akhirnya aku memasukkan penisku ke vaginanya.

Sensasi itu terasa lagi, basah, licin, hangat dan lembut. Namun pada saat penisku masuk, Rita merintih kesakitan, sambil menggigit bibirnya sendiri dan terus melirih saat aku bergoyang. Aku tidak tega melihatnya, namun waktu aku tanya dia hanya mengatakan dengan nada lirih bahwa dia merasa sakit, tapi dia tidak ingin hubungan seksual berhenti. Seperti biasa, hubungan seksual terjadi begitu singkat, dan akupun cepat ejakulasi. Hal ini agak mengganggu diriku karena kalau melakukan hubungan seksual, aku cepat sekali ejakulasi tapi jika petting, aku mampu mempertahankan ereksi sampai lama sekali.

Rita selalu menghiburku kalau aku kecewa karena selalu ejakulasi cepat sekali. Tapi satu hal yang aku dapatkan bahwa Rita selalu merasa sakit ketika aku melakukan penetrasi. Apabila aku melakukan penetrasi, Rita selalu berubah menjadi 'boneka dildo' yang merintih. Perbedaan lain dengan Dinda adalah Rita sudah aku bekali dengan ilmu 'Keggel'. Jadi walaupun dia diam, tapi otot-otot vaginanya meremas-remas penisku di dalam vaginanya. Inilah sensasi luar biasa yang pernah kualami selama melakukan hubungan seksual. Hal lain yang aku dapati dari Rita, adalah bahwa Rita mengaku tidak pernah merasakan orgasme sekalipun dalam seumur hidupnya. Dia merasa bahwa tidak pernah melakukan masturbasi, dan walaupun petting denganku sampai satu jam, dia tidak pernah merasakan suatu 'puncak kenikmatan' seksual (karena itulah aku mengajarkannya masturbasi dengan shower ataupun dengan tangan dan senam 'Keggel').

Dari Rita aku mendapat pengalaman yang sangat berharga yaitu bahwa dia merasa hubungan seksual dengan posisi wanita di atas lebih menyenangkan bagi wanita, karena itulah satu-satunya posisi di mana dia tidak menjadi 'boneka dildo', dia menggerakkan pinggulnya, dan hal ini menyenangkan diriku karena penisku merasa lebih nikmat karena seperti diremas-remas. Hubungan kami akhirnya putus karena kami masih berpendirian dengan prinsip dan pegangan hidup masing-masing, dan kami menyadari bahwa kami berasal dari keluarga yang jauh berbeda di mana masing-masing keluarga sulit untuk menerima pandangan hidup keluarga masing-masing. Setelah dengan Rita, aku berpacaran dengan pacarku yang terakhir yang akhirnya sampai saat ini menjadi isteriku yang tercinta.


Oleh: tumbuhlagi@yahoo.com


NAMA ANDA - 01.05

Antara Teori dan Praktek 03




Tentang Petting & Oral Seks
Aku selalu melakukan kontak seksual dengan pacar-pacarku, kecuali dengan dua pacarku yang pertama. Kontak seksual terjauh selain hubungan seksual (coitus) adalah dengan melakukan petting. Baik dengan masih pacarku menggunakan celana dalam ataupun lepas sama sekali. Saat berpacaran, sebetulnya aku lebih senang melakukan petting, karena lebih lama dan seringkali dapat memuaskan pacarku (Kecuali Rita tentunya). Kepuasanku semakin terasa lebih nikmat apabila mengetahui pacarku sudah terlebih dahulu orgasme (aku rasa semua pria akan senang apabila mampu memuaskan pasangannya).

Terlepas dari aturan, norma dan pandangan, aku merasa bahwa petting adalah salah satu alternatif terbaik dalam melakukan kontak seksual selain mutual masturbasi (saling merangsang alat kelamin pasangan dengan tangan). Dengan petting aku mengetahui bagaimana respon seksual pacarku. Demikian pacarku juga mengetahui tingkah laku seksualku sejak kami berpacaran. Aku dapat segera mengambil keputusan bahwa aku akan terus berlanjut dengan pacarku, tentunya salah satunya (bukan satu-satunya!) adalah dengan mempertimbangkan respon dan tingkah laku seksual pacarku. Karena aku yakin bahwa tingkah laku seksual juga akan sangat menentukan keharmonisan rumah tangga.

Selain itu, aku dan pacarku akan sangat merasa bebas tanpa beban ketika melakukan petting, karena tidak terjadi penetrasi. Sehingga tidak terlalu khawatir apabila suatu saat kami harus mengambil keputusan bahwa kami akan berpisah. Petting sendiri kurasakan (dan juga pacar-pacarku tentunya) dapat meredakan tuntutan kebutuhan pemuasan seksual bersama. Dengan petting aku dan pacarku menjadi lebih terbuka dan lebih akrab satu sama lain.

Kontak seksual yang kusukai selain petting adalah cunnilingus, di mana aku dengan bebasnya memandangi bagian tubuh wanita yang paling kusukai dan aku dapat menciuminya, mengulum clitoris, atau menjilati clitorisnya. Gelinjang tubuh pasanganku membuat senang hatiku. Dan hampir semua pacarku mengatakan bahwa pengalaman itu adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi dirinya dalam melakukan kontak seksual denganku. Aku jarang sekali mencium bau kurang sedap dari kelamin pacarku. Apalagi kelamin pacarku terakhir, Vera. Kelamin Vera sama sekali tidak berbau (dan tentu saja tidak wangi). Memang diantara semua pacarku, Vera paling rajin membersihkan organ kewanitaannya setelah dia membuang air, baik buang air besar maupun pipis. Dia selalu membersihkannya dengan sabun. Ada hal yang lain aku rasakan adalah rasa kelamin wanita itu sendiri. Masing-masing mempunyai rasa yang berbeda, sedikit asam, ada yang agak asin, masing-masing mempunyai rasa tersendiri. Aku paling senang melakukan oral seks pada Vera, isteriku. Selain tidak berbau sama sekali, tapi juga tidak berasa. Namun clitoris Vera sangat peka, jadi aku harus ekstra hati-hati dalam memainkannya dengan lidah maupun jari-jariku.

Hubungan Seksual Dalam Pernikahan & Isteriku
Aku merasa senang sekali bahwa Vera menjadi isteriku. Aku memang tidak salah memilih Vera sebagai isteri. Karena selain dia mau menerimaku apa adanya, dia adalah figur wanita ideal menurutku. Dia manis, imut, baik, cerdas, dan manja sekali padaku. Aku merasa bahwa dia selalu memerlukan diriku di sisinya. Aku sayang sekali padanya. Dari penampilan fisik, Vera tidak terlalu ideal, karena tidak memiliki payudara yang besar. Namun payudaranya padat berisi, walaupun kecil. Aku sangat suka sekali melihat kekenyalan payudaranya. Puting payudaranya tidak besar (aku tidak suka yang terlalu besar). Kelaminnya bersih, dan rambut kemaluannya kerap ia cukur (kadang aku yang mencukurnya), yaitu digunting agar tidak terlalu panjang (biasanya hanya sepanjang kurang lebih 2 cm).

Respon seksualnya luar biasa. Vera selalu ikut menggoyangkan pinggulnya apabila kita melakukan kontak seksual. Desah serta rintihan halusnya begitu merangsang. Aku senang sekali jika melihat dia mulai menengadahkan kepalanya, menutup matanya, dan terkadang mengeluarkan desah nafas, erangan ketika mencapai orgasme. Vera tidak segan-segan untuk meminta melakukan kontak seksual denganku. Bahkan karena kita berpacaran jarak jauh, dia suka menelpon dan mengatakan bahwa dirinya sangat ingin melakukan kontak seksual denganku. Tidak jarang Vera mengatakan bahwa dia ingin masturbasi malam itu, atau mengatakan bahwa dia baru saja masturbasi. Vera memang wanita yang aku suka. Dalam melakukan kontak seksual Vera merupakan type wanita yang cepat sekali mengalami orgasme. Apabila ia mengalami orgasme, maka ia akan mengerang, menahan nafas dan menegang. Setelah orgasme, biasanya lemas dan tubuhnya langsung berkeringat. Sayangnya Vera sangat sulit mencapai orgasme yang kedua atau ketiga dalam satu episode. Kami harus melakukan aktivitas lain yang lama, baru dia dapat meraih orgasme yang kedua, ketiga dst.

Dalam melakukan kontak seksual, biasanya Vera lebih dulu mengalami orgasme, baru kemudian aku menyusulnya. Vera sangat pengertian. Ia tetap masih mau melayaniku apabila ternyata aku belum mencapai orgasme. Dia juga memahami ketertarikanku pada bidang seks, dia membiarkan aku melihat gambar-gambar porno dari Internet, majalah dll. Tidak jarang dia ikut nimbrung dan berdiskusi tentang gambar yang kami lihat. Dia juga senang membaca buku tentang pengetahuan seksual dan hubungan seksual yang kubeli. Dan yang aku suka, dia begitu terbuka sehingga dia tidak segan-segan mengungkapkan apa yang ia sukai, apa yang ia tidak sukai denganku. Ia juga sangat memahami bahwa aku sedang menjalani terapi (dari internet) untuk memperbaiki keadaan kelaminku.

Ada hal yang menarik yang kudapatkan ketika melakukan hubungan seksual dengan isteriku, Vera. Sebelum menikah, Vera selalu mengeluh bahwa ia selalu merasa bersalah ketika melakukan kontak seksual denganku, terutama setelah mengalami orgasme. Akan tetapi perasaan itu hilang pada saat kami melakukan kontak seksual pertama kali di malam pengantin. Demikian pula dengan diriku. Biasanya aku tidak mampu untuk mempertahankan ereksi jika melakukan kontak seksual dengan wanita. Akan tetapi ketika kami sudah menikah, hubungan seksual menjadi lebih nikmat, dan aku dapat mempertahankan ereksi dengan baik. Tidak jarang aku dapat menahan ereksi sampai 2 jam tanpa orgasme dalam hubungan seksual yang sangat menggairahkan. Semula aku khawatir bahwa aku salah seorang pria yang tidak dapat memuaskan isteriku. Tapi setelah aku melakukannya dengan isteriku, saat ini aku jadi percaya diri dan hampir tidak pernah aku orgasme sebelum isteriku orgasme. Ternyata tidak terlalu sulit untuk dapat membuat isteriku orgasme. Kepercayaan diriku semakin kuat, dan aku semakin menyingkirkan pikiranku untuk menambah kemampuan seksualku dengan mengkonsumsi obat kuat.

Bersama Vera, aku sudah mencoba beberapa posisi hubungan seksual dalam usia perkawinan baru menginjak dua bulan. Penisku yang semula kurang mampu merasakan kenikmatan dan sensasi lain selain basah, hangat, halus dan licin, kini ada sensasi lain, yaitu seperti remasan-remasan halus dari otot-otot vagina. Terlebih apabila Vera mempraktekkan hasil latihan Keggel ketika melakukan hubungan seksual. Dari Internet pula aku mempelajari beberapa teknik untuk melatih penis agar dapat meningkatkan kemampuan penis, mengeraskan penis serta mengembalikan kepekaan penis. Ada beberapa teknik yang aku praktekkan dan telah kubuktikan bahwa semua teknik ini sangat berguna antara lain tentang Teknik Mempertahankan, Menguatkan Ereksi Serta Meningkatkan Rangsang.

Aku menyesal telah disunat, dan sampai saat ini aku masih menyesali keadaan penisku. Saat ini memang aku sudah lebih dapat menikmati rasa nikmat pada kelaminku ketika melakukan kontak seksual, akan tetapi kondisi penisku masih tetap layaknya penis yang sudah disunat. Kepala penisku masih terbuka dan belum tertutup foreskin.

Semula aku pesimis bahwa foreskin-ku tidak dapat kembali lagi tanpa melakukan operasi plastik. Tetapi secara tidak sengaja, suatu hari aku mendapatkan Homepage yang memaparkan tentang foreskin Restoration (Pengembalian foreskin). Aku melihat homepage itu, dan ternyata aku tidak sendiri, banyak pula pria-pria di belahan dunia, tanpa melihat suku, bangsa dan agama yang telah disunat dan menyesali keadaannya. Mereka mencari cara untuk dapat mengembalikan foreskin mereka. Beberapa metoda telah terbukti mampu mengembalikan foreskin mereka dan mampu menambah rangsangan pada penis mereka.

Dari beberapa homepage tentang foreskin restoration, aku tahu bahwa ternyata di foreskin banyak sekali syaraf-syaraf. Syaraf-syaraf inilah yang akan menerima rangsang berupa gesekan, sentuhan dll. Di samping itu, ternyata foreskin juga mampu untuk menambah ransangan pada clitoris ketika penetrasi. Foreskin juga membantu penetrasi penis. Tidak jarang pula pria yang mengeluh sakit ketika ereksi karena foreskin dipotong terlalu pendek ketika disunat. Beberapa teknik foreskin restoration yang ada saat ini, diantaranya adalah Tapping (dengan tape, cellotape, bandaid, ataupun perban perekat lain), Tugging (dengan memberikan pemberat yang dihubungkan dengan sisa foreskin), dll. Begitu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan foreskin tanpa operasi. Aku mengambil salah satu teknik, yaitu T-Tape atau J-Tape. Teknik ini menggunakan Micropore 3M Tape (yang paling ideal, karena perekatnya lembut dan bahannya kuat dan halus), atau perban rekat lain.

Aku saat ini sudah merasakan manfaat dari foreskin restoration ini, kini foreskin-ku sudah mampu menutupi corona penisku ketika sedang dalam kondisi tidak ereksi. Terkadang foreskin-ku dapat menutupi setengah kepala penis ketika penisku tidak ereksi. Hal ini membuat kepala penisku menjadi agak lembab dan menyebabkan kepekaan kepala penisku bertambah baik. Sayangnya saat ini aku agak kurang rajin melakukan terapi ini, sehingga foreskin-ku tidak bertambah panjang lagi. Selain malas, ternyata mencari Micropore di Indonesia sangat sulit. Aku harus berhemat dengan persediaan Tape Micropore yang kumiliki. Jika anda berminat mengetahui tentang foreskin restoration, anda dapat mencari homepage ini dengan mudah, cari saja di setiap search engine, tulis foreskin restoration, maka anda akan menemukan situs-situs tentang foreskin restoration. Di Situs ini Anda dapat melihat pula contoh-contoh kemajuan yang dialami rekan-rekan kita dari belahan dunia.

Selain metoda tentang foreskin restoration, aku juga mendapat teknik-teknik yang dapat digunakan dalam mempertahankan dan meningkatkan kemampuan ereksi, diantaranya teknik untuk mengeraskan penis. Teknik ini sangat sederhana dan hampir tanpa efek samping. Yaitu dengan memanaskan batang penis, kemudian membuatnya setengah ereksi, dan mengurutnya dari pangkal ke ujung (dekat kepala) penis, tentunya Anda harus menggunakan pelicin supaya tidak lecet. Dilakukan selama 30 menit. Cukup dilakukan 1 kali sehari. Aku melakukannya dan hanya dalam 2 minggu aku merasakan kualitas ereksi (kekerasan) penisku meningkat drastis. Vera juga sangat heran dengan kekerasan penisku yang luar biasa dibandingkan dengan keadaan sebelum aku melakukan terapi terhadap penisku.

Latihan lain adalah latihan Keggel, yaitu latihan mengencangkan otot yang ada di antara skrotum dan anus. Latihan ini sangatlah sederhana, mudah dan hampir dapat dilakukan di mana saja. Caranya mudah, apabila Anda dalam kondisi ereksi, kemudian Anda dapat menggerakkan penis Anda tanpa memegangnya atau menggerakkan badan, tandanya otot tersebut telah berkontraksi. Anda cukup melatih kontraksi otot tersebut dengan mengkontraksikan, melepas, mengkontraksikan, melepas, menahan, melakukannya dengan cepat, kemudian lambat dll. Kemampuan melakukan kontraksi otot ini akan membantu menahan orgasme, disamping menambah kuat ereksi dan juga menambah rangsangan bagi wanita apabila dilakukan kontraksi-kontraksi pada saat melakukan penetrasi.

Terkadang aku dan Vera saling melakukan rangsangan dengan hanya memainkan atau mengkontraksikan otot ini. Aku mengkontraksikan ototku dan dampaknya penis dalam vagina Vera bergerak-gerak dan menggelitik dinding vagina Vera. Kemudian Vera membalasnya dengan menggerakkan otot yang sama pada dirinya yang berdampak penisku serasa dicengkeram dengan kuat oleh vagina Vera. Hanya dengan berdiam diri (saat aku sedang menahan orgasme), aku dapat mencumbu Vera dengan mencium leher, pipi dan telinga Vera serta menggerak-gerakkan penisku saja. Vera juga demikian, ia mendukungku agar aku tidak orgasme, ia tidak melakukan gerakan selain gerakan pada ototnya yang berdampak penisku teremas dan kekerasan penis semakin kuat.

Dari pengalamanku bersama Vera aku tahu bahwa jika penisku dimasukkan sebelum mengalami kekerasan maksimal, aku akan cepat ejakulasi. Akan tetapi apabila penisku telah ereksi secara sempurna maka hubungan seksual akan berlangsung lama dan memuaskan kedua belah pihak. Oleh karena itu Vera selalu akan merangsang penisku agar ereksi sempurna, baru kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Saat ini aku merasa bahwa aku seorang pria, suami yang sangat berbahagia, oleh karena itu aku ingin membagikan pengalaman-pengalaman seksualku dengan orang lain. Mudah-mudahan aku dapat membujuk Vera untuk juga mau membagikan pengalaman serta pengetahuan serta perasaannya kepada Anda semua.

Mudah-mudahan pengalaman-pengalaman seksual saya dapat berguna bagi Anda. Apabila Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang hal-hal yang aku alami, atau ingin memberikan komentar, ingin bertanya, atau ingin melakukan penelitian atas pengalaman seksualku, aku dengan senang hati akan berbagi pengalaman dengan orang lain. Pesan saya adalah, jangan melihat tulisan ini dari sudut agama, moral ataupun adat. Lebih baik Anda melihat tulisan saya sebagai informasi, atau sharing.

Jika ada yang ingin berkomunikasi, silakan hubungi saya.


TAMAT
Oleh: tumbuhlagi@yahoo.com


NAMA ANDA - 01.05

Rabu, 16 Januari 2013

Petunjuk Nikmat bagi Wanita

Rabu, 16 Januari 2013


Dalam hal kepekaan seksual, maka clitoris memegang peranan yang sangat penting. Clitoris terletak di ujung atas kemaluan (vagina), tepat diantara bibir dalam dan bibir luarnya, serta tersembunyi dalam lapisan seperti daging tipis (kulup). Bila kita terangsang secara seksual, maka clitoris akan membengkak dan menjadi tegang. Clitoris sendiri relatif kecil sekali. Bagian yang bisa kita lihat hanyalah semacam "kelenjar" atau kepala clitoris saja. Kelenjar ini, berhubungan dengan crura (yang panjangnya sekitar 6-7 cm) dan crura ini berhubungan dengan tulang panggul. Tiga bagian inilah sesungguhnya yang disebut clitoris.
Buah dada kita beserta putingnya juga memiliki kepekaan seksual. Puting buah dada kita akan menjadi tegang bila kita terangsang.

Hal penting dalam masturbasi
Wanita akan menikmati orgasme (puncak kepuasan) dengan rangsangan langsung maupun tidak langsung pada clitorisnya. Cara yang paling penting dalam masturbasi adalah merangsang clitoris dengan jari. Carilah tempat yang tenang, dimana anda dapat santai dan sekaligus konsentrasi menikmati sensasi. Mulailah dengan membayangkan hal-hal yang merangsang nafsu anda sambil menggosok-gosok clitoris anda. Bagaimana tepatnya menggosok, terserah anda, yang penting anda merasa nikmat. Cobalah macam-macam gosokan, menekan, memilin, atau mencubit, dan rasakan mana yang paling enak. Semakin lama anda terangsang, kemaluan anda akan mulai basah. Anda boleh membasahi jari anda dengan cairan kemaluan atau ludah agar gosokan pada clitoris makin licin. Sementara itu, anda boleh juga memilin-milin puting buah dada anda dengan tangan yang lain, atau bahkan tangan satunya juga ikut merangsang sekitar bibir kemaluan anda sendiri. Cobalah membuka penutup clitoris anda agar gosokan jari anda makin terasa pada clitoris. Bacalah juga bacaan-bacaan erotis. Ini akan membuat anda makin berfantasi yang mempercepat pencapaian kepuasan.

Bagaimana saya tahu.. ?
Bagaimana saya tahu kalau saya sudah mencapai kepuasan (orgasme). Orgasme adalah rasa lega sebagai puncak dari rasa geli nikmat yang didapat dari rangsangan seksual dalam bentuk otot-otot yang mengejang berkali-kali. Bila badan anda mulai bergerak sementara rasa nikmat mengalir ke seluruh tubuh, itu saat anda mulai merasakan orgasme. Clitoris anda, kemaluan serta lubang dubur akan mengejang berkali-kali selama orgasme berlangsung. Kemungkinan clitoris anda menjadi sedemikian sensistif sampai anda tidak tahan untuk menggosoknya lagi karena sangat geli. Tetapi juga ada wanita yang langsung mampu menggosok clitorisnya lagi setelah orgasme untuk mencapai kenikmatan selanjutnya. Orgasme bisa merupakan puncak kepuasan dan kenikmatan secara fisik maupun emosi. Anda bisa merintih-rintih selama atau sesudah orgasme. Biarkan semua emosi keluar selama orgasme, karena dengan demikian kita akan merasa lebih tenang dan relaks. Konsentrasikan pikiran pada kenikmatan yang dicapai.

Sarana lain untuk masturbasi
Shower
Tempat yang paling banyak dipakai oleh wanita untuk masturbasi adalah shower. Mungkin dikarenakan saat mandi di shower, wanita mudah terangsang. Bila ujung shower bisa digerakkan dan mengarahkan langsung semprotan airnya ke kemaluan dan juga clitoris, maka rangsangannya juga makin meningkat. Aturlah panas air serta tekanan semprotan sesuai selera anda. Paling baik kita mulai dengan semprotan yang tidak terlalu keras dan selanjutnya ditingkatkan. Makin keras semprotan air, makin terasa rangsangannya pada clitoris anda. Air hangat biasanya yang paling enak. Banyak wanita yang bisa mencapai orgasme dalam beberapa menit dengan cara semprotan shower langsung pada clitorisnya ini.

Jacuzzi
Kalau anda bisa memakai Jacuzzi secara pribadi, cobalah menikmati semburan air yang dipancarkannya. Menghadaplah ke dinding darimana air memancar, tepatkan vagina atau clitoris anda di dekat semburan airnya. Hati-hati jangan terlalu dekat dengan lubang airnya, karena semburan airnya sangat keras. Mulailah dari agak jauh, bila masih kurang terasa di clitoris anda, majulah sedikit sampai benar-benar pas dengan selera anda.

Vibrator
Vibrator yang biasanya dipergunakan untuk memijat, bisa juga dipergunakan untuk masturbasi. Tak perlu anda sentuhkan langsung ke clitoris anda, tapi cukup dengan menggerak-gerakannya di bagian luar sekeliling vagina anda. Baru setelah anda terbiasa, sentuhkan pelan-pelan ke clitoris anda.

Dildo
Jangan sekali-kali memasukkan benda yang tajam, bisa pecah atau kotor. Bila anda memakai dildo, bungkuslah dengan kondom. Dildo dibuat dari plastik atau karet yang lentur, biasanya berbentuk penis lengkap dengan guratan-guratan otot seperti aslinya. Agar terasa kenikmatan menggunakan dildo, pertamakali gosok dulu clitoris anda sampai tegang, barulah masukkan dildo ke dalam liang vagina anda. Bila vagina anda masih terasa kering, pakailah hand and body lotion atau Nivea cream. Pelan-pelan gerakkan dildo keluar masuk liang vagina anda sementara tangan yang satu terus merangsang clitoris. Ada dildo yang dilengkapi dengan perangsang clitoris, sehingga setiap kali ditekan ke dalam, dildonya akan menggesek clitoris.


TAMAT
Oleh: yuni_12@hotmail.com


NAMA ANDA - 09.38

Jumat, 11 Januari 2013

Bangkitnya Gairah dan Kenikmatan

Jumat, 11 Januari 2013


Apa yamg membuat seseorang menarik bagi yang lainnya, dengan mengabaikan orang ketiga? Jawabannya belum diketahui. Tapi nampaknya setiap orang sudah mulai membentuk pola masing-masing di masa anak-anak. Pola tersebut diperoleh dari kenangan masa kecil dan fantasi yang didapat dari orang tua dan teman-teman. Pola ini bertambah, dimodifikasi, diperluas dan ditulis ulang seiring dengan pertumbuhan orang tersebut, sampai menghasilkan pola yang unik. Ia menciptakan dan mengidentifikasi tipe orang yang secara seksual menarik baginya. Bila bertemu dengan orang tipe seperti itu, mereka akan membentuk hubungan yang lebih dekat. Mungkin bersifat emosional atau fisik, tapi biasanya kedua-duanya. Dengan hubungan tersebut, mereka dapat saling mempelajari kepribadian satu sama lain dan menjadi lebih dekat, atau sebaliknya, berpisah. Jika hubungan menjadi lebih dekat, gairah seks dan kenikmatan meningkat.

Semua indra penglihatan, suara, rasa, bau dan sentuhan dilibatkan dalam meningkatkan gairah seksual. Penglihatan nampaknya merupakan perangsang yang potensial bagi pria dan memegang peranan dalam permainan erotika, dengan menggunakan tubuh wanita sebagai simbol seks. Di negara-negara Barat, payudara wanita, baik dalam keadaan tersembunyi oleh pakaian ataupun telanjang, dan pantatnya, dianggap membangkitkan gairah seks pria. Bau tubuh yang bersih merangsang bagi kedua jenis kelamin, dan dibanyak kebudayaan, parfum, yang biasa dijual dengan nama provokatif berbau seks, digunakan oleh wanita sebagai kesenangan mereka sendiri dan untuk menarik pria. Bau yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan penolakan seksual. Wanita mempunyai cita rasa bau yang lebih jelas daripada pria, sehingga bau tidak sedap dari seorang pria dapat menimbulkan tekanan seksual pada wanita. Bunyi, dari suara atau musik, dapat membangkitkan gairah seks, seperti rasa dari rambut, bibir atau tubuh seorang pasangan.

Pada umumnya, orang merasakan sentuhan yang berasal dari kontak tubuh paling membangkitkan gairah seks dibanding indera lain. Kebanyakan pria dan wanita bangkit gairahnya ketika saling mencium atau memeluk, khususnya ketika bagian-bagian tubuh paling erotis disentuh. Setiap orang mempunyai bagian tubuh erotis sendiri. Pria umumnya terangsang oleh penglihatan dan rasa dari payudara wanita, pantat dan vulva. Sedangkan kebanyakan wanita terangsang oleh pantat dan alat kelamin pria. Beberapa yang lain terangsang oleh bagian tubuh yang lain. Anda sendiri dapat menemukan bagian mana dari tubuh anda dan pasangan yang paling membangkitkan gairah seks.

Komponen emosi dan fisik yang menyebabkan bangkitnya gairah seks akan menimbulkan keinginan seksual. Keinginan seksual adalah persaan ingin menyentuh dan menjelajahi organ orang lain dan mungkin juga berhubungan kelamin, atau secara seksual dirangsang dengan cara lain. Keinginan seksual menyebabkan perasaan nikmat, yang menimbulkan perubahan fisik, yang telah diamati dan dijelaskan. Beberapa diantaranya telah dikenal selama beberapa abad. Karena seksualitas wanita merupakan pengalaman bersama dan setiap pasangan (seharusnya) memperoleh kesenangan dan kepuasan, saya rasa berguna menjelaskan apa yang terjadi pada setiap jenis kelamin jika kesenangan seksual dilanjutkan dan tidak ditekan.

Respon seks pria
Tanda paling jelas dari bangkitnya gairah seks pada pria adalah ereksi penis. Panjang dan diameter penis membesar. Dengan semakin terangsang pria itu, sedikit atau banyak yang dihasilkan dari mata penis dan meminyaki kepala penis. Baik penis tersebut mempunyai kulit kulup atau tidak. Setelah penis ereksi, pria mencapai keadaan dimana rangsangan seks tambahan akan membuatnya menginginkan hubungan seks. Atau dengan mengocok penis sehingga dia dapat mencapai orgasme dan ejakulasi. Dalam ereksi, panjang penis membesar kira-kira dua kali ukuran semula, menjadi 9,5 cm.

Ada beberapa kesalahan yang dikaitkan dengan penis. Pertama, semakin besar penis, semakin baik pria itu menjadi kekasih. Ini tidak benar, karena ukuran penis tidak berhubungan dengan fungsi. Pria dengan penis kecil secara seksual sama saja dengan pria berukuran penis besar, dan dapat memberikan kepuasan seksual yang sama besar. Kesalahan kedua, pria yang disunat lebih lama mencapai orgasme, sehingga lebih siap membantu wanita mencapai orgasme. Bukti-bukti menunjukkan, tidak ada perbedaan waktu untuk mencapai orgasme antara pria disunat dan yang tidak. Tentu saja, perbedaan yang menyolok antara dua pria ditemukan pada saat mereka mencapai orgasme. Tetapi disunat atau tidak bukanlah salah satu faktor. Setelah ereksi penis terjadi dan rangsangan dilanjutkan, pria akan berusaha mengadakan senggama atau bermasturbasi. Dalam hal ini ada sedikit perbedaan menyangkut penis.

Selama senggama, pria memasukkan penis dan mengeluarkannya dari vagina pasangannya. Selama masturbasi dia merangsang penis dengan memegangnya dengan lembut dan mengusap-usap sepanjang batang penis. Dengan semakin mendekati orgasme, pria itu mengetahui dalam beberapa saat akan terjadi ejakulasi. Tahap ini berlangsung sekitar 3 atau 4 detik, dan meskipun dia menahan semua gerakan penisnya, dia mengetahui ejakulasi segera terjadi. Tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghentikannya. Gerakan ini diikuti dengan perasaan hangat di sepanjang penis karena aliran terminal bergerak dari daerah di dalam pinggulnya ke bagian atas penis. Kemudian tiga sampai enam kontraksi otot di bagian dasar penis mendorong keluarnya cairan terminal, dan otot-otot di bagian paha serta perut bagian bawah menegang. Selama periode ini, dia mungkin menekan si wanita erat-erat ke tubuhnya. Tahap kritis dengan kontraksi lebih sedikit itu akhirnya berlalu. Segera setelah ejakulasi, kepala penis menjadi mengendur untuk sementara, dan perasaan hangat menjalar ke tubuh pria. Biasanya untuk relaksasi sepenuhnya, terjadi pengenduran dan tidur sejenak atau "kematian kecil" dalam bahasa Perancis, selama penis mengendur.

Dengan bertambahnya usia seorang pria, perubahan tertentu dalam respon seks bisa terjadi. Dia mungkin memerlukan waktu cukup lama untuk ereksi. Selama rangsangan pendahuluan, ereksi mungkin timbul tenggelam beberapa kali. Penis mungkin tidak dapat mengeras dan memerlukan waktu lama untuk ejakulasi. Setelah ejakulasi, periode membangunkan kembali nafsu seksual mungkin meningkat, sampai 24 jam. Perubahan ini beragam tingkatannya, beberapa pria tidak mengalami respon seks, sementara pria yang lain mengalami perubahan yang berarti. Penting bagi wanita mengetahui perubahan ini. Dia mungkin merasa karena pasangannya menjadi lebih lambat memberi respon seks, maka dia tidak lagi dicintai, atau pria itu menemukan wanita sudah tua, sehingga kurang puas dan tidak mudah terangsang. Hal ini bukan mustahil terjadi. Tetapi perubahan pun bisa karena peningkatan usia. Jika wanita memahami, maka hubungan mereka akan meningkat. Ini lebih baik lagi pada pasangan yang dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lain.

Respon seks wanita
Respon seks wanita dapat di bagi menjadi 4 tahap, antara lain: 1. Kenikmatan atau fase bangkitnya gairah.
2. Fase Plateu.
3. Fase orgasme.
4. Fase resolusi.
Fase-fase ini menjelaskan respon seks, tetapi tentu saja berkelanjutan dengan fase berikutnya dalam kehidupan nyata.

Fase kenikmatan: Fase ini dimulai dari hubungan kontaks tubuh dengan pria, bukan oleh rangsangan seksual meskipun pandangan terhadap pria yang menarik memainkan peranan. Bangkitnya gairah seks bervariasi tergantung waktu. Banyak wanita mengalami minat seks yang tinggi pada saat-saat tertentu, seperti pada pertengahan siklus atau sebelum dan selama haid. Tetapi tidak ada pola yang konsisten dapat ditemukan. Tradisi mempercayai, hubungan kelamin selama haid berbahaya karena jaringan lebih rapuh terhadap infeksi. Tetapi sebab yang sebenarnya adalah hukum Yahudi lama yang menyatakan wanita tidak bersih selama haid. Tidak ada alasan medis mengapa wanita yang menginginkan hubungan kelamin selama haid tidak boleh mengadakan hubungan seks. Jaringan tubuh sebenarnya tidak rapuh dan infeksi belum tentu terjadi. Jadi, tidak ada bahaya dan wanita itu juga bersih.

Fase kenikmatan seorang wanita tergantung pada kelambatan mencapai puncak, yang lebih lama dari pria. Selama itu, klitoris bereaksi dan areola di sekitarnya membengkak. Ukuran klitoris juga meningkat, khususnya dalam hal lebar dan di sekitar bibir-bibirnya. Saluran vagina menjadi lebih halus dan tebal karena dipenuhi darah yang membentuk benjolan halus. Perubahan ini beragam tingkatnya dari satu wanita dengan wanita yang lain.

Di saat yang sama ketika hal itu terjadi, cairan memasuki jaringan pinggul. Vagina menjadi lebih halus dan beberapa cairan masuk ke lapisan sel-sel tipis yang membentuk dinding vagina, sehingga vagina menjadi basah. Dua kelenjar kecil yang terletak di sekitar jalan mesuk ke vagina juga mengeluarkan cairan, sehingga vagina dan jalan masuknya menjadi basah dan licin. Jika pria berusaha memasukkan penis sebelum cairan itu dikeluarkan dan dan menjadi basah, maka hubungan seksual akan menyakitkan. Itulah salah satu alasan mengapa pria merangsang dengan mencium dan menyentuhnya, sampai wanita itu terangsang secara seksual. Di saat yang sama, jaringan yang mengelilingi bagian bawah dari 1/3 vagina membengkak oleh darah, sehingga rasa lembut, hangat, dan bentuk bergelombang halus dirasakan oleh penis pria ketika memasuki vagina.

Fase plateu: Sekarang wanita itu memasuki fase plateu --> dan jika dia cukup peka, maka akan merasakan penis yang bereaksi di dalam vaginanya yang basah. Bahkan jika pria tidak peka terhadap kebutuhan seksual wanita, secara fisik wanita dapat memerima penisnya tanpa rasa sakit, meskipun dia akan menolak dan menegangkan vagina.


Dalam survei baru-baru ini, banyak wanita mengatakan bagian yang menyenangkan dari hubungan seksual, terpisah dari orgasme itu sendiri, adalah perasaan ketika penis memasuki vagina. Begitu juga kontak yang lebih dekat antara tubuh keduanya bisa merangsang daerah klitoris secara langsung, yaitu ketika gerakan penis, dengan menggerakkan bibir-bibir vagina, merangsangnya secara tidak langsung. Rangsangan bisa membawanya kepada orgasme. Sekitar 1 di antara 3 wanita mencapai orgasme pada saat penis masuk ke dalam vagina, sebelum pria mencapai ejakulasi, bersamaan dengan orgasme pria atau segera sesudahnya. Tetapi jika wanita tidak mengalami orgasme pada saat itu, dia mungkin menginginkan pria membantunya mencapai orgasme dengan mengusap daerah klitoris secara lembut atau mengusap dengan lidah dan bibir. Ini disebut cunnilingus. Wanita mungkin lebih senang mengalami orgasme sebelum mereka memulai senggama, atau setelah pria mengalami ejakulasi, tergantung pada suasana hati mereka berdua.

Kapan pun wanita mengendalikan, seharusnya memberitahu pasangan tentang gerakan tangan atau lidah yang paling merangsang, dan gerakan yang paling tidak disukai. Pada umumnya wanita lebih suka dirangsang di bagian klitoris daripada di bagian ujung atau kelenjar, dan rangsangan oleh jari terasa lebih nyaman jika daerah itu sudah basah. Dia seharusnya memberitahu pasangannya apa yang diinginkan, dan pria seharusnya mengetahui apa yang paling menyenangkan bagi wanita. jadi dia bukan hanya mengasumsikan apa yang paling disukai wanita itu.

Fase orgasme: Sulit menjelaskan orgasme. Karena setiap orang merasa dan menerima orgasme secara berbeda. Penjelasan yang diberikan beberapa wanita menunjukkan, orgasme adalah perasaan nikmat yang tertinggi dari bangkitnya nafsu seks. Perasaan ini biasanya dimulai dari bagian pinggul, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Selama orgasme, perasaan wanita berpusat pada sensasi, dan sebagian besar pada pengeluaran sesuatu. Ini dimulai pada saat-saat ketegangan yang tidak terkontrol, nikmat, pelepasan ketegangan mental, dan kelegaan.

Orgasme disebabkan oleh suatu refleks. Rangsangan di daerah klitoris baik secara langsung ketika wanita bermasturbasi, atau dirangsang secara tidak langsung oleh gerakan penis ketika memasukkan ke dalam vagina, membuat pesan dikirim ke dalam sumsum tulang belakang. Di sumsum tulang belakang, refleks ini terjadi dan pesan diedarkan ke seluruh syaraf yang mengendalikan otot-otot pinggul. Tetapi apakah pesan ini seluruhnya diedarkn, ditingkatkan intensitasnya atau dihentikan, tergantung tingkat kontrol oleh otak wanita terhadap refleks. Wanita yang tidak terbiasa dengan seks, biasanya akan menambah kesan itu dan mencapai orgasme. Tetapi jika dia tidak menyukai perasaan, pria itu memanfaatkannya, dia mungkin gagal mencapai orgasme selama persenggamaan, meskipun dia dapat mencapai orgasme dan berfantasi ketika bermasturbasi.

Orgasme seorang wanita biasanya dihubungkan dengan gerakan kejutan di daerah paha dan otot pinggul seperti pada pria. Tetapi beberapa orang wanita tetap berdiam dan kaku selama orgasme. Orgasme seorang wanita berbeda dengan orgasme pria, karena tidak ada ejakulasi. Berlawanan dengan keyakinan umum, wanita tidak selalu harus melengkungkan punggungnya atau berteriak selama orgasme. Otot rahim dan vagina berkontraksi, dan beberapa wanita mengalami orgasme yang lebih kuat ketika penis berereksi di dalam vagina pada saat tertentu, sehingga dapat dijepit dan dilepaskan oleh otot-otot vagina yang berkontraksi.

Pada hampir semua orgasme, dorongan orgasme dimulai dengan refleks yang ditimbulkan rangsangan pada klitoris, meskipun pesan tambahan mungkin berasal dari rangsangan pada vagina. Namun pada semua orang, orgasme dinyatakan dengan kontraksi otot-otot pinggul, termasuk otot vagina, dan dirasakan sebagai kenikmatan oleh daerah tertentu di otak. Banyak wanita yakin, pria memberikan mereka orgasme dan jika wanita gagal mencapai orgasme selama hubungan seks, berarti dia tidak feminin dan pasangannya pun merasa tidak jantan. Wanita memalsukan orgasme agar pria tidak merasa tidak jantan atau wanita itu sendiri tidak feminin. Dengan pendekatan lebih terbuka terhadap seksualitas wanita, kini diketahui wanita yang gagal mencapai orgasme selama persenggamaan tidak mengalami kelainan seks, dan tidak seharusnya memalsukan orgasme.

Hampir setiap wanita dapat mencapai orgasme dengan bermasturbasi, atau dengan rileks dan yakin terhadap hubungannya untuk memberitahu pasangan terhadap kebutuhan, sehingga pasangan dapat membantu mencapai orgasme dengan perangsangan. Dalam hubungan yang saling mengisi, pria harus bersedia dan senang merangsang wanita secara seksual dengan cara yang diinginkan si wanita. Idealnya wanita tidak merasa malu meminta pasangan untuk melakukan hal ini, juga kekasih yang peka tidak seharusnya menolak. Tetapi banyak wanita merasa malu untuk meminta, sehingga kenikmatan seksual mereka berkurang.

Fase resolusi: Pada pria dan wanita, kontraksi otot konklusif dan kenikmatan orgasme diikuti dengan relaksasi. Tetapi berbeda dengan penis pria, biasanya klitoris tidak mengendur, dan beberapa wanita dapat mencapai satu orgasme setelah orgasme yang lain, tanpa selingan. Banyak wanita merasa cukup dengan hanya satu kali orgasme. Dalam lima sampai sepuluh menit pertama dari fase resolosi, jaringan vagina dan vulva kehilangan cairan yang akan membasahi vagina. Tetapi jika wanita dirangsang kembali secara seksual, maka dia dapat terangsang dan mengalami orgasme yang lain pada jarak waktu lebih pendek daripada pria. Sebaliknya, jika wanita dirangsang pada fase plateu tetapi tidak dibantu mencapai orgasme, atau tidak bermasturbasi untuk membantu mencapai orgasme, maka fase resolusi sering menjadi lama dan ketegangan jaringan vagina lambat untuk dipulihkan.

Rangsangan yang berulang dan kegagalan mencapai orgasme bisa menyebabkan frustasi fisik dan mental. Mungkin juga menyebabkan keluhan ginekologis yang bersifat psikosomatis. Karena alasan ini, dan juga alasan cinta dan kasih sayang, pria dapat membantu pasangannya mencapai klimaks yang diinginkan. Sekitar 40% wanita mencapai orgasme pada setiap episode hubungan kelamin, dan satu dari setiap tiga wanita dalam kelompok ini dapat memcapai beberapa kali orgasme. Sekitar 50% wanita kadang-kadang mencapai mencapai klimaks selama hubungan seks, dan dicapai jika klitoris dirangsang dengan jari atau dengan lidah pria, sebelum atau sesudah pria itu mencapai orgasme, atau jika wanita bermasturbasi. Hanya sekitar 10% wanita sangat jarang atau tidak pernah sama sekali mencapai orgasme pada setiap senggama. Oleh karenanya komunikasi antara keduanya (pria dan wanita) sangat penting untuk memecahkan hal tersebut.


TAMAT

NAMA ANDA - 08.33

Kamis, 10 Januari 2013

Masalah Pada Wanita

Kamis, 10 Januari 2013


Mustahil untuk memastikan banyaknya masalah seksual yang bisa merusak suatu, karena sampai sekarang, orang malu mencari bantuan. Wanita yang mengalami hambatan nafsu seksual tidak dapat terangsang secara seksual, meskipun dirangsang oleh pasangannya atau dengan fantasi. Karena itu, dia tidak dapat mengadakan hubungan seks dengan layak.

Pada wanita, ditemukan empat masalah seksual.

Pertama, Hambatan nafsu seksual. Wanita yang mengalami hambatan nafsu seksual tidak menginginkan atan menikmati seks. Tetapi dia mengijinkan pasangannya untuk bersenggama dengannya, sebagai suatu kewajiban. Wanita yang lain mungkin sangat cemas dengan gagasan bersenggama sehingga menolak atau membuat alasan untuk menghindarinya.

Kedua, Hubungan seks menyakitkan sehingga manghambat atau menyebabkan kekecewaan mendalam yang tidak akan pernah dapat dinikmati. Masalah ini disebut dyspareunia, yang berarti senggama yang menyakitkan. Apabila wanita merasa sangat sakit ketika penetrasi/pemasukkan kemaluan pria ke dalam vagina, dan menolak dengan menegangkan otot-otot sekeliling saluran masuk ke vagina, maka kondisi ini di sebut vaginismus.

Ketiga, Meskipun mempunyai nafsu seksual normal, setidaknya dia mempunyai fantasi atau mimpi seks namun dalam kenyataan dia gagal atau tidak bisa terangsang oleh pasangannya selama perangsangan seksual. Karena itu, vagina tidak mengalami pembasahan, dan jaringan lembut pada jalan masuk ke vagina tidak berkembang. Pada saat senggama berlangsung, dia sedikit saja atau tidak merasakan kenikmatan erotis sama sekali, meskipun mungkin dapat menikmati bentuk rangsangan yang lain dari pasangannya. Masalah ini disebut libido menurun

Keempat, Wanita itu tidak dapat mencapai orgasme. Dengan kata lain dia mengalami disfungsi orgastik. Istilah ini perlu diterjemahkan secara hati-hati. Berapa ahli terapi seks percaya, semua wanita yang gagal mencapai orgasme selama senggama mengalami disfungsi orgastik. Wanita tidak disebut mengalami disfungsi orgastik apabila dia biasanya mengalami orgasme selama percumbuan, baik dengan masturbasi, ketika pasangannya memasukkan kemaluan ke dalam vagina, atau ketika dirangsang sebelum atau sesudah pasangannya mencapai orgasme. Wanita yang melakukan masturbasi sendiri hingga mencapai orgasme tidak disebut mengalami disfungsi orgastik, meskipun ketika bersama pasangannya dia tidak mencapai orgasme. Wanita itu tidak sakit atau frigid.

Yang disebut mengalami disfungsi orgastik adalah wanita yang tidak pernah sama sekali mencapai orgasme dengan rangsangan apapun. Jadi penting untuk diingat, banyak wanita mencapai kenikmatan dan kehangatan emosional dari kedekatan dan keintiman senggama, meskipun tidak mencapai orgasme. Berbagai artikel majalah yang menekankan kebutuhan untuk menjadi wanita yang sesungguhnya dengan mencapai orgasme, terlalu berlebihan. Yang seharusnya ditekankan adalan wanita yang mencapai kedekatan emosional dan kebahagiaan selama senggama akan mencapai kenikmatan yang lebih besar jika mereka dibantu oleh pasangannya untuk mencapai orgasme.

Jika anda mengalami orgasme, dengan metode apapun berarti anda normal. Jika anda tidak mencapai orgasme selama senggama tapi mencapainya ketika pasangan merangsang anda atau dengan masturbasi, andapun normal. Orgasme yang dicapai selama senggama tidak lebih baik atau lebih normal daripada yang dicapai dengan cara lain. Tetapi jika anda tidak mencapai orgasme dengan pasangan atau malu untuk mencapai orgasme dengan masturbasi dan anda takut melakukan, anda dapat dibantu.

Wanita dengan satu atau lebih masalah seksual di atas sering disebut frigid. Istilah ini seharusnya ditinggalkan. Istilah frigid menyatakan bahwa wanita itu yang karena kondisi bawaan tertentu, tidak pernah dapat memberikan respon seks secara penuh, tidak benar. Dengan konselor atau bantuan seorang pasangan, wanita umumnya dapat terangsang dan hampir semua mencapai orgasme. Ada perbedaan kecepatan perubahan, wanita yang tidak dapat terangsang secara seksual lebih sulit dibantu ketimbang wanita yang terangsang tetapi gagal mencapai orgasme.

Penyakit, obat-obatan dan alkoholisme dapat menyebabkan masalah seksual pada beberapa wanita. Tetapi hampir separuh dari wanita mengalami kegagalan orgasme seksual disebabkan oleh masalah psiko-seksual, yang biasanya dapat disembuhkan dengan bantuan pasangan mereka atau mungkin oleh bantuan seorang konselor. Ada beberapa alasan mengapa sejumlah wanita mengalami masalah seksual, dan dalam berbeda masalahnya pun berbeda.

Sebab-sebab karena pengaruh psiko-seksual

Hubungan yang buruk
Jika sepasang kekasih merasakan permusuhan terhadap pasangannya dan tidak dapat membicarakan masalahnya secara terbuka, maka dapat terjadi ketidak harmonisan perkawinan, dengan berkurangnya keinginan dan rangsangan seksual. Sebab lain disfungsi seksual adalah, jika pasangan ini tidak dapat menyampaikan secara terbuka tentang kebutuhan dan keinginan seksual mereka. Sebagai contoh, hanya wanita bersangkutan yang dapat memberitahu pasangan, apa yang dapat membuat gairah seksnya bangkit, pria (atau wanita) tidak dapat mengetahui secara naluriah dan setiap wanita mempunyai respon seks berbeda.

Tanpa komunikasi yang baik, masalah seksual dapat menjadi besar. Jika pria tidak memahami kebutuhan seks wanita, dan menggunakan teknik yang buruk untuk membantu terangsang, maka hasilnya adalah antagonisme dan menurunnya seksualitas bersama. Tergantung baik buruknya hubungan tersebut, wanita mungkin akan menghambat respon seksnya sendiri, atau menerima rangsangan seks dari pria meskipun dia kurang menikmati.

Ketidaktahuan
Didikan yang salah di masa anak-anak oleh orang tua yang keras dan bersifat menghambat secara seksual, membuat seorang gadis percaya terhadap standart ganda seksualitas, menerima tuntutan dari orang tua secara pasif, dan tidak mempunyai harapan akan kenikmatan seksual. Akibatnya nafsu seks berkurang dan menambah keyakinan bahwa seks adalah kewajiban yang harus dibayarkan kepada seorang pria agresif yang penuntut. Jadi, bukan kenikmatan yang dinikmati bersama.
Banyak wanita yang percaya dengan mitos seksual sebagai berikut:

  • Wanita seharusnya siap menerima seks dari suami, baik dia menginginkan atau tidak.
  • Orgasme yang bersamaan penting untuk kepuasan seksual yang sesengguhnya.
  • Pria mengetahui bagaimana merangsang seorang wanita, dan jika wanita tersebut gagal terangsang, maka ini adalah kesalahan wanita itu sendiri.

Perasaan bersalah dan malu
Beberapa orang tua mengajarkan anak gadisnya untuk mempercayai seks adalah kegiatan yang memalukan, di mana seseorang berbuat sekehendak hatinya. Dalam keluarga seperti ini, seks tidak pernah dibicarakan terbuka, dan informasi (lebih tepatnya, informasi yang salah) diperoleh dari teman-teman seusianya secara bisik-bisik. Jika orang tua menganggap bagian tubuh manusia kecuali wajah, tangan dan kaki yang terbuka, tidak patut dibicarakan dan menghukum anaknya yang berusaha mencari tahu tentang hal itu, atau tidak menjawab dengan masuk akal keingintahuan alamiah dari anak tentang seks dan reproduksi manusia, maka anak itu akan menganggap seks adalah soal yang memalukan dan harus diabaikan. Ini dapat mempengaruhi sikap terhadap anak di kemudian hari.

Sikap sebaliknya, dapat pula menimbulkan rasa malu. Gadis-gadis modern dan banyak membaca buku seks serta membicarakan secara terbuka dapat mengalami kekurangan nafsu seksual. Dalam masyarakat modern, keberhasilan dipuji. Jika berhasil dalam kehidupan seksual yang berarti tercapainya orgasme pada setiap episode senggama, maka keberhasilan akan meninggalkan kaum wanita. Hal ini bukan karena kaum wanita kurang nafsu seks dan kemampuan mencapai orgasme selama bertahun-tahun. Seorang wanita yang gagal mencapai keberhasilan seksual dengan orgasme menjadi malu, sebab merasa dirinya tidak mampu. Rasa malu ini semakin mengurangi nafsu seksual dan dijadikan pedoman bagi kegagalan berikutnya.

Ia menjadi cemas dengan kemampuannya menanggapi seks, oleh orang amerika disebut performance anxiety. Untuk menghindari bertambahnya kecemasan, dia menekan nafsu seksualnya (dengan kata lain libidonya berkurang) atau menghambat respon seksnya (dengan kata lain gagal mencapai orgasme).

Selama senggama, wanita dapat meningkatkan kesadaran seksual dengan memusatkan pikiran pada hal-hal yang dapat membangkitkan gairah. Tetapi jika dia selalu berpikir betapa memalukan tindakan itu, dan pernah tidak mampu mencapai orgasme, maka nafsu seksnya semakin berkurang justru karena kecemasan yang terlalu berlebihan. Perasaan kurang mampu dapat pula diperbesar oleh bacaan-bacaan dan film. Buku dan film-film itu menggambarkan langit akan penuh dengan bintang-bintang gemerlapan dan musik berdenging di telinga ketika seorang wanita mencapai orgasme. Akibatnya para gadis mengharapkan pengalaman yang sama ketika suatu saat mencapai orgasme, rasa nikmat menyelimuti seluruh tubuhnya. Tetapi tidak sesuai dengan kenyataannya, tidak ada bintang-bintang gemerlapan atau musik berdenging. Ia merasa telah gagal, dan konflik pun muncul dalam pikirannya. Konflik yang disebabkan keyakinan yang salah secara bawah sadar mengurangi nafsu seksualnya, sehingga dia sengaja menghidari rasa sakit dan malu karena kegelian.

Rasa kegagalan seksual bertambah dengan pengetahuan bahwa dia dapat mencapai orgasme bila pasangannya memberi rangsangan erotik atau dia bermasturbasi. banyak wanita dibesarkan dengan keyakinan masturbasi atau perangsangan adalah hal yang memalukan. Mitos ini juga dipercaya oleh banyak pria. Yang benar, orgasme adalah orgasme, bagaimana pun yang di hasilkannya.

Kesehatan yang buruk dan kelesuan
Beberapa masalah seksual disebabkan oleh penyakit fisik atau mental, termasuk depresi. Walaupun kesehatan yang buruk jarang menjadi penyebab disfungsi seksual dibanding penyebab-penyebab yang lain. Ketika berusaha memecahkan masalah seksual, konselor mula-mula memastikan tidak ada penyakit fisik atau mental, dan menanyakan apakah dia pernah minum obat yang dapat mengurangi kepekaan seks.

Faktor penyebab yang cukup sering ditemukan adalah kelesuan. Kelesuan dihubungkan dengan berkurangnya nafsu dan kemampuan seks pada banyak orang. Di masyarakat kita, wanita bisa menjadi lebih lemah dari pria karena mengalami banyak tekanan fisik dan emosional. Selain kewajiban membesarkan anak-anak dan menjaga rumah, di saat yang sama dia sering harus bekerja di kantor, menghadapi tuntutan bertetangga dan bersosialisasi. Akibatnya, dia menjadi sangat lelah untuk menanggapi seks.


Apa yang harus dilakukan?

Jika wanita mengalami dyspareunia mungkin ada sebuah penyebab lokal. Konselor akan memastikan apakah dia tidak menderita candidosis atau
-->endometriosis yang membuat senggama terasa menyakitkan. Pada kebanyakan kasus dyspaureunia, dan dalam semua kasus vaginismus, sumber masalah adalah psikologis yang bisa diperburuk oleh pasangan yang tidak pengertian. Banyak wanita yang masih percaya bahwa senggama itu menyakitkan atau tidak mungkin, karena vagina mereka berukuran terlalu kecil dan kemaluan pria terlalu besar. Pria dapat memperkuat keyakinan ini jika gagal merangsang wanita, sehingga ketika berusaha memasukkan kemaluan ke dalam vagina, vagina belum cukup basah.


Banyak wanita yang tidak mengetahui anatomi alat kelamin mereka. Tidak tahu di mana letak clitoris, atau bagaimana labia mengelilingi vagina. Tidak pernah melihat bentuk vulva di cermin sehingga tidak mengetahui seperti apa bentuknya. Keyakinan dan kegagalan ini menghasilkan rasa takut bahwa senggama akan menyakitkan dan merusak dirinya. Tetapi dengan pemahaman dan bantuan pasangan, setiap wanita yang mengalami vaginismus dapat disembuhkan.

Solusi masalah berkurangnya nafsu seks (libido rendah) dan kagagalan orgasme (disfungsi orgastik) jauh lebih rumit. Jika pasangan tidak mempunyai hubungan emosional yang cukup, mereka tidak dapat berhubungan secara seksual. Jika wanita tidak yakin tentang hubungannya dan merasa terganggu dengan keinginan seks, serta mempunyai pasangan yang mengalami hambatan seksual dan emosi yang tertutup, sulit mencapai komunikasi seksual dengan pasangannya. Akibatnya, pasangan tidak dapat memahami bahwa dia mempunyai masalah yang tidak dapat di bicarakan.

Pria biasanya mengetahui jika dirinya terangsang secara seksual dan tahu cara mencapai orgasme, yang seringkali dicapai dengan cepat. Tetapi mereka sering lupa membantu pasangan mencapai kenikmatan seksual yang sama. Mereka mengabaikan kenyataan bahwa wanita mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai tahap kebangkitan gairah seks, sehingga menjadi tanggung jawabnya sebelum wanita itu siap. Karena hambatan dalam menyampaikan kebutuhan seksual ini, wanita tidak dapat meminta pria untuk membantu mencapai orgasme dengan merangsangnya, dan pria itu sendiri terlalu acuh tak acuh untuk mengambil inisiatif.

Hasil penelitian menyebutkan, dalam penyelesaian masalah seksual biasanya dibutuhkan keterlibatan kedua belah pihak. Masalah seksual seorang wanita hanya dapat dipecahkan juka pasangannya siap membantu dengan tulus dan cinta.

Dengan kerjasama dari pasangan dan dengan bantuan seorang konselor penyembuhan menjadu mungkin. Mula-mula konselor memastikan bahwa wanita itu tidak mempunyai penyakit yang dapat mengurangi nafsu seksnya. Langkah selanjutnya adalah menemukan apa yang dapat membuat wanita itu sulit mengalami rangsangan seksual, sehingga dia menjadi sadar diri secara seksual, dan pasangan dapat mengetahui kebutuhan seksnya. Konselor berusaha membantu pasangan tersebut mencapai suasana yang santai dan merangsang, di mana mereka dapat belajar memberikan kenikmatan pada pasangannya. Dalam lingkungan seperti ini, tanpa tekanan untuk melakukan hubungan kelamin, nafsu seks wanita biasanya menjadi bangkit kembali. Pada mulanya tidak terlalu kentara, tetapi dengan berjalannya waktu, kenikmatan meningkat. Hanya pada saat benar-benar terangsang, barulah pasangan itu berusaha untuk senggama.

Beberapa wanita sangat ingin memberikan kenikmatan seksual kepada pasangannya meskipun mereka sendiri tidak terangsang, baik selama percumbuan atau selama senggama. Jika wanita itu merasa senang dan pasangannya juga puas, janganlah merasa kurang feminin dibandingkan wanita yang dapat menanggapi rangsangan seksual secara penuh.

Masalah kegagalan mencapai orgasme dapat diatasi dengan teknik percumbuan serupa, tetapi dapat melalui tahap-tahap belajar yang lebih cepat. Seringkali pria harus mempelajari teknik rangsangan agar wanita bisa mencapai orgasme. Yang penting pihak wanita memberitahu apa yang dapat membuatnya puas secara seksual. Jadi, tidak hanya membiarkan pria melakukan apa yang dirasa dapat memberi kepuasan kepada wanita. Di sini pihak wanita menjadi pengarah dan mempunyai wewenang terhadap sebagian besar tindakan yang dapat merangsangnya.

Masalah disfungsi orgastik diatasi dengan lebih mudah oleh sebagian wanita dengan masturbasi. Mereka menggunakan fantasi sebagai rangsangan erotis, bukan dirangsang secara erotis oleh pasangannya. jika metode ini gagal membantu wanita mencapai klimaks, konselor menyarankan pemakaian vibrator, dengan metode apapun, untuk memcapai orgasme secara teratur. Dibantu pasangan yang simpatik, lembut dan kooperatif, umumnya wanita yang gagal mencapai orgasme dan kebanyakan mereka yang tidak terangsang secara seksual, menemukan respon seksnya meningkat dan mencapai orgasme secara teratur.


TAMAT

NAMA ANDA - 08.54